Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DENDAM MANUSIA PAKU

Bagian 1

PEREMPUAN berambut merah acak-acakan bertubuh gemuk yang duduk terkantuk-kantuk di depan goa batu perlahan-lahan buka kedua matanya.
Bagaimanapun dia membesarkan, tetap saja kedua mata itu sipit hampir merupakan dua garis melintang di wajahnya yang gembrot. Pakaian yang melekat di tubuhnya jelas aneh karena terbuat dari susunan daun lontar berbentuk jubah. Dia sibakkan rambut yang menutupi telinga kirinya.
Ternyata telinga ini diganduli sebuah anting besar. Sesaat tampak daun telinga itu bergerak-gerak dan anting yang mencantel di situ ikut bergoyang-goyang.

Kalau tadi si gemuk ini hanya duduk menjelepok di dekat pintu goa, kini dia bangkit mencangkung. Tangan kiri dimelintangkan di atas kening. Sepasang matanya yang sipit memandang tajam ke depan. "Ujudnya belum kelihatan tapi suaranya sudah masuk ke telingaku. Untung aku belum tuli. Hik...hik...hik! Suara apa itu?!" perempuan gemuk itu menduga-duga.

Dia menghirup udara di jurang dalam-dalam. "Hemmm.... bau itu...! Aku kenal betul bau itu! Rupanya si keparat itu sudah berhasil! Dia hendak menggasakku dengan binatang-binatang peliharaannya itu!

Dikiranya aku tidak siap! Percuma selama tiga bulan ini aku memata-matainya. Sipatoka! Kau boleh menyerangku.

Kau boleh mengeluarkan semua kepandaianmu. Aku akan menyambut dengan segala senang hati! Hik ... hik... hik...!"

Dari balik jubah daunnya perempuan ini keluarkan satu benda berwarna coklat gelap kemerahan.

Ternyata buah manggis hutan. Sekali remas saja manggis itu hancur. Isinya yang putih langsung digeragot. Kulit buah manggis yang sudah lumat itu kemudian digosokkannya ke muka hingga wajahnya jadi berselemotan merah coklat tak karuan.

"Sipatoka! Sebentar lagi kau akan tahu siapa diriku! Ini kali kesembilan kau menyerangku! Sebelumnya kau empat kali kalah empat kali menang. Tapi sekali ini kau boleh menggigit jari karena aku yang bakal keluar sebagai pemenang! Hik... hik...! Aku sudah tahu dengan apa kau hendak menyerang! Aku sudah siap dengan senjata penangkal! Hik... hik... hik...!"

Sementara itu dari arah barat jurang semakin jelas terdengar suara aneh tadi. Suara ini seperti suara sayap yang mengepak disertai suara menggembor terus menerus. Perempuan gemuk masih memandang tajam ke depan. Pada saat itulah tiba-tiba ada suara menggema dari sebelah barat.

"Kunti Rao! Apakah kau sudah siap menerima seranganku?!"

Perempuan di depan goa yang terletak di dinding jurang sebelah timur mendengus lalu menjawab dengan berteriak. "Aku sudah siap sejak tiga bulan lalu datuk celaka!"

"Ha ... ha... ha...! Kalau begitu saat-saat kematianmu sudah di depan mata! Daging tubuhmu sebentar lagi akan dicongkel hingga hanya tinggal tulang belulang alias tengkorak hidup!"

Perempuan gemuk di depan jurang batu sebelah timur kembali mendengus. Di sebelah barat dia mulai bisa melihat sosok-sosok hitam melesat di udara, bergerak ke arah dinding jurang di mana dia berada.

Jumlahnya banyak sekali, tak kurang dari seratus ekor.

"Datuk keparat! Kau akan lihat bagaimana aku mengerjai binatang peliharaanmu itu!" perempuan gemuk yang dipanggil dengan nama Kunti Rao itu memutar tubuhnya. Walau berbobot hampir 150 kati, tapi gerakannya kelihatan cepat dan tak bersuara. Sosoknya lenyap dalam goa. Sesaat kemudian kelihatan dia keluar membawa dua buah kayu besar. Puluhan, mungkin ratusan ekor lebah coklat berkepala hitam mengerumun bergelantung di dua kayu besar itu. Setiap lebah mengeluarkan suara menggeru.

Bayangkan kalau ratusan ekor mengeluarkan suara itu secara berbarengan. Bisingnya seperti mau merobek gendanggendang telinga!

Di depan mulut goa si gemuk Kunti Rao angkat dua kayu besar tinggi-tinggi lalu berteriak. "Datuk Sipatoka!

Aku sudah siap! Mana kecoak-kecoak peliharaanmu itu!"

Dari arah barat terdengar suara tawa bergelak. "Mereka sudah di depan hidungmu Kunti Rao! Apa matamu buta?"

Baru saja gema suara lelaki itu menghilang, di jurusan barat sosok-sosok hitam yang melesat di udara semakin dekat dan jelas wujudnya. Ternyata benda-benda ini adalah kelelawar berbentuk aneh. Bagian tubuhnya berwarna hitam legam, namun kepalanya berwarna putih. Sepasang mata berwarna merah.

Binatang ini memiliki kuku-kuku panjang sangat runcing. Ujung sayapnya pipih tajam tak ubah seperti mata pisau, sementara moncongnya lancip seperti ujung tombak.

"Kau sudah melihat Kunti? Atau matamu yang sipit itu memang sudah buta?!" orang lelaki di dinding jurang sebelah barat berteriak.

"Aku sudah melihat! Tadinya kukira kecoak busuk! Tak tahunya hanya kutu-kutu busuk yang kau kirimkan padaku!" jawab Kunti Rao.

"Bagus kau sudah melihat! Sebentar lagi kau rasakan bagaimana kutu-kutu busuk itu akan menggerogoti dagingmu yang empuk!"

Dari arah barat ada satu gelombang angin menderu. Tiupan angin ini membuat kelelawar-kelelawar hitam berkepala putih seperti didorong keras hingga dalam waktu sesaat saja binatang itu sudah mencapai dinding sebelah timur jurang, langsung menyerang Kunti Rao. Perempuan gemuk berambut merah acak-acakan ini keluarkan jeritan keras lalu meniup kuat-kuat pada dua batang kayu yang dipegangnya.

"Piup...! Piup...!"

"Werrrr! Werrrr!"

Ratusan lebah yang mendekap pada dua batang kayu menghambur terbang terus menyerbu ke arah puluhan kelelawar yang datang menyerang dengan mengeluarkan suara menggidikkan serta menebar bau busuk, menyesakkan jalan pernafasan!

Sesaat kemudian berlangsunglah satu hal hebat yang tidak pernah kejadian sebelumnya. Puluhan kelelawar kepala putih berkelahi melawan ratusan lebah berkepala hitam! Jurang batu menjadi bising oleh suara kepak sayap dua jenis binatang itu. Ditambah pula dengan suara cicit menggidikkan yang keluar dari mulut puluhan kelelawar serta suara menggeru tak berkeputusan yang dibuat oleh ratusan lebah membuat suasana di jurang batu benar-benar mengerikan.

Meskipun kelelawar-kelelawar itu memiliki tubuh lebih besar, hantaman sayap yang deras dan berbahaya, serta kuku-kuku runcing ditambah moncong yang bisa membuat gerakan mamtuk cepat sekali, namun menghadapi ratusan lebah milik Kunti Rao boleh dikatakan mereka tidak berdaya. Bukan saja jumlah lebah lebih banyak, tapi binatang bertubuh kecil ini mampu bergerak lebih gesit hingga sanggup mengelak serangan lawan sekaligus balas menyerang dengan ganas.

Suara cicit kelelawar terdengar riuh. Satu demi satu binatang-binatang itu menggelepar lalu melayang jatuh ke dasar jurang. Perempuan gemuk bernama Kunti Rao tertawa panjang. Seperti anak kecil dia berjingkrakjingkrak sambil bertepuk-tepuk tangan!

"Datuk celaka! Sekarang baru tahu rasa! Kau tentunya tidak tuli mendengar binatang-binatang yang kau andalkan menjerit meregang nyawa. Kau tentunya juga tidak buta menyaksikan bagaimana mereka jatuh mampus ke dasar jurang! Hik ... hik... hik...!"

"Perempuan gendut sialan! Jangan cepat-cepat bersuka hati! Lihat ke udara!" terdengar teriakan jawaban dari arah barat. Lalu di udara muncul dua kelelawar besar, satu jantan satu betina. Kunti Rao sebentar terkesiap. "Ini pasti dua biangnya. Lebih besar lebih seram! Tapi siapa takut!"

Dua kelelawar menukik menyerang. Satu dari kiri yang lainnya dari kanan. Kunti Rao tamengi diri dengan dua batang kayu besar. patukan kelelawar jantan menancap di bantang kayu di tangan kiri Kunti Rao, sedang sambaran kepak kelelawar satunya yang tak ubahnya seperti sambaran pisau tajam lewat di atas kepala perempuan gemuk itu, tapi masih sempat memapas sedikit rambut perahnya. Si gemuk ini sempat terpekik kecil.

Disebelah barat terdengar suara tawa orang bernama Sipatoka."Sekarang rasakan olehmu!"

"Kelelawar jahanam! Sebentar lagi kupecahkan kepalamu!" teriak Kunti Rao marah.

Saat itu kelelawar jantan kembali datang menyerbu. Kunti Rao merunduk. Tangan kirinya bergerak. Kayu besar dilemparkan. "Praakkk!" Kayu menghantam telak kepala kelelawar jantan itu. Cicitan binatang ini terputus. Tubuhnya melayang jatuh ke bawah jurang dengan kepala hancur.

Di udara, kelelawar betina melengking keras. Rupanya marah sekali melihat kematian jantannya. Dia tadi yang berhasil memapas rambut Kunti Rao. Binatang ini berputar tiga kali di udara lalu menukik.

Kelihatannya dii seperti hendak menyerang dengan mematuk ke atas batok kepala musuh. Tapi sewaktu Kunti Rao mengelak sambil hantamkan kayu di tangan kanannya, kelelawar ini membuat gerakan membalik. Di lain kejab tubuhnya berputar seperti baling-baling, dua sayapnya laksana golok pendek membabat ke arah leher Kunti Rao.

Kunti Rao keluarkan suara garang. Dia membuat gerakan jatuhkan diri. Dalam keadaan setengah berlutut dia pergunakan kayu besar di tangan kanan untuk menangkis lindungi diri. "Blaakkk! Craasss!" Kayu besar di tangan perempuan gemuk itu terbabat putus!

"Binatang sialan!" maki Kunti Rao. Sisa potongan kayu dilemparkannya ke arah kelelawar betina.

Binatang ini melayang turun. Bukan saja dia berhasil mengelakkan hantaman kayu, tapi secepat kilat dia kembali menyambar ke arah Kunti Rao.

"Binatang celaka! Kau membuat aku kehabisan sabar!" kertak Kunti Rao. Dua tangannya bergerak mencabut dua buah daun yang merupakan pakaiannya. Kelelawar betina datang. Dua lembar daun melesat ke udara.

"Craasss! Craasss!"

Daun pertama menancap di dada kelelawar betina. Daun kedua memapas lehernya. Darah menyembur.

Binatang ini keluarkan jeritan aneh yang keras. Hebatnya, dalam keadaan sekarat dia masih berusaha mengejar ke arah Kunti Rao. Namun sekali menghantamkan tangan kirinya, kelelawar betina itu terlempar jauh ke arah dinding barat jurang dan jatuh di depan kaki seorang kakek yang saat itu tengah melangkah mondar-mandir di depan sebuah goa.

"Jahanam! Kelelawarku mati semua!" orang ini kepalkan kedua tangannya dan hentakkan kaki kanan hingga bebatuan di jurang itu bergetar.

"Datuk Sipatoka! Apa sekarang kau malu mengakui kekalahan?!"

"Perempuan keparat!" maki sang datuk begitu didengarnya suara Kunti Rao dari arah timur. "Jangan buruburu merasa menang dajal gendut!"

"Hik...hik...! Kenyataannya memang begitu Datuk! Kau menang empat kali, aku lima kali dengan ini Apa otakmu sudah tumpul hingga tidak bisa berhitung lagi?! Hik... hik... hik...!"

"Kau akan terima pembalasan dariku Kunti Rao! Sekalipun sampai seratus tahun aku akan mendekam di sini sampai akhirnya kau mampus di tanganku!"

"Huh takaburnya!" ejek perempuan gemuk. Dia mendongak ke atas memandang ke arah puluhan lebah yang masih terbang berputar-putar di dalam jurang, lalu bertepuk beberapa kali. "Lebah-lebahku! Kalian menjalankan tugas dengan baik! Aku berterima kasih! Tugas sudah selesai. Mulai saat ini kalian bukan peliharaanku lagi! Sekarang kalian bebas mau pergi ke mana saja! Tapi ingat, setiap aku memerlukan kalian, jangan terlambat datang!" habis berkata begitu si gemuk bertepuk terus menerus.

"Werrr... werrr.... werrr....!" ratusan lebah berputar-putar di atas kepala si gemuk lalu melesat ke atas jurang.

Kunti Rao baru berhenti bertepuk begitu semua lebah lenyap dari pandangannya.

Kunti Rao menyeringai. Dia memandang ke arah barat. Di kejauhan, samar-samar di balik kabut yang kini mulai mengambang di jurang dilihatnya sosok Datuk Sipatoka melangkah mondar-mandir di depan mulut goa. Kunti Rao tertawa. Mulutnya berucap. "Rasakan olehmu! Sekarang baru tahu rasa! Dikiranya bakalan bisa menguasai jurang batu pualam ini! Huh! Tua bangka tak tahu diuntung! Selama aku masih bercokol di sini jangan harap jurang ini akan jadi wilayah kekuasaanmu! Apalagi mau menguasai dunia persilatan!

Hik... hik... hik...!"

Sementara itu di lereng jurang sebelah barat, seorang kakek melangkah mondar-mandir sabil tiada hentinya memukuli sendiri kepalanya yang botak dan berwarna biru. "Lima bulan aku menyusun rencana!

Mengajar binatang-binatang itu! Ternyata semua mati percuma! Apalagi yang bisa kulakukan agar bisa menyingkirkan perempuan itu dari jurang sebelah timur! Bukan! Bukan cuma menyingkirkan! Tapi membunuhnya! Kalau dia masih hidup berarti bahaya besar bagiku!"

"Datuk Sipatoka!" tiba-tiba menggema seruan Kunti Rao dari arah barat.

"Kuda nil rambut merah! Apa lagi maumu?!" maki Datuk Sipatoka menyebut Kunti Rao yang memang gemuk dan berambut merah.

"Sesudah kalah, apa kau masih terlalu kikir dan sombong untuk berbagi rezeki denganku?!"

"Sampai matipun aku tidak mau berbagai rezeki dengan kau!"

"Aha! Bintang Kalimukus akan muncul tak lama lagi! Petunjuk di mana letak sepasang senjata pusaka itu akan segera muncul! Jika kau tak mau membagi rezeki, berarti dua senjata akan jadi milikku sendiri!"

"Kau tak akan mampu memiliki semua! Kau tahu itu!"

"Siapa bilang tidak mampu! Yang jelas kau pasti akan menyesal! Hik ... hik... hik...!"

"Manusia sialan! Pergilah ke neraka!" teriak Datuk Sipatoka marah.

"Kalau aku ke neraka, pasti aku tidak lupa membawamu datuk! Dan kau akan jalan duluan di depanku!

Hik ... hik... hik...!" ejek Kunti Rao.

"Perempuan setan! Makan tanganku ini!" teriak Datuk Sipatoka, lalu tangan kanannya menyembul di balik lengan jubah kuning.

"Wuttt!" serangkum angin menderu. Di sebelah timur, Kunti Rao melihat ada kilatan cahaya kuning menyambar dan datang ke arahnya cepat sekali. "Wow! Ilmu yang sudah tidak laku masih diperlihatkan!"

ejek perempuan itu. Lalu dia angkat tangan kanannya ke atas. Telapak diputarsentakkan.

"Bettt! Bettt!" dua larik pukulan sakti tanpa warna menggemuruh, menyambut sambaran sinar kuning dari kiri kanan.

"Bessss! Dessss!"

Sinar kuning mental dan buyar hanya satu tombak di depan Kunti Rao. Perempuan gemuk ini merasakan tubuhnya bergetar keras lalu tersandar ke dinding batu. Sesaat wajahnya yang celemongan dengan kulit manggis tampak berubah.

Di dinding jurang sebelah barat Datuk Sipatoka kelihatan tegak terbungkuk-bungkuk sambil pegangi dada.

Dia jatuh berlutut dan cepat kerahkan tenaga dalamnya guna mengatur jalan darah. Dari kepalanya yang botak biru mengepul asap tipis.

"Setan perempuan benar-benar tinggi kepandaiannya!" diam-dia si kakek harus mengakui walaupun dengan memaki. "Tapi bagaimanapun dia tak bisa mengalahkanku bulat-bulat! Sepasang senjata sakti di dasar jurang tak bakal jadi miliknya! Untuk sementara biar kulupakan dirinya. Lebih baik aku meneruskan pekerjaan membuat tali itu. Kalau sudah tiba saatnya, aku bisa dengan mudah dan cepat turun ke dasar jurang!"

Kunti Rao perlahan-lahan luruskan badannya yang gemuk. Dia rapikan susunan daun-daun yang jadi pakaiannya karena dua lembar daun tadi terpaksa dicabutnya untuk menghadapi sepasang kelelawar besar.

"Tua bangka satu itu memang tidak boleh dikasih hati. Lihat saja! Akan aku berikan satu pelajaran telak dan mematikan padanya!"

Si gemuk memutar tubuhnya hendak masuk ke dalam jurang. Tiba-tiba dia mendengar ada suara berdesir di atasnya. "Hah! Apa jahanam itu sudah menyerangku lagi?! Ilmu apa pula yang dikeluarkannya!" ujar Kunti Rao seraya hentikan langkah dan mendongak ke atas. Lalu keluarkan satu seruan keras dari mulut si gendut ini ketika melihat benda apa yang melayang jatuh dari atas jurang tepat ke arahnya disertai satu jeritan perempuan!

Dalam keadaan tercekat Kunti Rao masih sempat berteriak. "Oladalah! Tubuh perempuan bersimbah darah!

Jatuh dari atas jurang! Bagaimana ini? Akan kutangkap atau kubiarkan saja amblas ke dasar jurang batu?"

Perempuan gemuk itu hanya bimbang sesat. Di lain kejab dia melompat ke kiri mencari kedudukan yang tepat untuk menyambut tubuh perempuan berpakaian tipis hijau penuh noda darah mulai dari rambut hingga kaki.

"Hup!" Kunti Rao berhasil menangkap sosok tubuh yang jatuh. "Gila! Darahya berbau anyir busuk!" berucap Kunti Rao. Tubuh yang berhasil ditangkapnya itu dibaringkan di atas batu. Dia memperhatikan dengan mengeryitkan dahi penuh ngeri.

"Perempuan malang. Aku yakin kau masih muda dan berwajah cantik! Tapi mengapa ada yang tega mencelakaimu seperti ini? Di dada dan bahumu ada luka yang begitu besar mengepulkan asap. Lalu heh .. benda apa itu? Paku?" Kunti Rao jongkok di samping tubuhnya. Mukanya yang gembrot celemongan kulit manggis didekatkan ke bagian perut dan memperhatikan tanpa berkesip. "Paku! Benar paku," desis Kunti Rao.

"Paku aneh. Terbuat dari emas. Menancap tepat di pusarnya. Eh, rasa-rasanya aku pernah mendengar tentang paku emas ini. Kabarnya berasal dari daratan Tiongkok. Memiliki kekuatan maha sakti. Mulai dari kekuatan mengobati hingga membunuh!"

Kunti Rao sibakkan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya. "Hemm... Benar nyatanya.

Dia memang memiliki wajah cantik. Meski berlumuran darah seperti ini. Aku tak kenal padanya. Siapa gerangan dirinya? Mengapa bisa jatuh ke dalam jurang seperti ini. Lalu luka-luka mengerikan di tubuhya?" Kunti Rao berpikir sejenak.

Setelah meraba urat besar di leher dan merasakan masih ada hembusan nafas dari lubang hidungnya, Kunti Rao mendukung perempuan itu dan membawanya masuk ke dalam goa. "Orang biasa pasti sudah meregang nyawa akibat luka begini hebat. Di antara bau amis dan busuk darah di tubuhnya aku mencium sekilas bau harum. Perempuan muda ini agaknya bukan perempuan sembarangan."

Sampai di dalam goa Kunti Rao meletakkan perempuan itu di atas sebuah pembaringan terbuat dari batu.

Lalu sibuk meramu beberapa jenis obat. Sebelum itu dia terlebih dahulu menotok tubuh di beberapa tempat.

Sejenis bubuk hitam ditaburkannya ke atas luka pada bahu dan dada. Dia mengalihkan pandangan pada paku yang menancap di pusar. Sesaat Kunti Rao merasa bimbang. Agaknya dia tak punya pilihan lain.

"Rupanya kelemahan perempuan ini ada pada pusarnya. Aku harus mencabut paku di pusarnya itu!"

Kunti Rao ulurkan tangan kanan. Ibu jari dan telunjuk bergerak cepat mencabut paku yang menancap di pusar. Pada saat paku tercabut, dari pusar yang berlobang itu mengucur darah hitam sangat busuk disertai asap. Perlahan-lahan kepulan asap hilang. Tapi begitu lenyap tiba-tiba sebuah benda melesat ke luar dari perut lewat pusar yang bolong itu.

Bagian 2Kunti Rao terpekik keras dan berubah parasnya saking kagetnya. Dari pusar yang berlobang di perut perempuan muda tidak dikenal itu melesat keluar seekor ular hitam berkepala putih. Semula dia menyangka dirinya akan diserang. Cepat Kunti Rao angkat tangan untuk menghantam. Tapi ditariknya tangan ketika melihat ular itu melesat ke atas. Laksana terbang ular itu ke udara lalu lenyap menjadi asap.

"Ular jejadian..!" desis Kunti Rao. "Siapa manusia ini sebenarnya?!" tanyanya dalam hati penuh rasa ingin tahu, lalu cepat-cepat bubuk hitam ditaburkan dalam lobang pusar. Sedikit demi sedikit darah busuk berhenti mengucur dan lobang bertaut kembali. Kepulan asap serta merta lenyap.

"Lobang di pusar itu tidak akan menimbulkan cacat. Tapi luka dada dan bahu walau bisa kusembuhkan rasanya akan meninggalkan bekas sangat buruk. Kasihan perempuan muda cantik ini.. tubuhnya akan cacat seumur hidup. Tak bakal ada lelaki mau dengannya..."

Kunti Rao duduk di samping pembaringan batu. "Eh, apa urusanku memikirkan perempuan ini? Anak bukan, saudara bukan, teman juga bukan? Mati sekalipun apa peduliku? Tapi mungkin dia bisa kumanfaatkan?

Hemm... baiknya kutunggu sampai dia siuman. Harus kuketahui siapa dia adanya. Mungkin, ah! Siapa tahu dia bisa kumanfaatkan untuk menghadapi kakek keparat itu!"

Setelah menunggu sehari semalam, pada pagi kedua selagi Kunti Rao berada di luar goa dia mendengar suara orang batuk-batuk. "Perempuan itu..!" kata Kunti Rao seraya memutar tubuhnya masuk ke dalam goa.

Sesampainya di dalam, dilihatnya perempuan itu sudah duduk di pembaringan batu, bersandar ke dinding dan batuk beberapa kali. Ketika melihat kemunculan Kunti Rao dia cepat-cepat beringsut. Wajahnya memancarkan sikap terkejut, takut dan mengancam.

"Kau sudah siuman rupanya. Syukurlah!" kata Kunti Rao. Perempuan di atas batu pandangi rambut Kunti Rao yang merah acak-acakan itu, mukanya celemongan oleh kulit manggis, tubuhnya yang gemuk gembrot dan tentunya pada keanehan jubahnya yang terbuat dari susunan daun-daun.

"Perempuan gemuk, siapa kau? Apakah kau orang yang menolongku? Berada di mana saat ini aku?!"

"Wah, pertanyaanmu belum-belum sudah banyak betul!" sahut Kunti Rao. "Bagaimana kalau aku yang ganti bertanya. Siapa dirimu? Mengapa ada dua luka besar di tubuhmu. Lalu mengapa ada paku emas di pusarmu? Apa kau jatuh sendiri ke dalam jurang ini, apa ada yang mencelakaimu? Mengapa bisa ada ular hitam kepala putih keluar dari dalam perutmu lewat pusar yang kemudian lenyap menjadi asap! Apa kau manusia atau makhluk jadian?"

Perempuan berpakaian hijau tipis yang duduk di pembaringan batu mula-mula hendak menyemprot marah.

Namun kesadaran masuk dalam benaknya. Agak samar dan masih sulit dia mengingat. Dipandanginya tubuhnya. Di dada dan bahu ada luka mengering tertutup bubuk hitam. Lalu disingkapkannya bagian perut pakaiannya. Di situ juga ada taburan bubuk hitam yang sudah mengering, tepat di bagian pusar.

Tangannya bergerak ke kepala meraba bagian atas kening. Dia ingat biasanya di situ ada mahkota kecil.

"Paku emas...?" desisnya.

"Ya, paku emas!" kata Kunti Rao sambil memperlihatkan sebuah benda tepat di depan wajah perempuan itu.

"Katamu paku emas. Aku melihat benda itu paku biasa. Terbuat dari besi buruk dan hitam!"

"Heh, kau betul! Tadinya paku ini terbut dari emas. Sewaktu masih menancap di pusarmu paku ini masih berwarna kuning emas asli. Tapi begitu kecabut bentuknya berubah menjadi hitam. Pertanda paku ini penuh dengan kekuatan hitam yang tersedot dari dalam tubuhmu!"

Lama perempuan di atas pembaringan itu terpana mendengar keterangan Kunti Rao. "Kau telah menolongku, aku musti berterima kasih kepadamu," dia cepat membungkuk tapi Kunti Rao mencegah.

"Saudari aku..."

Kunti Rao tertawa tergelak-gelak hingga sekujur tubuhnya yang gemuk tergoncang-goncang.

"Ada apa? kenapa kau tertawa? Apakah ada sesuatu yang lucu dari diriku?"

"Perempuan muda kau dengar baik-baik. Kau tak pantas memanggilku dengan sebutan saudari. Karena kau pantas jadi cucuku. Panggil aku nenek!"

"Aku pantas jadi cucumu dan aku harus memanggil nenek?"

"Betul karena usiaku sudah lebih dari enam puluh tahun!"

Tentu saja perempuan di atas batu terkejut mendengar kata-kata itu. "Walau tubuhmu luar biasa gemuk dan berpakaian aneh seperti itu, tapi menurutku kau berusia dua puluh tahunan..."

Kunti Rao tertawa "Yang kuasa memberiku awet muda dan ganjarannya aku punya bobot seperti kerbau seperti ini. Kalau aku boleh memilih, biar wajahku jelek keriput tapi tubuhku langsing! Hik.. hik... hik...!"

Kunti Rao tertawa panjang. Lalu berkata, "Perempuan muda aku ingin tahu siapa dirimu. Apa yang telah terjadi... ingat! Aku tidak orang berdusta padaku!"

"Aku bernama Kunti Arimbi," kata perempuan di atas pembaringan batu.

"Eh, nama depannya kenapa sama denganku?" ujar Kunti Rao dalam hati.

"Aku dikenal dengan julukan Dewi Ular."

Kunti Rao sempat tersurut satu langkah mendengar julukan yang disebutkan. Walau dia sudah lama mendekam di goa batu pualam itu namun dia pernah mendengar nama angker Dewi Ular. Maka dia pun berkata. "Tidak sangka Dewi Ular ternyata masih muda tapi memiliki kesaktian tinggi yang menggegerkan..."

"Semua kehebatan itu sudah berlalu," kata Kunti Arimbi alias Dewi Ular. Dia memandang sayu pada paku hitam di tangan Kunti Rao. "Benda itu yang menyebabkannya. Seseorang mengkhianati dan menipuku.

Dia merayuku dan merangsangku. Memperlihatkan kejantanannya. Ketika kami berdua di suatu tempat dan dia seperti hendak meniduriku tiba-tiba dia mengeluarkan paku emas itu dan menusukkannya ke pusarku..."

"Siapa orangnya?" tanya Kunti Rao.

"Pendekar 212 Wiro Sableng. Murid nenek sakti Sinto Gendeng dari Gunung Gede.."

"Astaga! Pendekar besar itu...!" seru Kunti Rao.

"Aku bersumpah untuk membalas dendam. Apalagi kusadari diriku saat ini selamat dari kematian. Hanya saja tubuhku agaknya akan cacat seumur hidup. Jangankan laki-laki, binatang pun akan jijik melihatku!"

Diam sesaat. "Eh nek, betul aku harus memanggilmu nenek?" Kunti Arimbi meragu.

"Tentu saja, memang seharusnya begitu!"

"Aku berterima kasih kepadamu. Kau telah menyelamatkan diriku. Saat ini tidak mungkin aku membalas segala utang piutang ini! Tapi percayalah walau dulu aku pernah jadi manusia jahat, mengingat budi orang aku masih mampu. Nek, aku harus pergi dari tempat ini. Mohon tunjukkan jalan keluar..."

Perempuan gemuk yang mengaku sudah nenek itu menghela nafas panjang. "Jangan terkejut Kunti Arimbi.

Di sini sama sekali tidak ada jalan keluar. Sekali berada di sini akan mendekam seumur hidup, kecuali..."

"Kecuali apa nek?" Tanya Kunti yang kini walau masih memiliki ilmu silat dan menguasai tenaga dalam tingkat tinggi namun banyak kesaktian luar biasa yang sudah lenyap.

"Kecuali kita bisa mendapatkan sepasang senjata mustika yang terpendam di dasar jurang batu pualam ini!"

"Senjata mustika apa itu?" tanya Kunti Arimbi.

"Sepasang keris sakti. Katanya datang dari kahyangan. Satu keris laki-laki, satu keris perempuan. Jika sudah bisa menguasai kedua keris itu, dunia persilatan sudah di tangan. Dan cacat di tubuhmu bisa hilang dengan menggosokan keris yang perempuan ke bekas luka," ujar Kunti Rao.

Perlahan-lahan Kunti Arimbi turun dari pembaringan batu. "Kau harus mendapatkan itu Nek! Aku akan membantumu!"

"Tidak mudah mendapatkannya Kunti Arimbi. Pertama kita harus mendapat tanda dari langit di mana keris itu terpendam. Di jurang ini ada musuh tangguh yang juga menginginkan keris itu!"

"Siapa?" tanya Kunti Arimbi.

"Namanya Datuk Sipatoka. Dia mendekam di dinding sebelah barat..."

"Kita harus mengalahkannya Nek!" bisiknya. "Kalau saja aku memiliki kesaktian seperti masih jadi Dewi Ular dulu..."

"Nasib peruntungan di tangan Tuhan. Kita manusia mana ada yang tahu. Bukan mustahil suatu ketika kau bisa menyandang gelar Dewi Ular kembali. Bahkan mungkin lebih hebat!"

Kunti Arimbi tersenyum. Sepasang matanya yang dahulu hijau kini kecoklatan menerawang ke depan.

"Sepasang keris sakti itu. Jika aku bisa menguasainya bukan mustahil ucapan nenek gendut ini akan menjadi kenyataan..."

Ketika perempuan muda ini memandang ke seputar ruangan dia melihat sebuah benda berbentuk kerucut dan ada gagangnya tertegak di sudut ruangan batu. "Benda apa itu Nek?"

"Payung raksasa," jawab Kunti Rao. "Dengan payung itu kelak aku akan turun ke dasar jurang..."

"Sebegitu sulitnyakah mencapai dasar jurang?"

"Jurang batu pualam seputar dindingnya berbentuk tegak lurus dan licin. Di sebelah bawah, kabarnya ada kawah mendidih. Tempat berpijak hanya gugusan batu-batu runcing...."

Kunti Arimbi kembali hanya menerawang. Apa yang ada dalam benaknya sulit diduga. "Kalau nasibku harus mendekam di sini, aku rela hidup dan mati bersamamu Nek..."

"Kau perempuan baik. Aku ada rencana bagus untukmu. Kita berdua bisa menghadapi Datuk Sipatoka..."

"Aku rela mati untuk menolongmu. Tapi rasanya ilmu kesaktianku sudah tidak sehebat dulu lagi..."

"Jangan bersedih aku akan menggemblengmu menguasai beberapa ilmu kesaktian. Mungkin tidak sehebat kesaktianmu saat jadi Dewi Ular dulu. Tapi yakinlah tidak akan mengecewakan. Dengar perempuan muda, mulai saat ini aku akan memanggilmu Dewi Ular saja. Perkenalkan namaku Kunti Rao. Digelari orang Iblis Daun Setan..."

Mendengar nama dan julukan itu Kunti Arimbi segera jatuhkan diri.

"Eh, ada apa ini?" kata Kunti Rao.

"Nek, aku mendengar dari guruku bahwa kau adalah saudara sepupunya. Aku menghaturkan perhormatan..."

Kunti Rao tertawa panjang. "Gurumu si Hantu Tangan Geledek itu memang tidak bisa memegang rahasia.

Sayang dia mati muda. Apakah kau sudah mewarisi ilmu tangan geledek darinya?"

Dewi Ular menarik nafas panjang. Lalu menggelangkan kepala. "Rencananya mengajarkan ilmu itu memang sudah ada. Tapi dia keburu meninggal dan aku jatuh ke tangan jahat ratu ular..."

"Kabarnya dia menyimpan kitab pelajaran lengkap pukulan tangan geledek..."

"Aku pernah mencari tapi tidak ketemu. Aku curiga jangan-jangan kitab itu ada pada Ratu Ular. Ratu Ular sendiri tidak diketahui keberadaannya. Entah sudah mati pula...."

"Semua apa yang tidak diketahui kini menjadi jelas kalau kelak aku mendapatkan sepasang keris sakti di dasar jurang itu... Aku senang jika kau mau membantu."

"Aku akan membantumu Nek. Tak usah kau ragukan...." kata Dewi Ular pula. Lalu wajah Sandaka muncul di pelupuk matanya. "Kau juga akan kucari Sandaka. Nyawamu sama tidak bergunanya dengan pendekar 212...!"

"Eh, kau seperti bicara sendirian. Siapa orang bernama Sandaka itu...?" tanya Kunti Rao.

"Sandaka... dia orang kedua yang akan kubunuh setelah Pendekar 212 Wiro Sableng!" jawab Kunti Arimbi.

Di dinding di jurang sebelah barat kakek berkepala botak warna biru mengenakan jubah kuning, yang dikenal dengan nama Datuk Sipatoka, rangkapkan dua tangan didepan dada. Muka dan pandangan matanya diarahkan ke dinding sebelah timur. Dadanya terasa panas akibat pengaruh hawa marah dan penasaran.

"Perempuan setan! Kalau kau merasa sudah menang, nanti lihat saja! Akan kubuat kau minta-minta ampun sampai terkencing-kencing!" dia memandang tak berkesip ke arah kejauhan. Namun pandangannya tertutup oleh kabut yang semakin menebal di seantero jurang. "Kabut sialan! Aku tak dapat melihat apa yang dilakukan perempuan sialan itu!" maki si kakek.

Selagi dia memaki-maki seperti itu tiba-tiba di arah timur di dengarnya ada suara jeritan keras dan panjang.

"Eh, siapa yang menjerit itu! Suaranya suara perempuan!" Datuk Sipatoka miringkan kepalanya sedang kedua matanya coba menembus kabut yang menghalangi, tapi sia-sia. "Rasa-rasanya seperti ada sesuatu melayang jatuh. Apa mungkin perempuan itu tiba-tiba menjadi gila dan jatuhkan diri ke dasar jurang?!" sang datuk berpikir keras.

Lalu dia menjawab sendiri pertanyaannya dalam hati. "Tidak mungkin, bukan dia. Suara jeritan tadi datang dari atas jurang. Berarti yang jatuh berasal dari atas sana. Si kuda nil merah itu bertapa di duapertiga jurang... atau mungkin dia tengah membuat tipuan untukku?! Nah... nah... suara jeritan lenyap..." Datuk Sipatoka arahkan pandangannya ke dasar jurang. "Tak ada benda jatuh di bawah sana. Tapi mana mungkin menyangsang di dinding batu...!" Sesaat sang datuk terdiam merenung. Akhirnya dia kembali memaki sendirian. "Persetan siapa yang menjerit tadi. Peduli apa aku kalau ada sesuatu yang jatuh dari atas jurang!"

Setelah menunggu sesaat, akhirnya Datuk Sipatoka memutar tubuh melangkah ke mulut goa tempat kediamannya. Di dekat pintu tergantung segulung tali. Belum lagi kakek ini mencapai pintu goa tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu melayang jatuh dari bagian atas jurang sebelah timur. Dia cepat putar kembali badannya. Belum sempat dia mendongak, benda yang jatuh kelihatan jungkir balik di udara lalu lenyap sesaat di ketebalan kabut. Ketika benda itu kelihatan lagi, tiba-tiba sudah ada di dinding jurang sebelah barat di mana dia berada, melayang jatuh dengan deras! "Benda aneh, sosoknya seperti manusia tapi hanya mengenakan cawat. Dan, heh, apa yang menempal di kepala, muka dan sekujur tubuhnya?!"

Benda yang jatuh melayang satu tombak di depan Datuk Sipatoka. Mengira sosok itu adalah sesuatu yang dikirim Kunti Rao untuk mencelakainya, Datuk Sipatoka angkat tangan kirinya siap menghantam dengan satu pukulan sakti. Tapi entah mengapa dia batalkan maksudnya. Dengan cepat dia menyambar gulungan tali dekat pintu goa. Sesosok tubuh yang jatuh lewat didepannya. Datuk Sipatoka putar gulungan tali yang dipegangnya. Tali ini berputar deras lalu melesat menyusul ke arah jatuhnya makhluk tadi.

Datuk Sipatoka sentakkan tangannya dua kali berturut-turut. "Bettt! Bettt!" Ujung tali melibat bagian pinggang orang yang jatuh pada ketinggian hanya duapuluh kaki dari dasar jurang di mana menunggu batu-batu runcing. Dua tangan Datuk Sipatoka yang memegang tali tersentak ke depan. Tubuhnya terbungkuk.

"Gila! Manusia atau kerbau yang aku jerat ini! Berat amat!" kata sang datuk. Lalu dia cepat kerahkan tenaga dalam pada kedua kakinya. Dua kaki di balik jubah kuning itu laksana dipantek ke batu yang dipijaknya.

Tubuhnya yang bungkuk perlahan-lahan melurus kembali. Lalu dia mulai menarik sosok tubuh yang dijerat seperti orang menimba. Setiap dia menarik, dari mulutnya keluar ucapan "Hup... hup... hup...!"

Sosok yang dilibat tali dan ditarik Datuk Sipatoka akhirnya sampai ke sisi dinding jurang di mana dia berada, terus digeletakkan di atas batu di depan goa. Begitu melihat bentuk dan sosok tubuh itu sang datuk kaget bukan main. "Makhluk apa ini!? Manusia atau hantu yang menampakkan diri sebagai manusia?

Tubuhnya bergelimang darah kering, penuh paku! Masih hidup atau sudah jadi bangkai?!"

Tidak heran kalau Datuk Sipatoka begitu terkejut. Orang yang tergeletak di depannya adalah seorang pemuda hanya mengenakan cawat. Tubuhnya yang kokoh dan nyaris telanjang itu penuh ditancapi paku.

Bukan saja di bagian badan, tapi juga di bagian kepala dan mukanya."Setan sekalipun tidak ada yang seperti ini!" membatin Datuk Sipatoka.

Dia membungkuk agar bisa memperhatikan lebih jelas. "Masih hidup..." katanya perlahan. Lalu dengan kaki kanan disentuhnya pinggul pemuda itu seraya berseru. "Makhluk aneh! Kalau kau memang manusia, jadilah manusia! Kalau kau pingsan, lekas siuman! Kalau kau pura-pura tidur, ketahuilah aku tak suka orang yang pandai menipu!"

Datuk Sipatoka pergunakan kakinya bukan hanya sekedar menyentuh untuk membangunkan orang tetapi sekaligus menggunakan tenaga dalamnya hingga tersalur ke dalam tubuh pemuda yang ditancapi paku itu.

Saat itulah pandangan si kakek membentur bagian depan cawat yang agak kedodoran. "Gila!" serunya.

"Sampai-sampai di kepala anggota rahasianya juga ada paku yang menancap! Tapi paku yang satu ini bentuk dan warnanya agak aneh..."

Sewaktu sang datuk hendak menyingkapkan cawat itu agar dia bisa melihat lebih jelas, tiba-tiba sosok tubuh si pemuda bergerak. Kedua kakinya naik ke atas. Bersamaan dengan itu tangannya sebelah kanan ikut bergerak dan sepasang matanya membuka. Ketika matanya membentur wajah Datuk Sipatoka pemuda ini berusaha bangkit dengan cepat.

"Kau siuman! Bagus! Pertama sekali yang aku ingin tahu lekas kau terangkan apakah kau ini manusia sungguhan atau makhluk jejadian sebangsa setan dedemit atau hantu jurang!"

Karena baru saja sadar, pemuda yang ditanya tak bisa segera menjawab. Malah terheran-heran mendapatkan dirinya berada di lereng jurang itu berhadap-hadapan dengan seorang kakek berkepala botak biru yang tidak dikenalnya. Ketika dia memandang ke bawah, dilihatnya ada tali aneh menjerat pinggangnya.

Otaknya berpikir, coba mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya. Dari mulutnya meluncur perlahan ucapan yang bisa didengar Datuk Sipatoka.

"Aku jatuh dari atas jurang sana... Seharusnya aku sudah mati. Ada seseorang menyelamatkanku.

Menjerat pinggangku dengan tali dan membawaku ke sini..."

Si pemuda menatap wajah tua di depannya. "Orang tua, pasti kau orang yang telah menolongku..." Datuk Sipatoka tidak mengangguk juga tidak menjawab. Pemuda itu lepaskan tali yang menggelung pinggangnya

lalu bangkit dan duduk bersandar di dinding jurang. "Aku menyesal kau menolongku," katanya.





Bagian 3Datuk Sipatoka melengak. Kening mengernyit dan mata memandang tak berkesip pada manusia paku di depannya. Jelas kakek ini berusaha menekan amarah mendengar kata-kata pemuda itu.

"Seharusnya aku sudah bebas di alam kematian. Karenanya aku tidak perlu mengucapkan terima kasih padamu. Aku benci karena kau telah menyelamatkanku!"

Datuk Sipatoka keluarkan suara menggereng di tenggorokannya. Semula dia hendak membentak marah.

Bagaimana ada manusia begini aneh?! Tidak tahu diri telah ditolong diselamatkan dari kematian malah membencinya dan tak mau berterima kasih! Tidak jadi marah, Datuk Sipatoka malah tertawa gelak-gelak sampai suara tawanya terdengar sampai ke sisi jurang sebelah timur dan membuat Kunti Rao yang ada di dalam goa dongakkan kepala seraya bertanya-tanya. "Ada apa di sebelah sana sampai si tua bangka sialan itu tertawa begitu rupa?! Jangan-jangan dia sudah gila!"

Datuk Sipatoka delikkan mata lalu berkata. "Tidak ada yang minta kau harus berterima kasih. Kalau kau merasa menyesal masih hidup, silakan kau lihat ke bawah. Jurang masih dalam. Kawah mendidih dan batubatu runcing siap menunggu. Kalau kau memang mau mampus, jatuhkan saja dirimu kembali!"

Kini si pemuda yang jadi terkesiap. Datuk Sipatoka angkat kakinya ke arah tubuh si pemuda dan membuat gerakan siap untuk mendorong. "Kalau kau sekarang jadi takut bunuh diri biar aku bantu mendorong tubuhmu agar jatuh ke dasar jurang!" kaki kanan sang datuk bergerak.

"Tunggu!" si pemuda cepat berseru. Tangan kanannya diangkat. Datuk Sipatoka terkejut. Tangan yang menahan telapak kakinya itu laksana batu karang kokoh yang tidak bisa digoyangkan.

"Hemmm...., manusia aneh ini agaknya bukan orang sembarangan. Dia memiliki tenaga dalam tingkat tinggi.

Buktinya, sanggup menahan tekanan kakiku!"

Datuk sipatoka batuk-batuk beberapa kali lalu turunkan kakinya. "Anak muda aneh. Coba terangkan siapa dirimu. Mengapa memilih mati daripada hidup. Lalu aku juga kepingin tahu mengapa keadaanmu seperti ini.

Kurasa setan di neraka pun tidak seseram dan seburuk dirimu ini!"

Orang yang ditanya memandang ke dasar jurang lalu pandangannya ditujukan pada dirinya sendiri.

Setelah itu diangkatnya kepalanya berpaling pada Datuk Sipatoka. "Namaku Sandaka. Aku manusia sesat yang jatuh ke tangan Dewi Ular. Menjadi budak nafsu dan budak kekuasaannya. Dia ingin menguasai dunia persilatan dengan memperalat diriku..."

Datuk Sipatoka manggut-manggut beberapa kali. Lalu dia tertawa. "Kalau kau dijadikan budak nafsu itu pasti enak ya?! Ha... ha... ha...!"

Meski diejek, Sandaka diam saja.

"Kalau kau diperalat untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi di rimba persialatan berarti kau memiliki kepandaian luar biasa. Aku memang pernah mendengar nama Dewi Ular. Jadi kau orangnya yang diperalat untuk membunuh beberapa tokoh persilatan..."

"Lebih jahat dan keji dari itu. Dia juga menyuruhku membunuh kekasih, calon istriku. Dia juga yang memerintahkan aku membunuh guruku Eyang Gusti Kelud Agung..."

"Astaga! Kau rupanya tak kepalang sesat! Tapi mengapa semua itu mau saja kau lakukan?!" tanya Datuk Sipatoka.

"Aku terjebak! Masuk dalam perangkapnya setelah darahku tercemar oleh racun jahat yang ada dalam cairan tubuhnya..."

"Gila! Baru sekali ini kudengar yang seperti ini!" seru Datuk Sipatoka. "Mengapa kau jatuhkan diri ke dalam jurang? Mengapa sengaja mencari mati? Siapa yang memantek tubuhmu dengan paku seperti ini? Lalu kulihat ada paku aneh berwarna kuning pada kepala kemaluanmu!"

"Panjang ceritanya... Biar kujelaskan singkat-singkat saja," jawab Sandaka. "Aku memilih mati karena merasa tak ada guna lagi hidup. Dosaku sedalam lautan setinggi puncak Merapi. Aku menganggap kalaupun aku mati, aku bisa mati dengan puas. Karena sebelumnya aku berhasil membunuh Dewi Ular dan menendangnya masuk ke dalam jurang..."

"Ah! Tadi aku mendengar jeritan perempuan. Aku juga melihat ada sosok tubuh jatuh. Jadi Dewi Ular sudah tamat riwayatnya..." Sandaka mengangguk.

"Kau belum menceritakan mengapa kepala, muka dan sekujur tubuhmu sampai ke kaki dipantek dengan paku seperti ini..."

"Seorang sakti bernama Datuk Bululawang yang melakukannya. Paku-paku ini bukan paku sembarangan.

Berjumlah tigapuluh dan terbuat dari baja putih murni! Datuk Bululawang melakukannya karena dengan paku-paku ini dia sanggup melumpuhkan sekaligus menguasai diriku! Maksudnya sama kejinya dengan tujuan Dewi Ular. Ingin memperalat diriku untuk menguasai dunia persilatan. Tapi tidak kesampaian.

Beberapa tokoh silat menghajarnya sampai babak belur. Keadaannya entah mati entah masih hidup.

Kusumpahi agar dia memang sudah jadi bangkai saat ini!"

Datuk Sipatoka geleng-geleng kepala. "Makin tua umur dunia ini makin macam-macam keanehan terjadi!"

Dia memandang ke bawah perut Sandaka. "Paku berwarna kuning itu..." katanya seraya menunjuk pada bagian tubuh Sandaka sebelah bawah yang tersingkap. "Kelihatannya buka paku biasa... Sinarnya sinar logam murni..."

"Ini paku emas. Paku yang membuat diriku bersih dari racun jahat cairan Dewi Ular. Sekaligus membuat musnahnya ilmu kesaktian yang kudapat darinya..."

"Apakah Datuk Bululawang juga yang menancapkan paku emas itu di alatmu?"

Sandaka menggeleng. "Seorang pemuda sakti bergelar Pendekar 212 yang melakukan..."

"Dia bukan pemuda sembarangan..."

Sandaka mengangguk. "Dia memiliki senjata mustika berupa kapak bermata dua. Dengan senjata itu aku mencabik-cabik tubuh Dewi Ular. Aku merasa seperti berhutang budi padanya... Hanya sayang aku tidak memiliki ilmu kesaktian lagi."

"Kau masih mempunyai dasar tenaga dalam yang hebat Sandaka. Aku... Hemmm..." Datuk Sipatoka usapusap kepala botaknya yang berwarna biru.

Sebelumnya, Sandaka memiliki kemampuan untuk mengetahui apa yang ada di benak seseorang.

Namun setelah tubuhnya ditancapi paku emas, kemampuan itu ikut lenyap bersama musnahnya kesaktian yang didapatnya dari Dewi Ular.

"Kau masih muda. Memiliki dasar ilmu silat yang jarang dimiliki orang lain. Dengar Sandaka, aku akan menggemblengmu di tempat ini. Kelak kau akan jadi pendekar hebat kembali, walau tidak sehebat ketika kau berada di bawah pengaruh Dewi Ular. Kalau itu kejadian. aku butuh bantuanmu untuk menghadapai seseorang..."

"Kau punya musuh besar rupanya. Siapa dirimu kalau aku boleh tahu? Siapa pula yang jadi musuhmu?" tanya Sandaka.

"Aku dipanggil orang dengan sebutan Datuk Sipatoka. Nama yang hampir tidak dikenal dalam dunia persilatan. Tapi ketahuilah. Sebagian rimba persilatan saat ini sudah ada dalam tanganku... Aku hanya menunggu waktu dan menyingkirkan seorang nenek gendut sialan yang mendekam di sisi jurang sebelah barat. Namanya Kunti Rao, bergelar Iblis Daun Setan. Nah sekarang apakah kau masih ingin bunuh diri?"

"Kau telah tolong menyelamatkan diriku dari kematian. Walau aku masih merasa tidak ada gunanya hidup, namun mengingat budi baikmu aku bersedia membantumu menghadapi Iblis Daun Setan. Tapi... apa aku bisa menjadi pendekar hebat seperti yang kau bilang?"

"Jangan khawatir Sandaka. Aku akan buktikan dan nanti kau akan lihat sendiri hasilnya!" jawab Datuk Siptoka seraya tepuk-tepuk bahu pemuda itu. Sambil menepuk dia kerahkan tenaga dalamnya. Tubuh Sandaka seperti diguncang tapi tetap duduk tersandar. Orang lain mungkin sudah terjerembab roboh.

Datuk Sipatoka menyeringai. Diam-diam dia merasa gembira mendapatkan pemuda ini. "Satu hal yang harus segera kau lakukan Sandaka, cepat cabut paku emas yang menancap di kemaluanmu itu!"

Sandaka ulurkan tangan kanannya. Jari-jarinya mencengekeram kepala paku emas. Terasa sangat panas.

Pemuda ini kerahkan tenaga. Sekali tarik saja paku emas itu tercabut dari tempatnya menancap.

Bersamaan dengan itu secara aneh paku yang tadinya berwarna kuning berubah menjadi hitam.

"Racun jahat benar-benar telah terkuras habis dari tubuhmu. Buktinya paku emas telah berubah hitam.

Tidak beda seperti paku besi biasa..." kata Datuk Sipatoka pula. Sandaka tarik nafas panjang lalu berkata, "Satu paku berhasil dicabut. Tigapuluh lagi masih menancap di kepala, muka dan tubuhku. Apakah bisa kusingkirkan dengan jalan mencabutnya datuk?"

"Jangan terlalu berani bertindak anak muda. Paku-paku itu bukan benda sembarangan. Lagipula kulihat menancap sampai jauh di dalam tubuhmu. Ada saatnya benda-benda itu bisa kita singkirkan. Kelak kalau sepasang keris sakti di dasar jurang itu sudah kumiliki, mencabut paku-paku celaka itu hanya satu urusan gampang seperti membalik telapak tangan..."

"Sepasang keris sakti di dalam jurang? Datuk, apa maksudmu?"

"Pertanyaanmu tidak akan kujawab sekarang. Harap kau bersabar sampai aku merasa tiba saatnya untuk menerangkan padamu..." jawab Datuk Sipatoka.

Bagaimana kisah Dewi Ular dan Sandaka jatuh lalu masuk jurang batu pualam, kita kembali dulu pada apa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Seperti dituturkan dalam episode I (Dendam Manusia Paku)



Dewi Ular mengajak Pendekar 212 Wiro Sableng ke tempat kediamannya, yakni sebuah bangunan terbuat dari batu pualam terletak di lereng bebukitan batu. Tepat di depan bangunan terhampar sebuah jurang yang menurut pandangan mata dalamnya sekitar enampuluh kaki. Tetapi sebenarnya jurang ini memiliki kedalamannya lebih dari seratus duapuluh kaki.

Di bangunan batu pualam, Dewi Ular sengaja memancing murid Eyang Sinto Gendeng untuk membuktikan kejantanannya. Sebaliknya, kesempatan ini digunakan oleh Wiro untuk menancapkan paku emas ke pusar perempuan itu. Begitu paku menghujam dalam ke pusar Dewi Ular, serta merta ilmu kesaktian perempuan yang dianggap setengah manusia setengah iblis ini menjadi punah.

Walaupun demikian ketika Wiro bertindak lengah Dewi Ular berhasil menendang perut sang pendekar.

Selagi dia terkapar, Dewi Ular berusaha mengambil Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro yang terjatuh di lantai bangunan. Saat itulah Sandaka si manusia paku tiba-tiba muncul di tempat itu. Dia berhasil menguasai senjata mustika. Dengan kapak sakti ini dia kemudian membabat tubuh Dewi Ular dua kali berturut-turut hingga luka besar mengerikan terkuak di bahu kiri dan dada perempuan itu.

Dalam keadaan luka parah bersimbah darah, di tepi jurang Dewi Ular berusaha minta pertolongan Wiro.

Namun Sandaka bertindak lebih cepat. Sekali tendang saja tubuh perempuan itu terpental dan jatuh ke dalam jurang. Setelah jeritan Dewi Ular lenyap di dalam jurang, kesunyian mengerikan menggantung di tempat itu. Sandaka mengembalikan kapak sakti ke Wiro, lalu memutar tubuh melangkah ke tepi jurang.

Wiro cepat menangkap apa yang ada di kepala pemuda itu. Dia mengejar tapi terlambat. Sandaka lebih dulu menjatuhkan dirinya ke dalam jurang batu pualam.

Selagi Wiro tegak termangu-mangu di tepi jurang, tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang berpakaian serba ungu yang ternyata adalah Anggini, murid Dewa Tuak. Setelah tahu apa yang terjadi, Anggini yang merasa keadaannya seolah-olah terkatung-katung karena baik Wiro maupun Eyang Sinto Gendeng sebegitu jauh tidak memberikan tanda-tanda kepastian mengenai perjodohan mereka memandang ke langit. Udara kelihatan mendung berat.

"Satu malapetaka besar telah lewat..." berucap Anggini. Dia masih memandang ke langit di atasnya.

"Sebentar lagi agaknya akan turun hujan lebat. Kita harus segera meninggalkan tempat ini Wiro..."

"Kau pergilah duluan. Di kaki bukit batu tak jauh dari ujung jalan ada sebuah dangau. Tunggu aku di sana ..."

"Kuda ini cukup kuat untuk kita tunggangi berdua..." ujar sang dara pula.

Wiro tersenyum. "Agaknya rasa jengkelnya terhadapku sudah lenyap. Hemmm... kalau begini tanpa disadarinya dia menunjukkan sikap baik dan mesra..." membatin murid Sinto Gendeng. Lalu pada Anggini dia berkata. "Kau lihat sendiri, badan dan pakaianku kotor. Kau berangkat saja duluan, nanti aku menyusul..."

Anggini mengangguk. "Kulihat badan dan pakaianmu memang kotor. Dari mana kau dapat pakaian aneh itu? Mau-mauan memakai pakaian perempuan..."

"Hanya pakaian ini yang kutemui ketika berhasil keluar dari sarang Dewi Ular, setelah guruku Eyang Sinto Gendeng menghancurkan tempat itu..."

"Pakaianmu boleh aneh dan kotor. Namun satu hal aku tahu... hatimu bersih..."

Wiro tertawa lebar. "Untuk pujian itu aku akan pergi bersamamu sampai di mana pun juga!" lalu Pendekar 212 Wiro Sableng melompat ke atas kuda, duduk di belakang Anggini.

Hanya beberapa saat saja setelah sepasang muda-mudi itu meninggalkan tepi jurang dan mulai menuruni lereng bukit, dari balik sebuah batu besar seorang lelaki separuh baya, berpakaian ringkas warna hijau dengan sebilah pedang pendek tersisip di pinggangnya cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Agaknya ia tidak sempat melihat kejadian jatuhnya Dewi Ular dan Sandaka ke dalam jurang. Bilamana dia mampu menyelinap di balik batu besar tanpa Pendekar 212 Wiro Sableng maupun Anggini mengetahui, jelas lelaki berpakaian hijau ini memiliki kepandaian tinggi.

Orang ini menyelinap di antara batu-batu besar di bebukitan hingga akhirnya sampai di satu tempat yang agak rata. Di tempat ini kelihatan sembilan orang tegak mengelilingi sebuah tandu. Delapan di antaranya mengenakan pakaian prajurit kerajaan. Mereka bertugas sebagai pengusung tandu secara bergantaian.

Orang kesembilan adalah seorang tua berjanggut dan berambut kelabu. Tidak seperti yang lainnya, orang tua ini kelihatan asyik membaca sebuah kitab bertuliskan huruf-huruf kuno. Melihat bentuk dan warna kitab tersebut agaknya berusia puluhan tahun.

Di atas tandu beratap ijuk, duduk seorang lelaki bermuka pucat mengenakan jubah mewah berwarna merah pekat. Pada dada kirinya tersemat sebentuk hiasan emas berupa lambang agung keraton. Delapan orang prajurit dan dan orang yang duduk di atas tandu segera berpaling begitu lelaki berpedang muncul.

Sebaliknya, orang tua berambut kelabu terus saja membaca kitab sambil berdiri seolah tidak memperdulikan keadaan dan orang-orang sekitarnya.

Lelaki berpedang dan berpakaian ringkas hijau menjura di hadapan orang yang duduk di atas tandu.

"Pangeran Ipong Nalakudra, saya datang memberi laporan."

Ternyata lelaki bermuka pucat berpakaian merah pekat itu adalah seorang pangeran. Dia anggukkan kepala lalu berkata. "Beritahu hasil pengintaianmu..."

Lodaya Surakali, lelaki separuh baya segera menjawab. "Murid nenek sakti Sinto Gendeng dan murid kakek berjuluk Dewa Tuak itu memang benar saya lihat berada di dekat jurang batu pualam. Tak lama saya sampai di sana mereka segera berlalu. Saya menaruh syak wasangka penuh keduanya memang mengetahui kalau sepasang keris Nagasona terpendam di dasar jurang. Mereka pergi begitu saja pertanda belum saatnya mereka turun ke dalam jurang guna mengambil kedua keris sakti tersebut..."

"Atau mungkin mereka pergi karena diam-diam sudah mengetahui kahadiranmu di tempat itu. Mereka pergi hanya sekadar berpura-pura..." kata Pangeran Ipong Nalakudra.

Lelaki berpedang gelengkan kepala. "Saya dengar mereka bicara hendak pergi ke satu tempat."

"Jadi kau tahu ke mana mereka pergi?" tanya sang pengeran.

"Mereka pergi ke sebuah dangau di kaki bukit. Saya yakin keduanya hendak bermesraan di tempat itu..."

Pangeran Ipong Nalakudra tersenyum. Sesaat mukanya yang pucat tampak kemerahan. "Bagaimana kau bisa yakin mereka hendak bermesraan?"

"Saya tahu, antara keduanya terjalin hubungan khusus sejak lama. Dangau di kaki bukit satu tempat sepi.

Perlu apa sepasang muda-mudi pergi ke sana kalau bukan hendak bercumbu?"

"Lalu apa yang hendak kau lakukan kini Lodaya? Kita sudah melakukan perjalanan hampir lima hari.

Tubuhku sangat letih. Kurasa semua orang yang ada di sini juga sudah kecapaian!"

"Saya mengerti pangeran. Kalau pangeran suka, harap kembali saja ke kotaraja. Saya akan melanjutkan pengintaian seorang diri sampai akhirnya mengetahui kapan mereka akan turun ke jurang batu pualam mengambil dua keris sakti itu."

"Ingat Lodaya, mereka tidak boleh lepas. Tidak boleh lolos! Kalau mereka berhasil mendapatkan sepasang senjata mustika itu dan kau tidak berhasil merampasnya, berarti aku akan cacat seumur hidup! Dan kegagalanmu itu harus kau bayar mahal Lodaya!"

"Saya tahu betul Pangeran Ipong," jawab Lodaya Surakali. "Percayalah, mereka tak akan lolos dari tangan saya..."

Orang tua berjanggut dan berambut kelabu di samping tandu yang masih asyik membaca kitab tua batukbatuk

beberapa kali. Pangeran muka pucat berpaling pada si orang tua. Begitu juga yang lainnya, termasuk Lodaya.

"Ki Sepuh Dulantara," menegur Pangeran Ipong. "Dari tadi kau berdiam diri saja. Apa sekarang ada yang hendak kau katakan?"

Orang tua itu membungkukkan badannya sedikit pada Pangeran Ipong Nalakudra. "Pangeran, saya mana berani bicara kalau tidak diminta. Saat ini saya hanya akan membaca apa yang tertulis dalam Kitab Seribu Petunjuk Kuna ini." si orang tua arahkan pandangannya pada kitab yang dipegangnya. Lalu dia mulai membaca.

"Bilamana Bintang Kelimukus muncul di langit malam, itulah satu pertanda terbukanya satu rahasia besar mengenai sepasang keris sakti berusia lebih dari dua abad terpendam di dasar jurang batu pualam, di satu tempat di mana tidak sembarang orang bisa mengetahui. Air mendidih di dasar jurang akan surut dan kering secara ajaib. Di antara dua celah batu runcing akan kelihatan dua sinar mencuat ke atas menembus tanah dan bebatuan. Sinar merah kehitaman berasal dari keris jantan. Sinar kuning kehitaman itulah dari keris betina. Barang siapa menguasai kedua keris itu, maka dia akan menjadi raja diraja ilmu pengobatan, akan menjadi raja diraja dunia persilatan. Pertanyaan kini kapan dan siapa yang tahu saat munculnya Bintang Kelimukus yang konon hanya memperlihatkan diri di langit sebelah tenggara sekali dalam tujuhpuluh tahun.

Petunjuk dalam buku ini tidak akan ada artinya kalau manusia tidak mempergunakan akal. Karena itu..."Bagian 4Bacaan Ki Sepuh Dulantara belum selesai, tiba-tiba di langit yang saat itu gelap oleh awan mendung berkiblat cahaya kilat, disusul menggelegarnya guntur. Bukit batu itu bergetar keras. Selagi semua orang yang ada di situ terbalut oleh kejut dan rasa ngeri, tiba-tiba di saat yang bersamaan berkelebat satu bayangan disertai suara mendesis keras. Selarik asap kuning menyambar kearah orang tua berambut dan berjanggut kelabu itu.

Sebagai orang berkepandaian tinggi dan memiliki segudang pengalaman, Ki Sepuh Dulantara maklum kalau asap kuning yang menyambar ke arahnya mengandung racun jahat. Cepat orang tua ini menyingkir ke kiri.

Tangan kanannya menghantam ke depan. Selarik angin dahsyat menderu. Asap kuning langsung buyar berantakan. Namun saat itu pula terdengar seruan Ki Sepuh Dulantara. Kitab Seribu Petunjuk Kuna terlepas dari tangannya. Salah satu halamannya robek. Seseorang telah merampas kitab yang sangat berharga itu!

Dalam kejut yang amat sangat Ki Sepuh Dulantara, Lodaya Surakali dan Pangeran Ipong Nalakudra serta semua yang ada di situ melihat seorang perempuan tegak di tempat agak ketinggian. Dialah yang telah merampas kitab berharga itu karena kini kitab itu tampak berada dalam kepitan tangan kirinya.

Perempuan ini tidak bisa disebut muda lagi. Namun walau masih berusia agak lanjut, wajahnya menyatakan bahwa di masa muda, paling tidak sampai beberapa tahun sebelumnya, dia memiliki paras yang sangat cantik. Dia tegak dengan menyeringai. Barisan giginya tampak rata dan bercahaya. Dia mengenakan pakaian berbentuk kemben terbuat dari kain halus. Dadanya yang besar menggembung, seharusnya tampak putih menggairahkan. Tetapi tidak bagi semua mata laki-laki yang ada di tempat itu.

Penyebabnya karena di lehernya yang jenjang bergelung seekor ular berwarna hitam belang kuning. Di kepalanya dia mengenakan sebentuk mahkota terbuat dari sosok ular hijau yang telah dikeringkan.

"Ratu Ular!" seru Ki Sepuh Dulantara dengan suara bergetar begitu mengenali siapa adanya perempuan di hadapannya. Mendengar nama yang disebutkan itu, yang lain-lain jadi tercekat. Lodaya Surakali melirik pada Pangeran Ipong lalu memberi tanda bahwa kemunculan Ratu Ular di tempat itu membawa satu bahaya besar. Yang jelas, dia sudah merampas Kitab Seribu Petunjuk Kuna.

Perempaun di hadapan Ki Sepuh Dulantara tersenyum. "Bertemu cuma satu kali, itu pun sepuluh tahun silam. Ternyata kau masih mengenali diriku!"

"Orang hebat berkepandaian tinggi, menggetarkan tujuh penjuru angin, siapa yang tak kenal padamu Ratu Ular?" sahut Ki Sepuh Dulantara.

Ratu Ular tertawa tinggi. Dia melirik pada Lodaya Surakali dan Pangeran Ipong Nalakudra lalu berkata.

"Seorang pangeran sampai jauh-jauh berada di tempat ini, tentu ada sesuatu yang luar biasa dan sangat penting. Ki Sepuh Dulantara, bisakah kau menerangkan mengapa kalian berada di sini?"

"Ah, Ratu Ular bicara jumawa. Sebagai orang berkepandaian tinggi, tentu kau sudah menyerap kabar dan tahu apa sebab kami berada di sini. Nyatanya kau sendiri berada di sini..."

"Orang tua, aku suka sikap bicaramu. Tapi aku tidak suka menyembunyikan sesuatu. Aku kemari untuk mencari jejak muridku Dewi Ular. Dia tidak kutemukan. Tapi aku merasa bersyukur karena sekali pun tidak bertemu muridku namun bisa mendapatkan kitab hebat ini..." sahut Ratu Ular pula.

Pangeran Ipong melihat gelagat yang kurang baik ini cepat memasuki pembicaraan. "Kami di sini dalam rangka mencari sejenis obat yang kabarnya mampu menyembuhkan kedua kakiku yang lumpuh..."

"Oh, begitu...?" Ratu Ular memperhatikan sepasang kaki Pangeran Ipong yang tertutup jubah merah.

"Sayang sekali aku tak bisa membantu menemukan obat itu. Sayang juga aku tidak punya banyak waktu.

Aku harus pergi sekarang. Terima kasih untuk buku yang kau berikan ini!"

"Ratu Ular, tunggu!" berseru Ki Sepuh Dulantara.

Perempuan berkemben kain halus itu berpaling. "Orang tua, ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?"

"Kitab itu, aku tidak merasa pernah memberikannya padamu!"

"Ah, begitu? Mungkin kau lupa?"

"Ki Sepuh Dulantara benar!" berkata Pangeran Ipong dari atas tandu. "Kami semua di sini tahu dan melihat.

Dia tidak pernah memberikan kitab itu padamu. Kau merampasnya!"

"Oh, begitu?! Aku merampasnya?!" ujar Ratu Ular, lalu tertawa panjang. "Bukan main! Kalau begitu betapa jahatnya diriku! Padahal aku sebenarnya sudah sangat berbaik hati pada tua bangka buruk rambut kelabu ini!"

Paras Ki Sepuh Dulantara tampak berubah. Kalau orang lain bicara begitu padanya pasti sudah dilabraknya.

Tapi maklum kalau dia berhadapan dengan orang berkepandaian sangat tinggi dan terkenal ganas, maka dia berusaha bersikap sabar. "Berbaik hati bagaimana maksudmu Ratu Ular?"

"Berbaik hati karena aku hanya merampas kitabmu, tidak ikut merampas nyawamu!"

Ki Sepuh Dulantara sampai tersurut satu langkah mendengar ucapan Ratu Ular. Di atas tandu, PAngeran Ipong memberi tanda pada Lodaya Surakali. Lelaki separuh baya berpedang pendek ini segera maju ke hadapan Ratu Ular. "Ratu Ular, Pangeran meminta padamu agar segera mengembalikan kitab itu..."

"Hemmm... siapa kau?" tanya Ratu ULar dengan sikap memandang rendah walau hatinya tertarik juga melihat kegagahan wajah lelaki ini.

"Aku Lodaya Surakali. Biasa dipanggil dengan gelar Pendekar Pedang Pendek. Aku bekerja untuk Pangeran Ipong."

"Jadi kau orang keraton. Bagus, katakan pada pengeranmu mengapa dia tidak bisa bicara sendiri padaku meminta kitab ini?"

"Sudahlah, mengapa hal itu menjadi urusan. Aku mohon kitab itu diserahkan padaku. Itu merupakan salah satu benda pusaka keraton."

"Kalau ini merupakan benda pusaka keraton, mengapa bisa berkeliaran di luar. Jangan-jangan pangeranmu telah mencurinya untuk kepentingan sendiri!"

"Ratu Ular!" teriak Pangeran Ipong dari atas tandu. "Kau tak layak tahu tentang segala hal menyangkut kitab itu. Yang penting lekas serahkan pada orangku lalu angkat kaki dari sini..."

"Pangeran lumpuh! Kalau aku tidak mengembalikan kitab ini kau mau berbuat apa?!" tanya Ratu Ular dengan wajah mengejek.

"Jangan terlalu sombong Ratu Ular. Aku bisa memerintahkan penangkapan atas dirimu. Jangan sampai kau menyesal seumur-umur!" jawab Pangeran Ipong sementara Ki Sepuh Dulantara yang telah banyak siapa adanya Ratu Ular tampak berdiri gelisah.

Ratu Ular tertawa panjang mendengar kata-kata sang pangeran. Pangeran Ipong jadi habis kesabarannya.

"Lodaya! Ambil kitab itu, kalau dia melawan, bunuh!"

Dalam hati Ki Sepuh Dulantara mengeluh cemas. "Pangeran belum tahu tingginya tingkat kepandaian perempuan itu. Juga belum tahu keganasannya. Aku harus cepat mencegah sambil mengatur siasat..."

Orang tua berambut kelabu cepat bergerak mendekati LOdaya Surakali. Tapi orang yang berjuluk Pendekar Pedang Pendek sudah keburu berkelebat. Tubuhnya berubah menjadi bayangan hijau warna pakaiannya.

Tangan kirinya mendorong ke arah bahu Ratu Ular sedang tangan kanan menyambar ke arah kitab dalam kepitan tangan kiri.

Ratu Ular keluarkan tawa melengking. Dia hanya tegak bertolak pinggang. Sedikit pun tidak bergerak.

Yang membuat gerakan justru ular besar belang hitam kuning yang bergelung di lehernya. Binatang ini mendesis keras lalu gelungannya terlepas dan tubuhnya menyambar ke arah Lodaya Surakali. Kepalanya mematuk cepat ke arah muka lelaki berjuluk Pendekar Pedang Pendek ini.

Semua orang yang menyaksikan melengak tegang. Mereka melihat bagaimana patukan ular datang lebih cepat dari gerakan dua tangan Lodaya Surakali yang berusaha memukul bahu lawan dan merampas kitab.

"Binatang jahanam!" maki Lodaya. Dia terpaksa mencari selamat. Sambil merunduk, tangan kanannya bergerak cepat mencabut pedang pendek di pinggang. Lalu "Wuuuuttt!" sinar putih pedang yang terbuat dari besi bercampur perak murni menyambar disertai deru angker. Sekejap lagi putuslah leher ular hitam belang kuning itu.

Tapi apa lacur. Yang terjadi malah kebalikannya. Bukan ular itu yang celaka, namun Lodaya Surakali yang terdengar menjerit keras. Pedang perak terlepas dari genggamannya. Kedua tangannya kini dipergunakan untuk menekap mata kiri yang kini telah jebol mengucurkan darah akibat patukan ular besar. Sekali lagi orang ini menjerit lalu lututnya menekuk. Sesaat kemudian tubuhnya roboh tergelimpang. Kulit di sekujur tubuhnya, mulai dari muka hingga ke ujung kaki kelihatan menghitam akibat racun ular!

Ratu Ular menyeringai, memandang pada Pengeran Ipong lalu pada Ki Sepuh Dulantara. Kitab masih berada dalam kepitan tangan kiri, sedang tangan kanan dipergunakan untuk mengusap-usap kepala ular besar yang saat itu kembali bergelung di lehernya. "Ada lagi yang kepingin cepat-cepat menghadap Raja Akhirat?!" tanyanya. Tak ada yang berani menjawab. Juga tak ada yang berani bergerak.

Hujan turun rintik-rintik tak lama setelah Wiro Sableng dan Anggini tiba di dangau di kaki bukit batu.

"Kurasa ada keanehan ketika Dewi Ular jatuh ke dalam jurang batu..." Wiro membuka pembicaraan sambil memperhatikan pakaian yang dikenakannya, yaitu pakaian perempuan yang didapatnya sewaktu menyelamatkan diri dari tempat kediaman Dewi Ular.

"Keanehan apa maksudmu?" tanya Anggini.

"Jurang batu itu dari atas kelihatannya cuma sedalam enampuluh kaki. Tapi pandangan mata bisa salah karena sebenarnya dasar jurang lebih seratus kaki..."

"Itu keanehan yang kau maksudkan?"

Wiro menggeleng. "Waktu perempuan itu jatuh dia menjerit keras. Namun suara jeritannya mendadak lenyap pada kedalaman yang aku yakin belum mencapai dasar jurang. Sesuatu terjadi dengan dirinya..."

"Bisa saja dia jatuh pingsan selagi melayang jatuh. Atau kepalanya membentur batu jurang..." kata murid Dewa Tuak pula.

"Dugaanmu yang pertama mungkin saja. Dugaan kedua kurasa tidak, karena dinding jurang lurus sampai ke dasar. Aku khawatir kalau sesuatu terjadi dengan dirinya..."

"Hemmm, kau mengkhawatirkan dirinya. Justru itu yang aneh!"

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. "Bukan khawatir apa. Yang aku khawatir kalau-kalau dia tidak mati.

Ada yang menolong..."

"Hantu atau setan jurang?"

Wiro tak bisa menjawab. Dalam hati dia tetap saja merasakan ada sesuatu.

"Daripada membicarakan perempuan itu, lebih bagus kau menceritakan padaku bagaimana kau bisa mengenakan pakaian perempuan seperti ini?"

"Ah! Ini..." Wiro tertawa lebar dan kembali garuk-garuk kepala. Dia merasa tidak ada perlunya menyembunyikan apa yang terjadi antara dia dan Dewi Ular di bangunan batu pualam. Anggini

mendengarkan dengan wajah bersemu merah.

"Gila! Itu pekerjaan yang paling berat dalam hidupku! Kalau aku tidak dibebani tugas mahabesar, mungkin bukan paku emas itu yang aku tancapkan pada tubuhnya!"

Anggini memalingkan wajahnya mendengar kata-kata Pendekar 212. Dalam hati dia berkata. "Tabiatnya masih tidak berubah sejak dulu. Bicara seenaknya..."

"Eh, mengapa kau memalingkan muka dan tiba-tiba jadi diam saja?" tanya Wiro sambil mengulum senyum.

"Kau masih untung..." sahut Anggini.

"Untung bagaimana?"

"Waktu gurumu meledakkan sarang Dewi Ular, kau masih bisa menemukan pakaian walau pakaian perempuan. Kalau di sana tak ada pakaian kau bisa memperkirakan bagaimana keadaanmu saat ini..."

Wiro terdiam lalu tertawa tergelak. "Kau betul! Aku masih untung walau jadi seperti banci begini! Tapi sudahlah, mengapa kita harus membicarakan perempuan ular itu. Kukira ada baiknya kita membicarakan hubungan kita..."

Anggini menatap paras si pemuda dengan hati bergetar.

"Selama ini kau mendesakku agar kita membicarakan soal perjodohan itu. Aku berpikir-pikir sebaiknya kita mempertemukan saja guru-guru kita, biar mereka bicara langsung..."

"Mempertemukan mereka bukan soal gampang. Kalaupun bisa dipertemukan, dua kakek nenek itu bisa saja melantur bicara yang lain-lain..."

"Mereka semakin tua, tentu ada perubahan dalam hati dan jalan pikiran. Kurasa ada baiknya kau pergi menemui Dewa Tuak, aku menemui Eyang Sinto Gendeng lalu kita atur waktu dan tempat pertemuan bagi mereka. Kita ikut hadir di sana..."

"Aku menurut saja," jawab Anggini.

Wiro tatap paras gadis itu lekat-lekat. Seolah baru menyadari betapa paras Anggini begitu cantik. dihias sepasang mata yang bagus dan bening. Perlahan-lahan tangan kanannya diulurkan untuk membelai rambut si gadis. "Mungkin selama ini aku begitu saja melupakannya. Menyia-nyiakannya... Mungkin sudah saatnya aku harus lebih dekat dengannya. Aku tahu betul dia sangat mencintaiku dan gurunya Dewa Tuak menginginkan diriku jadi suaminya..."

"Apa yang kau pikirkan...?" bisik Anggini bertanya sambil pegang dan mengusap lengan pemuda itu.

"Ada serombongan orang yang mendatangi..."

"Hah! Apa?!" kejut Anggini karena lain yang ditanya lain yang dijawab. Dia mengikuti pandangan pemuda itu lalu berpaling ke jurusan yang dilihat Wiro.

Dari arah kaki bukit batu pualam sebelah timur, di bawah hujan rintik-rintik Anggini melihat empat orang prajurit berlari menggotong sebuah tandu. Di atas tandu duduk seorang lelaki berjubah merah. Empat prajurit lagi berlari di samping tandu. Lalu di sebelah belakang mengikuti seorang tua berambut dan berjanggut serba kelabu.

Dalam waktu singkat rombongan itu sampai di depan dangau. Empat prajurit turunkan tandu lalu bersama empat kawannya yang lain mereka segera mengurung dangau sementara orang tua rambut kelabu tegak rangkapkan tangan di depan dada sambil menatap tajam pada Anggini dan Wiro. Sepasang muda-mudi di atas dangau lepaskan rangkulan masing-masing.

"Siapa mereka?" tanya Anggini.

"Belum bisa kuduga. Kau tetap di sini." Lalu Wiro melompat turun dari atas dangau.

"Rombongan dari mana datang ke sini? Apa hendak berbagi tempat berteduh? Silakan naik ke atas dangau.

Tapi karena dangau kecil, tidak semua kalian bisa naik..." Wiro menegur sambil matanya ditujukan pada orang bermuka pucat berjubah merah di atas tandu. Dia telah melihat perhiasan emas yang tersemat di dada kiri orang ini yang menandakan bahwa dirinya seorang pejabat tinggi atau penguasa kerajaan.

Orang tua berambut kelabu angkat tangan kanannya. "Kami rombongan Pangeran Ipong Nalakudra dari Kotaraja," katanya. "Kami datang untuk mendapatkan keterangan kapan Bintang Kelimukus muncul!"

"Eh?! Apa-apaan ini?!" ujar Wiro heran lalu berpaling pada Anggini. "Sejak kapan aku jadi ahli perbintangan?!"

"Pendekar 212 Wiro Sableng dan kau juga murid Dewa Tuak Anggini, jangan coba menyembunyikan apa yang kau ketahui!" kata orang tua berambut kelabu yang bukan lain adalah Ki Sepuh Dulantara.

"Astaga Anggini! Mereka tahu siapa kita!" ujar Wiro lagi-lagi sambil berpaling pada Anggini dan kini malah sambil garuk-garuk kepala.

"Pendekar 212..." Pangeran Ipong yang duduk di atas tandu ikut bicara. "Karena menguntit kalian, kami telah kehilangan seorang anggota! Mati dibunuh Ratu Ular! Jadi kuharap kau segera saja memberi keterangan! Aku memerlukan penjelasan mengenai Bintang Kelimukus itu!"

"Siapa suruh kalian menguntit kami?! Kalau ada anggota kalian yang menemui ajal, itu tanggung jawab kalian sendiri!" Dari atas dangau Anggini mendamprat.

"Murid Dewa Tuak!" membentak Ki Sepuh Dulantara. "Jaga mulutmu! Kau bicara dengan Pangeran Ipong Nalakudra dari keraton!"

Anggini jadi sewot. Dia hendak mendamprat kembali tapi Wiro memberi isyarat. Dia berpaling pada orang yang duduk di atas tandu. "Harap maafkan sahabatku itu. Kalian muncul secara tiba-tiba, mengatakan telah menguntit kami! Bicara tentang anggota yang mati di tangan Ratu Ular. Lalu menanyakan Bintang kelimukus. Terus terang saja, bisa dikatakan kalian muncul tidak tahu juntrungannya. Tentu saja kami jadi heran. Coba bicara baik-baik biar tidak terjadi salah paham..."

Melihat Wiro bicara lunak, kejengkelan Pangeran Ipong dan Ki Sepuh Dulantara jadi mengendur. Orang tua ini lantas berikan keterangan. "Kami mendapat petunjuk dan berhasil menyerap kabar bahwa di dasar jurang batu pualam tersembunyi sepasang keris sakti bernama Nagasona. Satu betina satunya jantan. Menurut catatan kuna dan silsilah yang ada di keraton, sepasang senjata itu berasal dari tua-tua kerajaan beberapa puluh tahun lalu yakni dari Kerajaan Singosari.. Selain kedua keris itu adalah milik sah kerajaan, juga mempunyai daya pengobatan luar biasa. Pangeran Ipong Nalakudra menderita lumpuh sejak usia limabelas tahun. Hanya sepasang keris itu yang bisa mengobati kelumpuhannya..."

"Lalu apa hubungan sepasang keris Nagasoma dengan kami?" tanya Wiro.

"Kami yakin kalian mengetahui kapan munculnya Bintang Kelimukus. Karena pada saat bintang itu muncul di langit, pada saat itu pula ada petunjuk di mana letak tepatnya dua bilah keris mustika itu..."

"Walah!" Wiro berusaha menahan tawa dan garuk-garuk kepala, sementara Anggini sambil senyumsenyum geleng-gelengkan kepala.Bagian 5"Pangeran Ipong, keyakinan kalian tidak berdasar. Kami berdua tidak tahu menahu soal keris Nagasona itu.

Kami..."

"Tapi!" memotong Pangeran Ipong dengan cepat. "Kalian berdua kami ketahui berada di tepi jurang batu pualam. Kalau tidak ada sangkut pautnya dengan senjata-senjata sakti itu, apa perlunya kalian jauh-jauh tersesat ke sana...?!"

"Pangeran, apakah kau pernah mendengar nama Dewi Ular?" bertanya Wiro.

"Apa sangkut paut perempuan jahat itu dengan urusan ini?!" bentak Ki Sepuh Dulantara.

"Justru Ratu Ular, guru Dewi Ular yang telah membunuh salah satu anggota kami!" tukas Pangeran Ipong pula.

"Sudahlah, sekalipun kita bertengkar sampai pagi dan pagi lagi tak ada gunanya. Dengan jujur aku katakan aku tidak tahu menahu tentang sepasang keris Nagasona. Juga tidak tahu kapan munculnya Bintang Kelimukus!"

"Dia berdusta Pangeran!" kata Ki Sepuh Dulantara.

Pangeran Ipong mengangguk. "Siapa percaya pada pemuda sableng yang mengenakan pakaian perempuan ini! Paksa dia bicara! Kalau tidak mau memberi keterangan, hajar! Kalau perlu sampai mampus!"

Mendengar ucapan Pangeran Ipong, Anggini langsung melompat dari atas dangau. Ki Sepuh Dulantara maju selangkah lalu berkata. "Kalian membangkang terhadap permintaan pangeran! Berarti kalian membangkang terhadap kerajaan! Dengar dua anak muda. Aku akan menangkap kalian secara baikbaik.

Tapi jika tidak mungkin, jangan menyesal kalau kami menjatuhkan tangan kasar!"

Orang tua ini lantas berikan isyarat pada delapan orang prajurit. Serta merta mereka yang sejak tadi memang telah mengurung maju mendekat lalu menyergap.

"Kasihan! Kalian hanya jadi korban perintah pangeran tolol!" teriak Anggini. Murid Dewa Tuak berkelebat.

Tangan dan kakinya bergerak. Pendekar 212 tidak ketinggalan. Dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

Tapi dua tangannya lepaskan dua pukulan kosong.

Enam jeritan mengumandang. Enam orang prajurit berpelantingan dan bergelimpangan di tanah. Tiga kelihatan pegangi perut, dua menutupi mata yang bengkak sedang satunya lagi melompat-lompat kesakitan sambil pegangi tulang keringnya yang kena tendang Anggini dan serasa mau patah!

Dua prajurit yang tidak sempat kena hantaman serta merta mencabut pedang masing-masing. Yang diserang cepat merunduk lalu menyusup di bawah sambaran pedang sambil menghantam. Kembali terdengar jeritan keras. Dua prajurit mencelat mental. Yang satu muntah darah, satunya lagi menjerit berguling-guling karena sambungan siku tangan kanannya hancur dikepruk Wiro Sableng.

Di atas tandu Pangeran Ipong kertakkan rahang. Tangan kanannya bergerak ke samping. Ternyata di atas bangku tandu ada sebuah busur kecil serta selusin anak panah. Dengan gerakan cepat Pangeran Ipong mengambil busur itu dan merentang dua anak panah sekaligus! Gerakannya cepat sekali. Tahu-tahu dua anak panah melesat di udara. Hebatnya walau lepas dari satu busur yang sama namun dua anak panah itu mampu melesat pada dua sasaran yakni Wiro dan Anggini!

"Anggini awas panah!" teriak Wiro memberitahu. Murid Dewa Tuak tanggalkan selendang sutera ungu yang melilit di lehernya. Sekali selendang ini dikebutkan, kekuatannya berubah seperti sepotong besi.

"Traakk!"

Anak panah yang menyerang Anggini hancur berkeping-keping. Anak panah kedua yang melesat ke arah Pendekar 212 tiba-tiba berbalik dan menghantam ke arah Pangeran Ipong begitu murid Eyang Sinto Gendeng lepaskan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Pangeran ini terkejut bukan main. Dengan cepat dia gerakkan tangan kanannya yang masih memegang busur.

"Traakk! Traakk!"

Busur dan anak panah sama-sama patah tapi sang pangeran sendiri selamat dari senjata makan tuan!

"Pendekar 212 bukan nama kosong!" ujar Pangeran Ipong. "Aku mau lihat apa kau juga mampu menerima serangan ini!" lalu dari atas bangku tandu diambilnya sekaligus delapan buah anak panah. Dengan gerakan luar biasa cepat ke delapan anak panah itu dilemparkannya ke arah Wiro. Delapan anak panah menyerang di delapan bagian tubuh Pendekar 212. Dua di antaranya di bagian kepala dan satu mengarah leher.

"Ganas sekali!" kertak Wiro..... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.92.186.20
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia