Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PETUALANGAN WIRO DINEGERI SAKURA/JEPANG

SUARA siulan Pendekar 212 berhenti, berganti dengan decak penuh kagum. Saat itu dia berada di kaki Gunung Fuji, memandang gunung berketinggian lebih dari 11.000 kaki yang sebagian besar dikelilingi salju abadi.
Wiro rapatkan kerah baju tebalnya. Musim dingin segera berakhir namun di kaki gunung, udara seperti tidak mengalami perubahan walau matahari tampak terang benderang. Di sekelilingnya pohon-pohon Sakura bertebaran. Kebanyakan tertutup salju tipis.

Dari dalam saku baju Wiro keluarkan sebuah botol terbuat dari kaleng putih, lalu membuka tutupnya dan meneguk isinya.

Wajahnya yang tadi pucat, kini tampak kemerahan. "Kalau saja aku bisa dapatkan tuak, rasanya pasti lebih segar dari sake ini. Tapi masih untung masih ada sake dari pada tidak sama sekali, bisa mati kedinginan, Uhh...!"

Wiro masukan botol minuman ke sakunya. Ketika hendak meninggalkan tempat, langkahnya terhenti oleh suara kaki kuda. Wiro berpaling dan melihat seekor kuda coklat polos tak berapa jauh dari dirinya. Seekor binatang liar yang kesasar. Tapi ketika mendekat, ada pelana. Berarti dugaannya salah. Wiro dekati kuda coklat tadi. Langkahnya terhentak ketika melihat noda merah di pelana dan badan kuda. Ketika memperhatikan tanah, juga terdapat bercak merah. Bercak darah!

Pendekar 212 melangkah menuju arah darah di tanah. Noda itu lenyap di dekat serumpunan belukar basah. Dia kembali ke arah semula dan melacak darah dari arah kiri. Darah itu ternyata menuju ke arah Gunung Fuji yang menjadi tujuannya. Kuda itu masih menggesek-gesekan lehernya tapi tidak meringkik lagi. Wiro melangkah mendekati, usap-usap leher dan memperhatikan bercak darah di pelana. Wiro mengusap bercak di pelana lalu memperhatikan. Memang bercak darah.

Dengan dedaunan yang dipetik di sekitar situ, Wiro bersihkan noda darah, lalu dengan menepuk leher kuda, ia berujar, "Sobatku kau tentu sebelumnya membawa tuanmu yang terluka. Tapi entah di mana dia sekarang. Saat ini biar aku yang menjadi tuanmu. Antarkan aku ke Gunung Fuji," setelah itu pendekar 212 langsung melompat ka atas pelana dan menuju ke arah timur.

Walaupun jalan mendaki dan licin, namun karena mengikuti jalan kecil yang sudah dibuat orang sebelumnya, kuda coklat itu mampu berlari cepat. Ketika matahari tepat berada di atas Wiro, ia telah berada ratusan kaki ke arah timur. Di sebuah ujung terlihat rumah kayu. Di serambinya yang luas tampak empat sosok tengah mengelilingi tubuh yang terbaring di lantai, berbantalkan kain tebal. Ketika mendengar suara kuda mendekati, keempat orang itu segera berpaling. Dua orang melompat, dan yang seorang berseru. "Pembunuh itu berani datang lagi!"

Dua orang menggerakkan tangannya ke punggung. Terdengar suara gemeresek hampir bersamaan.

Dua orang tadi sudah berada di halaman rumah yang tertutup salju tipis. Tangan keduanya sudah memegang sebilah katana (pedang panjang) yang berkemilau terkena sinar matahari.

Saat Wiro sampai di hadapan mereka, kedua orang itu sudah siap menyerang. Dua bilah pedang berkelebat. Pendekar 212 berseru lalu meloncat dari atas pelana kuda. Dua katana menderu, dan kuda coklat itu meringkik saat dua sabetan mengenai tubuh kuda. Darah mengucur dari leher dan tubuh kuda sambil terus menjauh menuju ka arah barat.

"Tunggu dulu!" seru Wiro ketika melihat dua pemuda sedang menghadang dan siap menyerangnya.

Kedua pemuda itu sesaat tampak ragu, tapi akhirnya mereka menghentikan langkah. Sesaat mereka saling berpandangan lalu memperhatikan Wiro penuh curiga. Sementara itu dari dalam rumah terdengar suara halus bergetar.

"Apa yang terjadi murid-muridku...?"

"Sensei! Kau tak boleh bicara. Kau terluka berat!" yang menjawab adalah seorang gadis berwajah bulat yang rambutnya dikuncir sebahu. Yang bertanya tadi adalah seorang tua dengan kimono biru gelap dan terbaring di lantai serambi. Bagian tubuhnya dibalut dengan kain tebal. Kain ini tampak basah oleh darah! Ternyata si orang tua sedang menderita luka cukup parah. Kedua orang yang dari tadi berada di sana sudah sadar jika yang dipanggil sensei itu sulit disembuhkan. Namun nyatanya masih bisa mengeluarkan suara.

"Aku bertanya apa yang terjadi Akiko...?"

Gadis bernama Akiko yang duduk sambil mengusapi kening gurunya yang terluka parah itu menahan nafas sesaat lalu dekatkan kepala ke telinga orang tua itu. "Salah seorang dari pembunuh itu datang lagi, sensei..."

"Pembunuh itu datang lagi katanya...? Tidak mungkin... Tidak mungkin Akiko!" Dengan mata yang masih tertutup, orang tua yang dipanggil dengan sebutan sensei ini berkata pada muridnya yang satu. "Ichiro, apa betul yang dikatakan Akiko tadi?"

Pemuda di samping kanan seorang tua memandang ke arah halaman di mana dua saudara seperguruannya dengan katana dalam genggaman dua tangan, tengah menghadapi seorang pemuda yang barusan melompat dari kuda. "Memang ada yang datang sensei. Pakaian dan kuda yang ditungganginya sama dengan salah seorang pembunuhmu. Namun aku meragukan dugaan dua saudara. Orang yang datang ini adalah Gaijin... (sebutan untuk orang asing)."

"Gaijin... Orang asing maksudmu?" Orang tua yang terbaring berbantalkan gulungan kain batuk-batuk beberapa kali. Dari sela bibirnya tampak ada darah yang keluar.

Akiko cepat menyeka darah itu dengan sehelai sapu tangan seraya berbisik. "Sensei, jangan bicara lagi..."

Tapi si orang tua tidak perdulikan. "Aku ingin melihat siapa yang datang. Aku memang tengah menunggu seseorang sejak tiga tahun lalu.."

Lalu, walaupun dengan susah payah, orang tua itu berusaha mengangkat kepalanya. Namun lehernya terkulai dan kepalanya jatuh kembali ke atas gulungan kain. "Sensei...!" Akiko terpekik.

"Anak-anak..., bawa aku ke dojo (ruangan tertutup tempat berlatih silat)... Kalau aku memang ditakdirkan harus mati, aku ingin mati di ruang latihan itu..."

"Baik sensei, kami akan lakukan apa yang kau minta..." jawab Ichiro.

Sementara itu di halaman rumah yang tertutup salju tipis, salah seorang pemuda yang memegang katana tukikkan ujung pedangnya hampir mencium panah. Dalam ilmu pedang di Jepang, ini merupakan salah satu kedudukan senjata yang sangat berbahaya. Karena ujung pedang yang kelihatannya jauh dari sasaran itu tiba-tiba bisa melesat membabat kaki, pinggang atau perut, bisa juga menebas leher atau menghantam kepala!

"Pemuda asing! Katakan siapa dirimu?! Apa keperluanmu datang ke mari?!"

"Namaku Wiro Sableng! Aku datang untuk menemui Horoto Yamazaki, seorang tua yang bergelar Pendekar Pedang Matahari!" jawab Wiro. Lalu dia melirik ke arah serambi rumah di mana dia melihat ada seorang tua terbaring didampingi seorang gadis dan seorang pemuda. Wiro menduga, orang tua itu pastilah orang yang hendak ditemuinya. Apa yang tengah terjadi di serambi sana?

Kemudian pemuda di samping si orang tua tambak berdiri dan berteriak. "Kunio! Kenichi! Bantu kami menggotong sensei ke ruang latihan!" Dua pemuda yang tengah menghadang Pendekar 212 Wiro Sableng menatap tajam ke arah Wiro lalu keduanya saling memberi isyarat. Yang satu segera berbalik dan lari ke arah serambi. Satunya lagi menyusul, namun sebelum pergi sempat berkata.

"Pemuda asing! Tetap di tempatmu! Jangan kau berani bergerak, walaupun hanya satu langkah!"

Wiro tidak menjawab, tapi dalam hati dia berkata. "Setan! Jauh-jauh aku datang ratusan ribu langkah, sampai di sini malah diperintah tidak boleh melangkah!" Ketika pemuda itu berlari ke serambi, tanpa peduli Wiro melangkah pula ke arah bangunan.

Empat orang murid menggotong sensei mereka ke dalam dojo Di sebelah dalam ternyata bangunan itu luas sekali dan memiliki tempat latihan beralaskan tatami (alas lantai berbentuk kotak-kotak).

Berbagai macam senjata terdapat di sudut-sudut dan dinding ruangan.

Sang guru dibaringkan di tengah dojo, di atas sebuah kasur jerami. Ketika itulah keempat murid menyadari bahwa ada orang lain di ruangan itu. Mereka berpaling ke arah pintu dojo dan keempatnya menjadi marah. "Gaijin kurang ajar!" membentak Kunio Ota lalu melompat ke ambang pintu di arah mana Wiro tengah melangkah masuk. Sambil menghunus pedangnya, pemuda ini kembali menghardik. "Kami tidak mengundangmu masuk! Aku malah sudah memperingatkan agar kau tidak boleh bergerak satu langkah pun!"

Wiro menyeringai dan bungkukkan badan lalu berkata, "Shitsurei shimasu, ga... (maafkan saya, tapi) di luar sana dingin sekali. Lagi pula saya datang untuk menemui tuan rumah di sini..."

Telinga orang tua yang terbaring di atas kasur jerami mendengar suara Pendekar 212 Wiro Sableng.

Sebelum murid-muridnya yang marah melakukan sesuatu, orang tua ini cepat membuka mulut.

"Kunio, orang yang kau bentak itu... Apakah dia orang asing yang kau maksudkan...?"

"Betul sensei!" sahut Kunio Ota. "Dia telah berlaku lancang, masuk ke dalam ruangan ini!"

"Maafkan kalau ini tindakan yang kurang sopan!" Wiro menyahuti. "Namun saya datang dari jauh.

Dari negeri ribuan pulau di selatan untuk menemui tuan rumah! Bagaimana saya bisa menemuinya kalau bergerak satu langkah pun tidak diizinkan?!"

Tiga pemuda murid si orang tua bergumam marah. Hanya Akiko yang tampak tenang dan memandang ke arah Wiro tanpa emosi sama sekali. "Orang asing, mendekatlah ke mari..." orang tua itu tiba-tiba berkata.

Ketika Wiro melangkah, Kunio Ota masih berusaha menghalangi. Namun tubuh pemuda ini merasa ada hawa aneh keluar dari tubuh Wiro yang membuat tubuhnya terdorong dan kakinya terhuyung dua langkah. Begitu Wiro lewat, dia cepat-cepat menyusul namun tidak berani menghalangi lagi.

Wiro sampai di hadapan orang tua yang terbaring di atas kasur jerami. Merasakan orang sudah ada di dekatnya, orang tua itu membuka sepasang matanya yang sipit.

"Ah, kau memang pemuda asing Gaijin, katakan namamu! Dari mana kau datang, apa keperluanmu...?!"

"Saya Wiro Sableng. Saya datang dari Tanah Jawa, negeri seribu pulau jauh di selatan. Saya datang membawa pesan dan surat dari guru saya. Apakah saya..." Wiro untuk pertama kalinya melihat darah yang membasahi kain merah yang menutupi perut orang tua itu. "Astaga! Kau terluka parah orang tua!" seru Pendekar 212.

"Jangan perdulikan apa yang terjadi atas diriku. Teruskan ucapanmu... orang muda!" kata si tua.

"Apakah saya berhadapan dengan Yamazaki san? Seorang samurai besar dan jago pedang berjuluk Pendekar Pedang Matahari...?"

Orang tua itu tersenyum. Sepasang matanya membesar sedikit. "Samurai..." desisnya. "Pendekar Pedang Matahari..." sambungnya. "Semua itu nama besar yang tidak ada harganya lagi..."

"Sensei!" seru sang murid bernama Ichiro Loki. "Jangan berkata seperti itu!"

Hiroto Yamazaki alias Pendekar Pedang Matahari tersenyum kecut. "Hari ini aku si tua yang dulu begitu diagungkan kini sudah dikalahkan oleh dua orang lawan. Apa aku masih pantas menyandang semua nama besar itu? Pemuda asing siapa nama gurumu..?"

"Saya diutus oleh guru. Guru saya bernama Eyang Sinto Gendeng dari puncak Gunung Gede di Tanah Jawa sebelah barat..."

Mendengar keterangan pendekar 212 itu, untuk pertama kalinya muka pucat si tua berkimono itu tampak cerah. Dia tersenyum lebar. "Sungguh satu kehormatan sebelum mati aku bertemu dengan murid kawan lamaku. Anak muda, kalau kau benar murid Sinto Gendeng sahabatku itu, perlihatkan dulu tanda pengenalmu!"

Wiro yang sebelumnya sudah dipesan oleh guru Sinto, mendengar ucapan Yamazaki segera menyingkapkan baju tebal dan baju putih yang dikenakannya. "Ah..., inezumi (rajah atau tatto) itu 212.... aku percaya kau memang murid kawan lamaku," kata si orang tua begitu melihat angka 212 di dada Wiro. Namun kemudian ia menyambung. "Tapi tatto seperti itu mudah dipalsukan dan ditiru orang. Perlihatkan senjatamu..." Murid Sinto Gendeng meragu. Lalu ia selinapkan juga tangannya ke balik pakaian.

Begitu tangan kanan itu keluar dari balik pakaian maka berkelibatlah sinar putih perak menyilau di ruangan latihan itu. Empat murid Hiroto Yamazaki terkesiap melihat Kapak Maut Naga Geni 212 yang ada dalam genggaman Wiro. Belum pernah mereka melihat senjata mustika sedemikian mengesankan dengan sinar yang angker seperti itu.

"Kau memang murid sahabatku Sinto Gendeng..." kata Yamazaki . "Waktuku tidak lama lagi. Serahkan surat Sinto Gendeng yang kau bawa...!"

"Yamazaki-san .. surat akan saya berikan. Tapi bagaimana jika terlebih dahulu kamu mengizinkan aku memeriksa lukamu? Keselamatanmu lebih penting dari pada surat yang kubawa..."

Hiroto Yamazaki kembali sunggingkan senyum. Lalu membuka mulut. "Ada ujar-ujar yang mengatakan: Seorang kesatria baru menguasai sepenuhnya kehidupan seorang Samurai bila dia selalu siap menghadapi kematian. Karena itu kau tak usah memikirkan keselamatanku Wiro-san.

Aku justru beruntung diberi kesempatan dewa untuk bertemu denganmu. Mana surat itu...?!"

"Sensei," tiba-tiba Kunio Ota membuka mulut. "Siapapun adanya pemuda ini saya tetap menaruh curiga. Dia muncul dengan kuda milik pembunuhmu. Saya melihat noda darah di punggung kuda. Mustahil tidak ada kaitannya dengan kedua pembunuh itu...!"

"Wiro-san... bisakah kau menjawab ucapan muridku itu?" Orang ini sebenarnya percaya penuh dengan pemuda itu, namun dia juga ingin semua muridnya mendengar penjelasan langsung dari Wiro sendiri.

"Kuda coklat itu saya temui di kaki Gunung Fuji. Binatang itu bersikap jinak dan aku tunggangi sampai kemari. Saya tidak tahu siapa pemiliknya..."

"Bukan mustahil pemuda ini kawanan pembunuh dan disuruh menyamar untuk memastikan kematian sensei atau bagaimana..." kata Ichiro Loki

"Mungkin juga ia diminta menyelidiki sesuatu di sini!" untuk pertama kalinya murid perempuan bernama Akiko Besso mengeluarkan suara.

Wiro garuk-garuk kepala. Dia menjawab. "Segala kecurigaan bisa terjadi. Saya pikir tidak perlu diperpanjang lagi. Guru kalian sedang sakit parah..." Dari balik bajunya Wiro keluarkan sebuah lipatan kertas pada Hiroto Yamazaki. "Terimalah, ini surat dari guru saya..." Yamazaki menerima dan membuka dengan tangan gemetar lalu membacanya.Sahabatku Hiroto

Aku mengharapkan kau dalam keadaan baik-baik dan sehat. Dunia ini kadang terasa sempit, kadang terasa luas dan jauh. Seperti halnya kita. Ternyata aku hanya mampu mengutus muridku untuk menemuimu di kaki Gunung Fuji yang sejuk dan indah ini. Sesuai janji kita empat puluh tahun silam, muridku memberi petunjuk mengenai Pukulan Sinar Matahari. Itu jika kau bermaksud memilikinya. Untuk keperluan itu kau tidak perlu ganti imbal apa-apa. Ini sesuai dengan kepribadian seorang samurai yang tidak kenal pamrih.



Sahabatmu

Sinto Gendeng

Hiroto Yamazaki menurunkan tangannya dan meletakkan surat Sinto di atas dadanya. "Aku bahagia... aku bisa pergi dengan tenang," lalu dia berpaling kepada Pendekar 212 dan berkata, "Wiro-san aku tidak mungkin lagi punya waktu mempelajari Pukulan Sinar matahari yang hebat itu..., jika kamu tidak keberatan dan mereka mau, ajarkanlah pada murid-muridku. Mungkin dengan ilmu itu mereka bisa membuat perhitungan dengan pembunuhku..." lalu satu demi satu Yamazaki memperkenalkan nama muridnya itu.

Wiro membungkuk. "Akan aku lakukan apa yang kau minta Yamazaki -san."

"Bagus... aku punya firasat hanya kau yang bisa membantu muridku menghadapi orang Lembah Hozu yang jahat dan kejam. Lebih dari itu, aku mendapatkan petunjuk seorang pendekar akan muncul di Gunung Fuji ini. Seorang yang pantas disebut dengan Pendekar Gunung Fuji. Kaulah orangnya Wiro-san..."

Wiro tak berani menjawab. Diam-diam dia melirik kepada murid Yamazaki. Kelihatan sekali dari raut muka mereka tidak senang dengan ucapan gurunya itu. Ketika Wiro menegakkan badan kembali, terdengar jeritan Akiko Besso. Tiga murid lainnya ikut berseru. Wiro menatap sosok dan wajah Yamazaki. Kedua matanya tertutup. Orang tua itu tidak bergerak dan tidak bernafas lagi.

Salju turun lagi perlahan-lahan. Pendekar 212 Wiro Sableng duduk di tangga depan rumah kediaman mendiang Hiroto Yamazaki. Di salah satu ruangan di dalam sana, empat orang murid Yamazaki tengah bersembahyang dihadapan abu sang guru yang diperabukan tiga hari lalu.

Wiro teguk sake dalam botol kaleng. Ketika baru saja dia menyimpan botol minuman itu ke dalam saku baju tebalnya, dibelakangnya dia mendengar langkah langkah kaki mendatangi. Wiro berpaling. Ichiro Loki, Kunio Ota dan Kenichi Asano melangkah dari ruangan dalam. Wiro berdiri menyambut ketiga pemuda itu. Dia belum melihat Akiko. Gadis itu mungkin masih bersembahyang di dalam.

"Gaijin!" menegur Kunio Ota, "Kami tidak suka melihat kau masih ada di tempat ini! Apakah itu belum jelas bagimu?"

"Cukup jelas Ota-san. Saya hanya menunggu keputusan dari kalian mengenai ucapan mendiang Yamazaki-san. Yaitu menyangkut ilmu Pukulan Sinar Matahari yang beliau minta untuk diajarkan pada kalian. Jika kalian suka...?"

"Kami cukup punya kepandaian. Kami sudah memutuskan bahwa kami tidak perlu segala macam pelajaran ilmu pukulan dirimu!" menukas Kunio Ota.

"Apakah Akiko Bessho berpendapat begitu juga?" Tanya Wiro. "Cukup satu saja murid Pendekar Pedang Matahari berkata. Itu berarti berlaku dan mewakili semuanya!" jawab Kunio Ota pula.

"Jika memang begitu keputusan kalian, saya tidak memaksa. Saya hanya menjalankan pesan guru saya dan pesan sensei kalian. Sekarang saya minta diri..." Wiro membungkuk. Ichiro dan Kenichi balas membungkuk. Hanya Kunio Ota yang tidak mau balas menghormat. Ketika Wiro berbalik dan hendak melangkah pergi tiba-tiba pemuda ini berkata, "Tunggu dulu!"

Wiro berpaling dan menunggu. "Kau datang dengan maksud hendak mengajarkan sesuatu pada sensei. Sebelum menghembuskan nafas, sensei meminta agar kau mengajarkan ilmu Pukulan Matahari pada kami. Tampaknya kau ini seperti seorang yang luar biasa. Memiliki kepandaian tinggi, bahkan merasa lebih tinggi dari guru kami sendiri!"

"Saya tidak mengatakan maupun merasa begitu!" jawab Wiro. "Seperti saya katakan, saya hanya menjalankan pesan. Jika kalian merasa tidak perlu atau tidak suka tidak menjadi apa."

Kunio Ota berbisik-bisik dengan dua pemuda lainnya. Yang dua mengangguk-angguk. Lalu Kunio berkata. "Sebelum kau pergi, kami ingin melihat dulu sampai di mana kepandaianmu dalam ilmu bela diri, dan kami tidak suka sebagai orang asing kau merasa lebih hebat dari kami di negeri kami sendiri!"

"Saya tidak merasa lebih hebat. Karenanya tidak ada gunanya kalian menguji saya," jawab Wiro.

"Kalau hanya untuk menunjukkan kebodohan, mengapa jauh-jauh datang kemari!" mengejek Kunio Ota, lalu pemuda ini tertawa diikuti oleh dua kawannya.

"Terima kasih atas tertawa kalian yang tidak sedap didengar dan dilihat!" Wiro bungkukkan diri lalu memutar langkahnya. Tahu-tahu Kunio Ota sudah menghadang di depannya. Diam-diam Wiro merasa kagum akan kecepatan gerakan orang ini dan hampir tanpa suara.

"Kami menantangmu! Kami menunggu di dojo. Jangan kau berani menolak karena itu berarti penghinaan bagi kami!"

Pendekar 212 menyeringai. "Justru bagiku yang menantang adalah pihak yang menghina!" Jawab Wiro kasar dan kini mulai jengkel. Dia melewati ketiga pemuda itu lalu sebelum mereka masuk ke dalam ruang latihan yang besar, murid Sinto Gendeng sudah lebih dulu berada di situ!

"Silakan siapa di antara kalian yang hendak menunjukkan kebolehannya lebih dulu. Aku orang bodoh hanya siap menerima petunjuk!" Lalu Wiro melompat ke tengah dojo.

Kunio Ota maju ke hadapan Wiro. "Dengan tangan kosong atau pakai senjata?" murid Hiroto Yamazaki itu bertanya.

"Aku lebih suka tangan kosong!" jawab Wiro sambil usap-usapkan telapak tangannya satu sama lain.

Baru saja Wiro menyahut demikian, Kunio Ota langsung berteriak keras dan menghantam dengan tangan kanannya ke arah muka Pendekar 212. Dari suara angin pukulan lawan, murid Sinto Gendeng segera memaklumi kalau Kunio Ota menggabungkan kekuatan tenaga dalam dan tenaga luarnya dalam melancarkan serangan. Hal semacam ini jarang dilakukan orang karena memang tidak mudah untuk menjalankannya.



Wiro angkat tangan kirinya untuk menangkis. "Bukk!" Dua lengan saling beradu. Wiro Sableng terpental hingga menghantam dinding sedang Kunio Ota jatuh duduk di atas tatami.

Murid Sinto Gendeng merasakan lengannya sakit bukan kepalang. Rasa sakit ini anehnya menjalar cepat ke sekujur tubuh hingga dia menggigil seperti orang kedinginan. Ketika diperhatikannya lengan kanannya, lengan itu tampak bengkak merah dan biru!

Wiro memaki panjang pendek dan merasa menyesal mengapa tadi dia hanya mengerahkan tenaga dalamnya sedikit saja sehingga dia kini mendapat cedera. Sebenarnya Wiro sangat menghormati keempat murid Hiroto Yamazaki itu, apalagi gurunya Eyang Sinto Gendeng telah berpesan agar mampu membawa diri sebaik-baiknya di negeri orang. Wiro sesaat tegak diam sambil usap-usap lengan kanannya yang mendenyut sakit.

Kunio Ota melompat berdiri di atas tatami. Dengan sikap dan air muka penuh mengejek dia berkata.

"Kalian lihat sendiri! Dengan kemampuan seperti itu dia menyombongkan diri hendak memberi pelajaran pukulan sakti pada kita! Kepalanya malah tambah besar karena sensei menyebutnya Pendekar Gunung Fuji! Cuah!" Kunio Ota meludah ke lantai. "Gaijin! Siapapun kau adanya kami harap kau segera meninggalkan tempat ini! Kami hendak meneruskan sembahyang menghormati arwah guru...!"

Wiro mengangguk. Dia melangkah ke hadapan meja sembahyang di mana disimpan abu Hiroto Yamazaki. Dia membungkuk dalam-dalam beberapa kali. Lalu memutar tubuh dan tinggalkan tempat itu.

Begitu Wiro lenyap, Kenichi Asano berkata. "Mari kita teruskan sembahyang. Kunio Ota, kau yang tua di antara kita. Kau yang memimpin upacara..." Lalu Kenichi, Akiko dan Ichiro memberi jalan pada Kunio untuk maju ke hadapan meja sembahyang. Tetapi orang yang diminta untuk memimpin acara sembahyang itu tetap diam saja di tempatnya.

"Apa yang terjadi?" Tanya Akiko heran, begitu juga Kenichi. Ichiro Loki memeriksa sekujur tubuh Kunio, mengangkat-angkat kedua tangannya. Setiap diangkat, kedua tangan itu kembali ke kedudukannya semula secara kaku. Kenichi dekatkan telinga kirinya ke dada Kunio. "Aku mendengar detak jantungnya! Dia masih hidup! Tapi mengapa tidak bisa bergerak tidak bisa bersuara?" ujar Kenichi sesaat kemudian, seraya memandang heran pada saudara-saudara seperguruannya.

"Aku ingat sejenis ilmu aneh yang datang dari daratan Tiongkok dan mulai dikembangkan di negeri ini..." berkata Kenichi.

"Maksudmu ilmu menotok jalan darah?" tanya Ichiro.

Kenichi mengangguk, "Kunio bukan hanya ditotok jalan darahnya sehingga kaku, tapi jalan suaranya juga terbendung hingga dia tak sanggup bicara!"

"Lalu siapa yang menotoknya?" tanya Akiko.

"Ya! Siapa...?!" ikut bertanya Ichiro.

"Siapa lagi kalau bukan si gaijin itu!" sahut Kenichi.

"Ah mana mungkin!" tukas Ichiro. "Aku tidak melihat pemuda asing itu menggerakkan tangannya atau mendekati Kunio. Dia tadi hanya melangkah ke meja sembahyang lalu meninggalkan ruangan ini... Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Atau barangkali ada hantu di tempat ini?"

"Tidak ada hantu di sini Ichiro. Aku yakin pemuda itu yang melakukannya. Dia memiliki kecepatan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ninja!"

"Kalau begitu dia bukan manusia sembarangan. Tapi mengapa ketika beradu pukulan dengan Kunio tadi dia terpental jauh dan lengannya tampak bengkak wajahnya memperlihatkan rasa sakit!" kata Akiko pula.

"Hemmm..." Akiko Bessho menggumam. Dia melangkah memutari tubuh Kunio Ota.

"Bagaimana kita membebaskan Kunio dari totokan ini. Kenichi...?" Kenichi Asano mendekati Kunio. Dia memeriksa beberapa tubuh pemuda itu. Ketika dia menyingkapkan kerah baju Kunio, dilihatnya ada tanda merah pada pangkal leher sebelah kiri. Kenichi kerahkan tenaga dalamnya ke ujung ibu jari tangan kanan lalu dia mulai mengurut pangkal leher Kunio. Selang beberapa ketika Kunio terdengar keluarkan suara keluhan pendek. Tubuhnya terhuyung dan hampir jatuh kalau tidak dipegang oleh Ichiro.

"Kau sadar apa yang kau alami Kunio?" bertanya Akiko.

"Entahlah. Aku mendengar suara kalian. Tapi aku tak bisa bergerak, tak bisa membuka mulut..." jawab Kunio Ota.

"Gaijin itu telah menotok urat besar di pangkal lehermu!"

"Hah?" Kunio raba pangkal lehernya. "Bagaimana dia bisa melakukannya? Dia bukan orang Cina! Hanya pendekar-pendekar Cina yang punya ilmu kepandaian menotok orang!"

Kenichi menarik nafas dalam. "Ilmu menotok itu sudah ada ratusan tahun lalu. Mungkin lebih dulu dipelajari di negeri si gaijin itu dari pada di sini. Dia telah memberi pelajaran padamu dan pada kita.

Paling tidak dia kini membuat mata kita lebih terbuka. Kurasa waktu kau menjajalnya tadi dia tidak melayani sepenuh hati..."

Merahlah peras Kunio Ota. "Adik Kenichi, kau seperti mengejek aku! Aku akan cari orang itu dan mengajaknya untuk adu kekuatan sampai seratus jurus!"

Ichiro gelengkan kepala. "Aku tidak setuju. Ada hal lain yang lebih penting harus kita lakukan. Mencari dua orang pembunuh sensei!"

"Kau betul kak Ichiro," menyatakan Akiko. "Hal itu harus kita bicarakan sekarang! Tetapi bagaimana kalau kita terlebih dahulu mengamankan barang-barang pusaka milik sensei...?"

"Ah...? Kau betul Akiko!" kata Kenichi. "Mari kita sama-sama masuk ke dalam kamar tidur sensei..." Lalu keempat orang itu tinggalkan ruangan sembahyang, menuju ke kamar tidur mendiang Hiroto Yamazaki. Hanya sesaat kemudian saja, di dalam kamar itu mendadak terjadi kegegeran!

Keempat anak murid Hiroto Yamazaki itu telah menemukan senjata-senjata pusaka milik guru mereka, yakni sebilah katana dan seperangkat busur serta anak panah. Tetapi setelah menggeledah seluruh sudut kamar, membalik kasur, membongkar lemari dan memeriksa lapisan-lapisan loteng dan dinding kamar, mereka sama sekali tidak menemui sebuah kitab kuno berisi pelajaran Kendo yang amat langka.

Keempat anak murid yang baru saja ditinggal mati guru mereka itu saling pandang. "Kitab itu sangat berharga sekali. Sensei malah menganggapnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri.

Sensei belum sempat mengajarkan keseluruhannya pada kita. Dan kini kitab itu lenyap!" Kenichi Asano berkata sambil melangkah mundar-mandir dalam kamar.

"Aku punya dugaan keras Gaijin itulah yang telah mencurinya!" kata Kunio Ota pula seraya mengepalkan tinjunya!

"Kurang ajar! Kita harus cari dia sampai dapat!" kata Ichiro Loki. Kunio Ota cabut pedangnya dari balik punggung lalu melangkah ke hadapan meja sembahyang di mana terletak abu Hiroto Yamazaki. Sambil melintangkan katana di depan dadanya pemuda ini berkata "Sensei, aku muridmu Kunio Ota, bersumpah di hadapan abumu akan memenggal batang leher pencuri itu!" lalu pemuda ini mendahului yang lain-lainnya keluar dari ruangan sembahyang itu.

"Aku heran..." Kata Akiko pada Ichiro dan Kenichi. "Jika memang betul pemuda asing itu yang mencuri kitab tersebut, bagaimana mungkin dia mengetahui tempat sensei menyimpannya. Sejak beliau meninggal, kamar ini selalu diawasi paling tidak oleh dua orang di antara kita. Lalu jika dia memang murid sahabat guru kita, masakan begitu culas melakukan pencurian..."

"Jangan-jangan dia murid palsu yang menyamar datang kemari padahal maksud sebenarnya adalah untuk mencuri kitab itu!" ujar Ichiro pula.

"Tapi dia telah memperlihatkan bukti-bukti dirinya pada sensei. Dan guru kita mengakui kebenaran tanda-tanda yang diperlihatkannya..."

"Saat itu guru kita tengah dalam keadaan sekarat," berkata Kenichi. "Besar kemungkinan dia tidak lagi dapat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu..."

"Jadi pemuda itu datang jauh-jauh hanya untuk mencuri kitab Kendo milik guru!" kata Akiko.

"Mungkin itu hanya sebagian kecil saja dari maksud kedatangannya ke negeri kita ini. Pasti dia membekal maksud lain yang lebih jahat!" berkata Ichiro.

"Kalau begitu aku setuju dengan rencana Kunio. Manusia satu itu harus dipenggal batang lehernya!" kata Kenichi pula.

"Rencana harus diatur sekarang," kata Ichiro. "Aku dan Kenichi akan mengejar pembunuh guru. Akiko, Kunio mencari pemuda asing itu."

"Hati-hatilah kalian berdua," kata Akiko. "Jika dugaan kita benar bahwa pembunuh guru adalah kelompok sesat orang-orang Lembah Hozu, mereka sangat berbahaya. Mereka ahli memainkan panah beracun!" Kenichi dan Ichiro mengangguk.

Ichiro berkata, "Beritahu pada Kunio bahwa aku dan Kenichi akan berangkat besok malam agar bisa sampai Lembah Hozu dua hari kemudian. Kita bertemu lagi di sini pada Gesuyobi (hari Senin) minggu pertama bulan depan..."

"Baik! Kita bertemu lagi di sini hari Senin pertama bulan depan..." mengulang Akiko Bessho.

Malam itu udara tidak seberapa dingin. Di langit, bulan setengah lingkaran muncul tanpa tersaput awan. Dua bayangan bergerak cepat di antara kerapatan pepohonan di Lembah Hozu. Sesekali terdengar suara burung malam di kejauhan.

Orang yang lari di depan sesaat berhenti lalu berbisik kepada kawannya. "Kenichi, sebentar lagi kita akan memasuki kawasan Lembah Hozu. Periksa lapisan besi yang menutupi dada dan punggungmu..."

Kenichi lalu memeriksa baju besi tipis yang melindungi dada dan punggungnya. Ichiro melakukan hal yang sama.

"Bagaimana dengan senjata peledak?" Ichiro kembali berkata. Kenichi memeriksa lima buah benda bulat sebesar kepalan yang terbuat dari besi. Kelima benda ini tergantung di pinggangnya dan merupakan senjata peledak yang bisa menghancurkan bangunan. Ichiro juga membekal lima senjata peledak yang sama.

"Orang-orang Lembah Hozu biasanya suka minum-minum sampai larut malam. Berarti kita harus bersabar menunggu sampai menjelang pagi, pada saat mereka mulai keletihan dan setengah mabuk..." Kenichi mengangguk mendengar ucapan Ichiro itu. Keduanya kemudian bergerak kembali dalam kegelapan malam dan udara dingin.

Akhirnya kedua orang murid mendiang Hiroto Yamazaki itu sampai di bibir Lembah Hozu sebelah selatan. Jauh di bawah sana mereka melihat nyala obor banyak sekali. Di hadapan sebuah meja pendek, tampak sekitar sepuluh orang lelaki berpakaian dan berikat kepala serba putih duduk berkeliling. Setiap orang ditemani oleh seorang Geisha (wanita pelayan pada tempat-tempat tertentu). Semuanya asyik menyantap makanan dan meneguk minuman. Sesekali terdengar suara gelak tawa. Lalu ada seorang perempuan separuh baya yang duduk agak terpisah memetik Shamusen (instrumen musik dengan tiga senar).

"Setahuku kelompok mereka ada tujuh belas orang, mana tujuh lainnya...?" berbisik Ichiro. Kenichi tak menjawab, ia memandang ke arah lembah seperti tengah menghitung-hitung. "Kau membawa teropong...?" bertanya Ichiro. Kenichi lalu menyerahkan sebuah teropong kecil. Ichiro menarik habis teropong satu lensa ini lalu mengintai ke arah lembah. Satu demi satu dia mengawasi muka-muka yang ada di lembah. Dia mengenali wajah orang keempat dan kesembilan, lalu berbisik pada Kenichi. "Aku mengenali wajah dua pembunuh sensei. Mereka ada di bawah sana..."

Kenichi mengangguk. "Mereka ada di sana, aku tidak sabar lagi Ichiro. Apakah baiknya kita langsung menyerbu...?"

Baru saja Kenichi berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara suitan panjang dari arah timur lembah.

Bersamaan dengan itu, sepuluh orang yang berada di meja bawah sana serentak melompat berdiri sambil mencabut katana dari punggung masing-masing. Para Geisha berlarian ke satu arah.

Perempuan yang memainkan shamusen berhenti memainkan peralatan musik itu dan ikut lari ke arah lenyapnya para Geisha.

"Celaka!" bisik Ichiro. "Agaknya mereka telah mengetahui kedatangan kita." Baru saja Ichiro Ioki berkata begitu, di atas mereka terdengar suara berdesing. "Awas, serangan panah!" teriak Ichiro.

Dia segera menunduk dan cabut katana-nya. Kenichi juga segera mencabut pedangnya dan melompat ke balik sebuah pohon besar. Dua buah anak panah menancap di batang pohon itu. Ichiro putar pedangnya ketika terdengar suara berdesing untuk kesekian kalinya. "Trang...! Trang...!" Dua anak panah runtuh ke bawah.

"Para pembokong itu ada di atas pohon sebelah sana!" bisik Ichiro. Dia segera mencabut senjata peledak yang ada di pinggangnya. Sebuah anak panah menghantam bahunya. Untung bagian bahu itu masih terlindung baju besi yang dipakainya hingga dia tidak cedera sedikit pun. Ichiro bergerak dua langkah ke samping kanan lalu lemparkan senjata peledak ke arah pohon besar di mana tadi dia melihat bayangan tiga orang pembokong bersenjatakan panah.

Terdengar suara berdentum. Nyala terang bola api berkilat, sesaat keadaan terang benderang. Di atas pohon besar yang hancur porak poranda, terdengar jeritan tiga orang. Ketiganya terlempar jatuh ke tanah dan telah mati lebih dahulu dalam keadaan terkutung-kutung sebelum tubuh masing-masing mencium tanah.

"Kenichi! Orang-orang di lembah berusaha mencapai tempat ini! Lekas kau cegat dengan senjata peledak!" berteriak Ichiro ketika dilihatnya di bawah sana sepuluh lelaki yang tadi duduk mengelilingi meja kini berlari sangat cepat menaiki lereng lembah menuju tempat di mana dia dan Kenichi berada.

Kenichi menyelinap di balik kerapatan pepohonan lalu loloskan sebuah senjata peledak. Tak lama kemudian terdengar suara berdentum di arah timur. Beberapa pohon dan semak belukar rambas.

Namun tidak terdengar suara jeritan. Di lain saat malah terdengar orang-orang lembah berteriak.

"Kurung yang satu ini! Tangkap hidup-hidup!"

Lalu terdengar suara senjata saling beradu disertai bentakan-bentakan. Ichiro masih sempat mendengar suara jeritan Kenichi ketika di hadapannya tiba-tiba muncul enam orang bersenjatakan pedang. Dia tidak sempat mencabut senjata peledaknya. Dengan katana , Ichiro hadapi keenam lawan yang datang. Namun saat itu sebatang anak panah beracun yang dilepaskan lawan dari tempat gelap berhasil menancap di paha kanannya.

Dengan kertakkan rahang menahan sakit, Ichiro cabut anak panah itu. Namun sebagian racun panah telah larut dalam aliran darahnya! "Manusia-manusia Lembah Hozu keparat! Kalian telah membunuh guru! Majulah untuk menerima hukuman!" teriak Ichiro. Terdengar suara tertawa bergelak dalam gelap. Lalu enam sosok tubuh melompat. Enam katana menggebrak berbarengan.

Ichiro menangkis tiga tebasan pedang. Tiga lainnya dielakkan dengan jalan melompat ke belakang.

Ketika salah seorang lawan kembali menyerbu, Ichiro keluarkan suara mengerang dan katana yang digenggam dengan kedua tangannya berkelebat ganas. Satu jeritan menggema dalam kegelapan malam. Orang di depan Ichiro menggeletak dengan perut robek. Lima kawannya berteriak marah lalu serempak menyerang.

"Kita berhasil menangkap yang satu ini!" terdengar suara orang berteriak.

"Ah! Mereka berhasil menangkap Kenichi!" keluh Ichiro, lalu putar pedangnya dengan sebat.

Terdengar suara berdentangan. Tiga sosok bayangan muncul lagi dari dalam gelap. Kini ada delapan orang yang mengeroyok Ichiro. Tak ada kemungkinan bagi pemuda ini untuk menghadapi begitu banyak lawan. Dia membuat gerakan seperti katak, melompat dan berhasil menjauhi para pengeroyok. Sebelum lawan-lawannya mengejar, dia segera loloskan sebuah senjata peledak.

"Awas bola peledak!" teriak seseorang. "Bummmm!" Ledakan keras menggema. Lidah api muncrat ke berbagai jurusan. Dua jeritan terdengar bersama rambasnya semak belukar dan tumbangnya sebatang pohon. Ichiro lari sekencang yang bisa dilakukannya sementara luka di paha kanannya terasa semakin sakit. Kaki kanannya seperti kaku. Dua anak panah melesat menghantam punggungnya, namun baju besi yang dikenakannya berhasil melindungi.

Ichiro lari terus hingga ia sampai di mana dia dan Kenichi sebelumnya meninggalkan kuda masing-masing. Ichiro cepat naik ke atas pelana dan menghambur tinggalkan tempat itu. Ketika orang-orang Lembah Hozu sampai di tempat itu, Ichiro sudah terlalu jauh, tak mungkin dikejar lagi.

Ichiro sampai di tempat kediaman gurunya sesaat sebelum matahari terbit. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil secarik kertas serta alat penulis. Dengan tubuh panas dingin akibat racun panah yang mulai bekerja menyerang jantung dan paru-parunya, Ichiro mulai menulis. Lalu dengan membawa kertas itu dia masuk ke dalam ruangan sembahyang dan berlutut di depan abu gurunya. "Sensei, harap maafkan diriku. Sebagai murid, aku merasa tidak layak lagi hidup. Aku tidak dapat membela nama guru. Aku tidak berhasil menumpas orang-orang Lembah Hozu. Malah mereka berhasil menangkap Kenichi. Aku malu untuk hidup lebih lama. Sensei aku mohon ampunmu... Aku harus menebus kebodohanku dengan melakukan Seppuku... (bunuh diri)"

Ichiro letakkan kertas yang tadi ditulisnya di kaki meja sembahyang, lalu mencabut katana-nya siap ditikamkan ke perutnya. Tiba-tiba di saat yang tepat dua tangan kokoh menahan gerakan tangan Ichiro. Sebelum pemuda ini jatuh pingsan, dia masih sempat melihat wajah orang yang barusan mencegahnya melakukan bunuh diri itu!

Dua orang berkelebat masuk ke dalam ruangan sembahyang dan keduanya sama berseru keras ketika melihat tubuh Ichiro tergeletak menelungkup di atas tatami. Paha kanannya dibalut. Tak berapa jauh dari situ tergeletak katana milik pemuda ini. Lalu di dekat kaki meja sembahyang ada sehelai kertas bertuliskan huruf-huruf kanji.

Ternyata dua orang yang barusan datang adalah Akiko Bessho dan Kunio Ota. "Kau lekas periksa keadaannya! Aku akan membaca apa yang tertulis di kertas ini!" kata Kunio. Setelah membantu Akiko membalikkan tubuh Ichiro, Kunio mengambil kertas di kaki meja lalu membacanya.

Saudara-saudaraku seperguruan, terlalu memalukan bagiku untuk hidup. aku bukan saja gagal menuntut balas terhadap orang-orang Lembah Hozu yang telah membunuh sensei, tetapi mereka bahkan berhasil menangkap Kenichi! Maafkan diriku. Hanya ada satu jalan untuk menutup rasa malu menebus kegagalan itu, yakni dengan melakukan seppuku Ichiro Ioki

"Orang tolol!" maki Kunio sambil membanting surat itu ke lantai. Lalu dia beringsut mendekati Akiko yang bersimpuh di lantai, tengah berusaha menyadarkan Ichiro dari pingsannya. "Ichiro... Ichiro! Bangun... Ayo buka matamu!" kata Akiko berulang kali sambil menepuk-nepuk pipi saudara seperguruannya itu.

"Ada keanehan kulihat..." berkata Kunio sambil memandangi sosok Ichiro.

"Apa maksudmu," tanya Akiko.

"Ichiro jelas hendak melakukan harakiri (bunuh diri). Karena itu dia menulis surat untuk kita.

Tetapi entah mengapa dia tidak melakukannya. Paha kanannya dibalut dan ada rembesan darah.

Mungkin sekali pahanya ditusuk panah beracun orang-orang Lembah Hozu. Kalau betul, lalu mengapa saat ini dia masih hidup? Siapa yang membalut luka beracun di pahanya?"

Terdengar keluhan pendek. "Dia siuman!" pekik Akiko gembira. Lalu kembali gadis ini menepuk-nepuk pipi Ichiro. "Sadar Ichiro... Sadar! Katakan pada kami apa yang terjadi!" kata Akiko pula.

Perlahan-lahan Ichiro membuka kedua matanya. "Dia... di mana... di...dia...?" suara itu keluar terbata-bata dari mulut Ichiro.

"Dia siapa maksudmu Ichiro?" tanya Kunio.

"Dia... dia... Gaijin itu..."

"Gaijin...?" mengulang Akiko sambil saling pandang dengan Kunio. "Maksudmu pemuda asing yang muncul membawa surat untuk sensei tempo hari...?"

"Betul..."

"Apa yang telah dilakukannya terhadapmu Ichiro? Katakan apa dia telah berlaku jahat terhadapmu...?!"

Ichiro membasahi bibirnya yang kering dan kesat lalu gelengkan kepala. Dia berusaha bangun dan duduk. Saat itulah dia melihat paha kanannya dalam keadaan dibalut. "Ah...pasti dia... Pasti dia lagi yang menolongku. Dia mencegahku melakukan bunuh diri. Lalu mengobati luka beracun di pahaku dan membalutnya... Ah...!"

"Ichiro! Jalan pikiranmu terganggu karena tekanan jiwa. Mungkin juga akibat racun panah orang-orang Lembah Hozu. Bagaimana mungkin orang yang telah kita pastikan mencuri kitab Kendo milik sensei kini kau sebut sebagai penolong!?" ujar Kunio pula.

"Sebelum pingsan, aku masih sempat melihat sekilas wajahnya... Memang dia. Pasti dia!"

"Kau harus beristirahat. Mari kupapah ke kamar tidurmu," kata Akiko lalu membantu Ichiro berdiri.

Pada saat itulah seseorang muncul di ambang pintu. Ichiro yang pertama sekali melihatnya langsung berseru: "Gaijin...!"

Akiko dan Kunio sama palingkan kepala. Benar saja. Pemuda asing itu tampak tegak di sana. Kunio langsung membentak. "Pencuri kitab! Kau berani datang minta mati!" Tanpa memberi kesempatan, begitu membentak Kunio langsung menyerang Pendekar 212 Wiro Sableng dengan satu jotosan keras yang diarahkan ke dada kiri. Ini adalah satu serangan maut karena bisa menghancurkan jantung orang yang diserang!

"Jepang satu masih belum kapok rupanya... Apa-apaan dia memakiku pencuri kitab?!" ujar Wiro dalam hati. Sebelumnya memang Kunio telah menantang Wiro, bahkan sempat ditotok menjadi kaku dan gagu. Tapi saat itu kembali dia menghantam lebih dulu penuh kemarahan.

Murid Sinto Gendeng cepat berkelit hindarkan serangan berbahaya itu. Sadar orang mengelak, Kunio ubah pukulannya menjadi gerakan menjambret. Pendekar 212 terkejut ketika dia merasakan bagaimana jari-jari tangan kanan lawan cepat sekali telah menggenggam dada bajunya. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, Kunio telah membantingkan tubuhnya ke lantai ruangan!

"Gila! Bagaimana dia bisa membantingku secepat kilat seperti itu?" maki Wiro dalam hati sambil menahan sakit. Selagi Wiro terhenyak keliangan, kaki kanan Kunio cepat sekali telah menginjak tenggorokannya. "Di mana kau sembunyikan buku guru yang telah kau curi?!"

"Buku... buku apa?" tanya Wiro heran dan mengernyit sakit.

"Kau pandai berlagak orang asing! Tapi kepura-puraanmu tidak laku di sini! Kembalikan buku itu atau hancur lehermu saat ini juga!"

"Aku tidak tahu menahu tentang segala macam buku sialan! Bagaimana kau bisa menuduhku mencurinya?!"

"Karena hanya kau satu-satunya orang luar yang ada di tempat ini!" jawab Kunio.

"Lalu apakah pencuri itu mesti selalu orang luar?!" tanya Wiro yang membuat Kunio melengak marah.

"Ucapanmu berarti menuduh kami anak-anak murid Hiroto Yamazaki yang mencuri kitab guru! Benar-benar kurang ajar! Matilah!" Kunio hentakkan kaki kanannya kuat-kuat ke batang leher Wiro Sableng.

"Kunio! Jangan bunuh dia," berseru Ichiro. Tapi kaki kanan Kunio terus saja bergerak.

Dalam keadaan menyangka bahwa pemuda asing itu benar-benar tidak berdaya dan siap menemui ajalnya, tiba-tiba Akiko dan Ichiro melihat bagaimana tangan Wiro yang bebas dengan sebat menghantam ke arah kaki kiri Kunio laksana pedang menebas!

Kunio Ota menjerit berjingkat-jingkat. Kesempatan ini digunakan oleh Wiro untuk membalikkan diri dan sekaligus mencengkeram kaki kanan lawan. Kini terjadi hal luar biasa yang tidak bisa dipercaya Akiko dan Ichiro. Tubuh Kunio tiba-tiba saja mencelat keatas. Kepalanya menghantam tembus langit-langit kamar yang terbuat dari kertas. Tubuh Kunio kemudian jatuh ke lantai.

Hebatnya, pemuda ini bukan saja mampu jatuh dengan kedua kaki menginjak tatami lebih dahulu, tapi seperti membal tubuhnya kemudian melesat ke arah Wiro. Kedua tinjunya menderu lebih dahulu. Dengan mudah Wiro berhasil menangkap kedua tangan lawannya dan siap untuk membantingkannya ke lantai.

Namun lagi-lagi Pendekar 212 dibikin penasaran dan kesakitan, karena tiba-tiba saja lawan membuat gerak aneh dan kini malah kedua tangannya yang kena dicengkeram. Sebelum Wiro sempat lepaskan diri, tiba-tiba tubuhnya sudah terangkat, lalu bukk! Tubuh Pendekar 212 dibanting ke lantai! Belum lagi dia sempat bangun, Kunio jatuh diri seperti berlutut lalu tinjunya kiri kanan mendera dada murid Sinto Gendeng.

Meskipun jotosan-jotosan Kunio tidak disertai kekuatan tenaga dalam, namun kekuatan tenaga luarnya saja bukan main hebatnya. Wiro merasakan ada cairan asin dan panas dimulutnya. Wiro melengak kaget ketika menyadari dirinya mengalami luka dalam!

Sebelum jotosan-jotosan lawan kembali bertubi-tubi menghantam dada dan perutnya, Pendekar 212 susupkan satu sodokan keras ke perut Kunio. Pemuda ini keluarkan suara seperti kerbau melenguh.

Di lain saat tubuhnya terjajar dan meluncur di atas tatami, dan baru berhenti begitu menabrak sebuah tiang kayu. Sebelum Kunio sempat bangun, Pendekar 212 sudah memiting lehernya dan mengangkat tubuh Kunio hampir dua jengkal dari atas lantai. "Kau hanya ada satu pilihan Kunio!" desis Wiro. "Mengaku salah dan minta ampun!"

"Aku memilih mati daripada bertindak seperti banci!" teriak Kunio. Tangannya coba menyikut, tapi Wiro semakin mengunci lehernya.

"Pemuda asing! Kalau kau bunuh dia, aku bersumpah membunuhmu saat ini juga!" tiba-tiba Ichiro berteriak. Wiro memang tidak berniat membunuh Kunio Ota. Begitu pemuda itu pingsan karena kesulitan bernafas, Wiro lantas lepaskan cekikannya. Kunio terbujur di lantai.

Tiba-tiba Wiro menangkap suara berdesing di samping kirinya disertai kilauan sesuatu yang menyambar ke arahnya. Wiro cepat jatuhkan diri dan berguling. Di ujung kamar dia cepat berdiri.

Di seberangnya, Akiko Bessho tegak memegang sebilah katana! Jadi gadis inilah barusan yang coba membabat Pendekar 212 Wiro Sableng.

Sewaktu Akiko hendak menerjang, Wiro cepat menyambar pedang yang tersembul di balik punggung Kunio. Lalu, Trang...! trang...! trang...! Suara beradunya pedang memenuhi ruangan itu.

Serangan Akiko ganas sekali. Gadis ini pergunakan kedua tangannya untuk memegang hulu pedang. Dia menyerang dengan kekuatan penuh! Wiro seperti terdesak pada permulaannya. Pemuda ini harus mengakui kehebatan permainan pedang sang dara. Agar tidak sampai melukai gadis berwajah bulat ini, Wiro sengaja mainkan jurus-jurus silat pertahanan.

Namun ketika dia didesak habis-habisan, murid Sinto Gendeng ini terpaksa keluarkan jurus-jurus silat orang gila yang dipelajarinya dari Tua Gila. Gerakannya seolah-olah kacau. Namun di balik kekacauan itu tersembunyi suatu kekuatan yang hebat.

Selagi Akiko kerahkan seluruh tenaga untuk menggempur Wiro, murid Sinto Gendeng malah mempermainkannya. Dalam satu gebrakan keras, Wiro berhasil memukul lepas pedang di tangan si gadis! Akiko menjerit bukan karena cedera, tapi malu dan penasaran. Dia lari ke sudut ruangan. Di sini dia duduk bersila sambil memejamkan mata. Dia berusaha mengatur jalan darahnya yang bergejolak. Begitu merasa sudah menguasai dirinya sepenuhnya kembali, gadis ini bergulingan di lantai untuk mencapai pedangnya yang tadi terlepas mental. Lalu begitu hulu pedang tergenggam dalam kedua tangannya, gadis ini langsung menyerbu Wiro kembali.

"Tunggu dulu...!" seru Pendekar 212.

Akiko Bessho tidak peduli seruan orang. Pedang di tangannya menderu dan berkelebat laksana kilat. Di antara empat orang muridnya, mendiang Hiroto Yamazaki memang telah memberikan ilmu pedang secara khusus pada gadis ini sehingga sekali sebilah katana berada dalam genggaman dua tangannya, maka dirinya bisa berubah laksana malaikat penyebar maut! "Breettt... bretttt... bret...!"

Pendekar 212 Wiro Sableng berseru kaget dan cepat melompat mundur dengan wajah pucat. Baju putih tebal yang dikenakannya robek besar di kedua bagian. Robekan ketiga adalah pada bagian pinggang celananya. Tali celana ini putus, ketika melompat, tak ampun lagi merosot ke bawah.

Selagi Wiro menarik celananya ke atas, sambil meletakkan pedang di tangan kanannya, Akiko kembali menyerbu.

"Akiko... hentikan seranganmu," teriak Ichiro. "Bagaimanapun aku berhutang nyawa pada gaijin itu!" Namun terikan itu tidak ada gunanya. Ujung pedang Akiko sudah merebas dan menyambar.

"Breettt!" Lengan kiri pakaian Wiro robek memanjang dan kali ini tidak hanya pakaiannya yang robek tapi juga bagian tubuhnya kena toreh. Darah langsung mengucur membasahi lengan dan lantai ruangan.

Rasa sakit dan keadaan terdesak membuat Pendekar 212 kalap. Dengan tangan kiri yang masih memegang kolor, Wiro mengangkat tangan kanan. Dia sudah siap mengerahkan semua tenaganya dengan penuh. Tapi mendadak dia terbayang wajah Hiroto Yamazaki, lalu wajah gurunya Sinto Gendeng. Wiro kendurkan tenaga dalamnya lalu menghantam.

Satu gelombang angin menghantam ke depan. Akiko merasakan tubuhnya terdorong. Semakin dicoba melawan, semakin keras tubuhnya terdorong. Gadis ini nekad melabrak. Akibatnya dia seperti berkelahi seorang diri sementara lawannya berada beberapa langkah di depannya.

Akiko Bessho berteriak marah. Dia kerahkan tenaga dalam ke tangan kanan. Pedang di tangan kanannya bergetar keras dan mengeluarkan suara siur. Gadis ini sempat maju mendekati Wiro namun kemudian justru jatuh terpelanting di lantai dengan sekujur tubuh mandi keringat.

Akiko menjerit lagi dan seperti sedang putus asa, ia membanting pedangnya ke lantai. "Curang, kamu curang, menggunakan ilmu sihir. Tidak berani menghadapi ilmu pedang dengan pedang," teriak Akiko. Wiro hanya bisa menyeringai mendengar teriakan gadis itu. Sambil pegang lengan kirinya yang terluka, dia menuju pintu. Ichiro memegang bahu Akiko dan membantu gadis itu berdiri. Lalu kepada Wiro dia berujar, "Maafkan adik seperguruanku. Aku akan meminta dia merawat lukamu..."

"Terima kasih," jawab Wiro yang kini lenyap sudah amarahnya dan mulai kasihan melihat Akiko.

"Aku bisa merawat lukaku sendiri. Ada dua hal yang perlu aku katakan pada kalian. Pertama, aku tidak memiliki ilmu sihir. Kedua, dan ini yang penting, lekas tinggalkan tempat ini. Orang-orang Lembah Hozu pasti akan menyerbu ke mari menuntut balas kematian teman-teman mereka."

"Jika mereka datang kami akan membunuh mereka semua!"

"Kami akan mencincang dua pimpinan mereka yang telah membunuh guru..." kata Ichiro.

"Jangan bodoh. Jumlah mereka lebih banyak dan mereka sedang menyandera Kenichi, kalian tidak akan bisa berbuat apa-apa. Lebih baik mengalah sementara sambil menyusun langkah baru."

Sehabis bicara, Wiro mengambil kotak berisi abu Hiroto.

"Hai hendak kau bawa ke mana benda itu," teriak Akiko.

Wiro melangkah ke hadapan si gadis lalu mengulurkan kotak besi pada Akiko seraya berkata, "Ini benda berharga yang paling berharga yang harus kalian selamatkan sebelum orang Hozu menyerbu." Lalu berpaling kepada Ichiro. "Tolong tinggalkan tempat ini, jika Kunio masih pingsan dan mereka datang ke tempat ini, maka dia akan menjadi sasaran."

Selesai berkata, Wiro langsung meninggalkan tempat itu dan Ichiro serta Akiko seketika saling berpandangan. Akhirnya Ichiro membuka mulut, "Apa yang dikatakan pemuda asing itu benar.

Selama Kenichi berada di tangan orang Lembah Hozu, kita tidak bisa berbuat banyak! Kita musti meninggalkan tempat ini Akiko. Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi!"

Di luar, langit tampak semakin terang dan sebentar lagi sang surya akan terbit. Dari kejauhan, dari arah tenggara terdengar suara-suara bersahut-sahutan. Sepasang mata Akiko dan Ichiro tampak

sama-sama membesar. "Mereka benar-benar datang," desis Ichiro. Tanpa bicara lagi ia langsung memanggul Kunio Ota yang masih dalam keadaan pingsan. Ichiro memberi tanda kepada Akiko, namun ragu. Tapi tidak lama kemudian ia meloncat mengikuti kakak seperguruannya itu meninggalkan tempat.

"Kita tidak mungkin lari jauh. Sekali mereka melihat, kita akan dikejar. Sebaiknya menyelinap dan bersembunyi di Goa Wanigawa." Akiko setuju lalu mendahului lari. Mereka menuju kerapatan pepohonan di arah timur menuju sebuah goa yang tersembunyi di balik semak belukar. Dari dalam goa bisa melihat ke arah bekas rumah Hiroto Yamazaki yang luas. Goa ini disebut Wanigawa yang berarti "Kulit Buaya" karena bagian dalamnya bergerujul seperti kulit buaya.

Baru saja mereka memasuki goa, segerombolan orang-orang Lembah Hozu yang berjumlah sekitar dua puluh orang muncul menunggang kuda. "Periksa bangunan itu!" teriak seorang pemimpin gerombolan. Lima orang turun dari kuda dan langsung memeriksa dengan pedang terhunus, sementara sepuluh orang lainnya mengelilingi bangunan dengan membawa panah beracun yang siap membidik siapa saja yang keluar dari bangunan.

Dua orang Lembah Hozu tampak kuluar dari bangunan sambil memberi isyarat bahwa rumah telah kosong, tidak orang dan benda yang bisa dijarah. "Kurang ajar, mereka pasti melarikan diri," ujar lelaki bertubuh kurus yang menunggang kuda putih.

Kawan yang berada di sebelahnya ikut berteriak, "Bakar bangunan itu!" Maka enam orang segera melaksanakan perintah. Dalam waktu sekejap, bekas rumah Hiroto yang didiami bersama empat muridnya itu hilang dilalap api.

Di dalam goa Wanigawa, Akiko kepalkan kedua tangannya. "Aku ingin sekali membunuh keparat-keparat dari Lembah Hozu itu. Ichiro perhatikan kuda putih dan lelaki di sampingnya. Aku ingat betul dia yang mengeroyok sensei dan membunuhnya..."

"Kau betul Akiko. Yang kurus jangkung itu adalah Massashigi Sakaji. Kawannya, kalau tidak salah adalah Minoru Shirota. Mereka adalah dua dari empat pemimpin Lembah Hozu. Keduanya sudah terkenal sejak dua puluh tahun lalu."

"Tanganku sudah gatal ingin membunuh kedua bangsat itu. Bagaimana jika aku membokong mereka dengan sumpit beracun?" Dari balik pakaiannya, Akiko keluarkan sebuah sumpitan yang terbuat dari kuningan lengkap dengan pelurunya sebesar ujung jari berbentuk bulat dan berduri-duri di beberapa bagian.

"Jangan!" cegah Ichiro. "Jarak mereka terlalu jauh. Peluru sumpit tidak bisa sampai ke sana. Di samping itu, tindakanmu sama saja dengan memberi tahu tempat persembunyian kita ini." Akiko bantingkan kaki karena kesal. Tiba-tiba didengarnya Ichiro berseru. "Akiko! Lihat! Ada seseorang di atas atap bangunan rumah!"

Bagaimana terkejutnya Ichiro, begitu pula kagetnya Akiko. Di atas atap bangunan di bawah sana, pada bagian yang belum sempat disentuh kobaran api, di balik kepulan asap, kedua orang ini melihat sosok seorang laki-laki berpakaian dan berikat kepala putih tegak bertolak pinggang di atas wuwungan rumah.

Orang-orang Lembah Hozu yang masih ada di sekitar bangunan itu juga tampak terheran-heran melihat ada orang di atas atap bangunan yang mereka bakar. "Ichiro..." kata Akiko sambil memegang lengan pemuda itu. "Apakah kau tidak mengenali orang di atas atap itu? Bukankah dia gaijin bernama Wiro Sableng itu...?"

Ichiro Ioki usap kedua matanya berulang kali. "Astaga! Kau betul! Apa yang dilakukan pemuda asing itu di sana?! Sudah gila dia agaknya!" ujar Ichiro.

"Dia sengaja mencari mati!" kata Akiko pula. "Ninja sekalipun tidak berani melakukan hal seperti itu siang-siang begini!"

"Aku jadi tak habis pikir," kata Ichiro pula. "Siapa sebetulnya pemuda itu. Sikapnya selalu merendah dan terkadang tampak seperti orang tolol!"

Di atas atap bangunan, orang yang berdiri di sana memang adalah Pendekar 212 Wiro Sableng. Saat itu dengan mengerahkan tenaga dalamnya hingga suaranya menjadi keras sekali, Wiro berteriak.

"Orang-orang Lembah Hozu! Kalian semua dengar! Jika kalian tidak segera membebaskan Kenichi dan menyerahkan dua pembunuh Yamazaki-san, maka Lembah Hozu akan menjadi lembah bangkai bagi kalian!"

Semua orang Lembah Hozu mendongak dan sama memandang ke atas atap. "Eh, manusia atau setan gunung yang ada di atas atap itu?!" berkata salah seorang pimpinan Lembah Hozu. Lalu dia berpaling pada dua kawan di sebelahnya. "Masashigi! Minoru! Orang itu menghendaki diri kalian!"

"Tak pernah kulihat tampang manusia itu sebelumnya!" berkata Masashigi Sakaji. "Ada di antara kalian yang mengenalinya?"

Semua orang menggelang.

"Wajahnya seperti bukan orang sini. Logat bicaranya aneh!" berkata Minoru Shirota. Lalu sambungnya sambil menyeringai, "Siapapun dia adanya, aku ingin melihat warna darahnya! Merah atau hitam... Ha... ha... ha...!"

"Orang-orang Lembah Hozu!" dari atas atap, Wiro kembali berteriak. "Sebelum para dewa marah, lekas tinggalkan tempat ini! Ingat ucapanku! Bebaskan Kenichi dan serahkan dua pembunuh Yamazaki-san. Aku beri waktu tujuh hari. Jika siang hari kedelapan Kenichi dan dua pembunuh itu tidak muncul di ujung lembah sebelah timur, kalian akan tahu rasa!"

Orang-orang Lembah Hozu berteriak marah mendengar seruan Wiro itu. Masashigi Sakaji balas berteriak. "Saat ini kami sudah ada di sini! Dua orang yang kau tuduh jadi pembunuh juga ada di sini! Mengapa tidak langsung menjatuhkan hukuman tapi hanya bermulut besar?!"

"Aku tidak terlalu tolol mempertaruhkan nyawa Kenichi!" sahut Wiro.

"Kalau begitu biar nyawa busukmu kami habisi lebih dulu!" teriak Minoru Shirota. "Sebelum kau mati, harap jelaskan siapa dirimu dan apa hubunganmu dengan Hiroto Yamazaki!"

"Aku penguasa Gunung Fuji!" jawab Wiro membual dengan suara keras. "Berarti tak ada seorang pun boleh melawan kehendakku, kecuali mereka yang sudah bosan hidup dan ingin jadi bangkai!" teriak Wiro seraya menunjuk tepat-tepat ke arah Minoru Shirota.

"Penguasa Gunung Fuji" teriak Minoru lalu meludah ke tanah. Orang-orang Lembah Hozu lainnya tertawa keras dan sunggingkan tampang mengejek ke arah Wiro. Masashigi Sakaji yang sudah tidak sabaran saat itu memberi isyarat kepada enam orang yang membawa busur dan panah. Keenam orang ini langsung cabut anak panah dan rentangkan tali busur. Enam panah beracun dibidikkan ke arah Pendekar 212 yang masih tegak di atas atap bangunan.

Ketika Masashigi jentikkan jari-jari tangan kanannya, enam orang yang merentang busur serta merta melepaskan panah masing-masing. Enam panah beracun melesat ke atas atap.

Di atas atap tiba-tiba tampak pemuda yang jadi sasaran telah memegang sebilah katana. Senjata ini diputar laksana titiran. Enam kali terdengar suara berdentrang dan enam anak panah luruh ke bagian bawah bangunan yang dimakan api.

Kini orang-orang Lembah Hozu baru terbuka mata mereka. Selagi mereka masih mendelik menyaksikan kejadian tadi, Wiro Sableng lemparkan senjata di tangannya ke bawah. Di lain kejap, salah seorang yang tadi memanah menjerit keras lalu roboh ke tanah dengan perut tertembus pedang.

Kini orang-orang Lembah Hozu menjadi sangat marah. Semua mereka berteriak keras. Dua orang di atas kuda bergerak mengelilingi bangunan sambil memutar-mutar tali yang di ujungnya ada pengait besi. Lima orang yang memegang panah kembali membidikkan senjatanya. Yang lain-lain mencabut pedang lalu mengurung bangunan. "Runtuhkan bangunan! Jangan sampai bangsat itu lolos!" teriak Masashigi.

Dua orang yang memegang tali berkait segera menarik tiang-tiang kayu yang masih utuh. Dua bagian bangunan langsung ambruk. Atap bangunan di mana Pendekar 212 berdiri miring ke kiri.

Selagi dia mengimbangi diri agar tak terperosok jatuh, lima anak panah beracun menderu ke arah lima bagian tubuhnya!

Murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede ini keluarkan bentakan keras. Lalu dari tangan kanannya tampak memancar sinar berwarna perak. Ketika tangan itu dihantamkan, menghamparlah hawa panas disertai sambaran cahaya menyilaukan! Lima anak panah mental leleh! Lalu terdengar suara ledakan dahsyat! "Buummmm!"

Tanah berlapis salju di depan bangunan yang terbakar, mencuat bertaburan ke udara. Dua ekor kuda terpelanting dan menjatuhkan penunggangnya. Di bagian lain terdengar tiga jeritan lalu tiga sosok tubuh tergeletak hangus di atas salju! Masashigi dan Minoru dan yang lain-lainnya masih sempat menyingkir. Tapi muka mereka kini tampak seputih salju Gunung Fuji!

Ketika keadaan kembali tenang, semua orang lagi-lagi dibikin kaget. Kini kaget karena pemuda yang tadi berada di atas, tak tampak lagi sosoknya! Para pimpinan orang-orang Lembah Hozu memandang berkeliling. Pemuda yang mereka cari tetap tak ada lagi, laksana amblas ditelan gunung! "Tinggalkan tempat ini!" Minoru Shirota berteriak memberi perintah. Orang-orang Lembah Hozu yang saat itu memang sudah merasa ngeri karena seumur-umur belum pernah mengalami hal seperti itu, serta merta bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Masashigi mendekatkan kudanya ke kuda Minoru lalu berkata, "Terus terang aku tidak takut kepada pemuda tadi, walau kepandaiannya setinggi langit! Tapi untuk mencegah hal-hal yang tidak diingini, kurasa kita harus menghubungi nenek sihir Arashi. Hanya dia agaknya yang bisa menghadapi kekuatan aneh yang dimiliki pemuda itu!"

"Ya... ya....... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.197.150.255
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia