Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : TUA GILA DARI ANDALAS

SATU

Setan Ngompol pegang lengan nenek di sebelahnya seraya berkata. "Aku melihat ada dinding batu di bawah sana. Mari kita selidiki...." sinenek yang bukan lain adalah Sinto Gendeng guru Pendekar 212 langsung mengomel.
"Aku kemari mencari Pedang Naga Suci 212! Buat mengobati muridku yang sedang kapiran! Bukan untuk menyelidiki segala macam dinding! Lagi pula apa kau lupa. Sepasang naga kuning pasti berada di dalam telaga ini. Salah bergerak kita bisa jadi mangsa mereka!"

"Memang kita harus hati-hati," ikut bicara Panji. "Selain sepasang naga dan Makhluk Api Liang Neraka bukan mustahil Kiai Gede Tapa Pamungkas memiliki makhluk peliharaan lain...."

Ketiga orang tersebut saat itu berada dalam Telaga Gajahmungkur. Berkat ilmu yang diberikan Ratu Duyung mereka bukan saja sanggup berenang sampai jauh ke dasar telaga tapi luar biasanya juga mampu bernapas dan bicara dalam air tidak beda seolah mereka berada di daratan terbuka. Seperti diketahui sebagai penguasa salah satu kawasan laut selatan Ratu Duyung memiliki berbagai kesaktian antara lain hidup di dalam air. Sehabis geger besar di Pangandaran dia pernah membawa Wiro ke dasar laut. Karenanya tidak sulit baginya untuk menyirap memberi kekuatan pada Sinto Gendeng, Panji dan Setan Ngompol hingga ketiga orang ini mampu berada dalam air. Malah ilmunya jauh lebih hebat dari yang dimiliki oleh tokoh rimba persilatan lainnya yakni Sika Sure Jelantik. Nenek satu ini telah menolong dan memberikan ilmu serupa pada Puti Andini, namun hanya berkekuatan selama 100 hari.

"Sinto, jangan kau menakut-nakuti aku. Nanti aku ngompol lagi!" berkata Setan Ngompol yang sudah punya rasa tidak enak.

"Siapa menakuti tua bangka sepertimu! Coba kau lihat ke kanan sebelah bawah!" teriak Sinto Gendeng.

Setan Ngompol lakukan apa yang dikatakan si nenek. Panji juga ikut menoleh. Begitu Setan Ngompol memperhatikan ke kanan ke arah dasar telaga pandangannya membentur satu sosok aneh bergelung yang bukan lain adalah naga kembar betina peliharaan Kiai Gede Tapa Pamungkas yang sebelumnya sudah mereka lihat sewaktu masih berada di tepi telaga.

"Kau benar Sinto! Celaka kita bertiga!" kata Setan Ngompol. Kakek ini langsung tekap bagian bawah perutnya. Tapi karena takut dia tak bisa menahan kencingnya. Begitu air kencing si kakek mencemari air telaga maka di dasar telaga terdengar suara menggemuruh. Air telaga menggelombang.

Naga betina yang memang sudah tahu kalau ada makhluk lain di dalam telaga, segera bergerak menggeliat. Kepalanya dipentang. Dari mulutnya keluar desisan keras yang membuat air telaga laksana ombak besar menghantam ke arah Sinto Gendeng, Setan Ngompol dan Panji hingga ketiga orang ini terpental beberapa tombak. Naga betina ini siap menyerbu. Tapi begitu sepasang matanya yang merah melihat cairan kuning mengambang di hadapannya binatang ini keluarkan ringkikan aneh dan panjang menggidikkan lalu bersurut menjauh.

"Ha... ha...! Naga itu takut melihat air kencingku!" kata Setan Ngompol tertawa mengekeh sambil menunjuk-nunjuk ke arah naga betina. Tapi suara tawanya serta merta lenyap dan berubah menjadi jeritan kaget ketika dari arah kiri naga jantan yang sebelumnya mendekam diam tiba-tiba membuka gelungan tubuhnya lalu meluncur ke arah tiga orang itu.

Kini bukan cuma Setan Ngompol yang terkencing-kencing saking kaget dan takut. Sinto Gendeng juga ikut basah kainnya. Sedang Panji serasa terbang nyawanya. Cairan kuning bertebaran dimana- mana. Seperti naga betina tadi, begitu melihat dan mencium air larangan yang keluar dari tubuh Setan Ngompol dan Sinto Gendeng, naga jantan meringkik aneh dan meliukkan tubuh lalu berenang menjauh.

Di dasar telaga untuk kesekian kalinya muncul suara menggemuruh disertai goncangan keras. Untuk beberapa lamanya air telaga menjadi keruh menghalangi pemandangan.

"Nek! Nenek Sinto Gendeng!"

Tiba-tiba ada teriakan memanggil Sinto Gendeng.

"Edan! Siapa yang memanggil diriku di tempat seperti ini! Apa telaga ini ada hantunya?!" ujar Sinto Gendeng. Dia memandang berkeliling. Tapi air telaga masih keruh. Si nenek tak bisa melihat dengan jelas.

"Suaranya seperti suara anak kecil!" kata Setan Ngompol seraya celingak-celinguk ikut mencari. "Jangan-jangan ada tuyul di tempat ini! Eh, apa ada tuyul berkeliaran dalam air?!" Sinto Gendeng pentang dua matanya besar-besar.

"Nek! Saya di bawah sini!"

Setan Ngompol meniup ke bawah. Sesaat air telaga yang keruh menjadi jernih. Begitu dia memandang ke bawah dia melihat satu dinding tinggi berkeluk, laksana sebuah tonggak raksasa. Lalu pada bagian bawah dinding batu itu dilihatnya satu sosok terpentang seolah menempel ke dalam batu. Setan Ngompol pegang lengan Sinto Gendeng lalu menunjuk ke bawah sana. "Kau lihat dinding batu itu? Lihat di sebelah bawahnya. Ada patung anak kecil!"

Saat itu air telaga telah jernih kembali. Penglihatan si nenek menjadi terang, "itu bukan patung! Itu manusia!" ujar Sinto Gendeng. "Kalau patung mana mungkin bisa bicara!"

"Kalau manusia mengapa menempel di dalam dinding batu! Tidak bergerak-gerak! Aku baru yakin itu manusia kalau mendengar dia kentut!" Habis berkata begitu Setan Ngompol tertawa mengekeh. Tidak terasa kembali air kencingnya keluar.

"Biar saya berenang ke bawah," berkata Panji.

"Ya, mari kita turun menyelidiki!" kata Sinto Gendeng yang jadi penasaran. Lalu mendahului melesat ke bawah. Sejarak lima tombak dari dasar telaga Sinto Gendeng keluarkan seruan yang membuat Setan Ngompol kaget dan buru-buru tekap bagian bawah pusarnya.

"Astaga! Anak itu kiranya!"

"Heh, anak itu anak siapa?!" tanya Setan Ngompol.

Sinto Gendeng tidak perdulikan pertanyaan orang terus saja dia berenang menukik ke arah dasar dinding. Kali ini hanya Panji yang terus mengikuti sedang Setan Ngompol berhenti berenang karena dia lebih tertarik pada rangkaian tulisan yang tertera di dinding batu.

Di sebelah atas tertulis besar kata-kata "Liang Lahat". Namun belum sempat dia membaca seluruh tulisan yang ada di dinding berbentuk setengah lingkaran itu tiba-tiba di bawah sana Sinto Gendeng berteriak memanggil. Si kakek segera berenang ke dasar telaga.

"Kau lihat sendiri! Yang ada dalam batu itu manusia atau patung!" kata Sinto Gendeng begitu Setan Ngompol sampai di dekatnya. Si kakek memandang ke depan ke arah yang ditunjuk Sinto Gendeng. "Walah! Memang manusia. Anak kecil. Matanya bisa kedap kedip tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Melesak menempel ke dalam dinding batu!"

"Dia memang tak bisa bergerak tapi bisa bicara! Aku akan menanyainya! Aku kenal betul anak ini!" kata Sinto Gendeng pula. "Naga Kuning, aku tahu kawasan ini ada di bawah pengawasanmu. Tapi coba katakan dulu permainan apa yang hendak kau perlihatkan padaku saat ini!"

Anak kecil yang dipendam di dasar Liang Lahat cibirkan mulutnya lalu menjawab.

"Ini bukan permainan. Saya dihukum pendam ke dalam batu oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas."

"Heh, apa orang tua itu masih ada di sekitar sini?" bertanya Sinto Gendeng sambil melirik berkeliling.

"Dia sudah pergi. Tidak tahu pergi ke mana!"

"Ceritakan apa yang terjadi atas dirimu! Mengapa kau dihukum begini rupa?!"

"Nanti akan saya jelaskan Nek. Tapi harap kau mau menolong membebaskan saya dari dalam batu ini."

"Kalau kesalahanmu tidak besar pasti hukumanmu tidak seberat ini! Apa yang kau lakukan bocah sial? Kau mengintip sang Kiai lagi kencing atau bagaimana? Hik... hik... hik!"

"Sinto! Jangari membanyol! Aku bisa kencing!" berkata Setan Ngompol.

"Tubuhnya tak bisa bergerak. Mungkin dia ditotok Nek," kata Panji pula.

"Hemmm.... Kalau benar kau ditotok cepat beri tahu bagian tubuhmu sebelah mana yang ditotok agar aku bisa menolong," kata Sinto Gendeng.

"Saya tidak ditotok. Tapi dipendam dalam batu! Saya bisa bergerak kalau bebas dari pendaman..." menerangkan Naga Kuning.

"Kalau begitu biar aku tarik tangan dan kakimu!" kata Sinto Gendeng pula. Lalu nenek ini cekal tangan kiri dan pergelangan kaki kanan Naga Kuning. Sekali menarik pasti anak itu bisa dikeluarkannya dari pendaman batu. Tapi sampai mukanya mengerenyit keriputan dan rahangnya menggembung sosok Naga Kuning tak bisa dikeluarkan. Tubuh anak ini menempel laksana jadi satu dengan dinding batu Liang Lahat.

Sinto Gendeng tak mau mengalah. Dia kerahkan tenaga dalam. Tetap saja tubuh Naga Kuning tidak bergerak barang sedikit pun! Malah tiba-tiba dari bagian tubuh bawah sebelah belakang si nenek kelihatan gelembung-gelembung air banyak sekali disertai suara merepet berkepanjangan. Lalu air laut di sekitar situ mendadak menjadi bau:

"Sialan kau Sinto! Kau kentut ya!" teriak Setan Ngompol seraya berenang menjauh sedang Panji tutup hidungnya dengan belakang telapak tangan sambil pergunakan tangan kanan untuk mendorong air di sekitarnya yang menjadi bau akibat kentut si nenek. Di dinding batu Naga Kuning tertawa gelak-gelak. Sebaliknya Sinto Gendeng hanya menyengir.

"Baru kentut saja kalian sudah kelabakan! Belum lagi menghadapi bahaya besar!" kata si nenek pula.

"Nek...!" Naga Kuning ikut bersuara.

"Bocah sialan! Diam sajalah! Dan kau tua bangka tukang ngompol jangan diam saja! Bantu aku mengeluarkan anak ini dari dalam batu! Kau juga Panji! Jangan pura-pura jadi orang geblek! tarik pinggang anak ini!"

"Menurut penglihatanku anak ini tidak bisa dikeluarkan walau ada seratus kuda yang menarik tubuhnya!" kata Setan Ngompol pula.

"Kau cuma bicara. Bantu saja. Tarik pinggangnya!" bentak Sinto Gendeng.

"Nek...."

"Kau! Nak – Nek.... Nak – Nek! Diam!" bentak Sinto Gendeng jengkel.

"Dengar dulu Nek.... Kakek ini benar. Tidak ada satu kekuatan pun yang bisa mengeluarkan tubuh saya dari dalam dinding batu Liang Akhirat ini...."

"Kalau begitu nasibmu benar-benar sial! Kau akan mampus cepat atau lambat! Hik...hik... hik! Sudah! Aku hanya menghabiskan waktu saja! Aku ada urusan lain di dasar telaga ini!"

"Saya tahu apa yang kau cari. Saya tahu benda itu berada di mana. Jika kau mau menolong akan saya katakan padamu!"

"Naga Kuning, kalau kau memang tahu dimana beradanya benda yang dicari Nenek ini, mengapa kau tidak lekas mengatakan?" berkata Panji. Pemuda ini yang mulai tahu sifat si nenek yang gampang naik darah berusaha membujuk, Sinto Gendeng pelototkan mata.

"Hemmm.... Dulu aku menolongmu waktu kau digebuk Sabai Nan Rancak. Aku tidak mengharapkan pamrih. Tapi hari ini keadaan lain. Baik, aku akan menolongmu. Sudah kulakukan. Tapi tidak bisa. Lalu apa lagi?!"

"Ada caranya Nek..." kata Naga Kuning pula.

"Coba kau bilang!"

"Kiai Gede Tapa Pamungkas, Telaga Gajahmungkur dan segala apa yang telah dibangun oleh sang Kiai di tempat ini yaitu Liang Akhirat dan Liang Lahat termasuk Sepasang Naga Kembar dan Makhluk Api Liang Lahat, mempunyai satu pantangan besar,

Tidak boleh terkena air larangan. Semuanya bisa musnah!"

"Air larangan! Sebut saja air kencing!" tukas Sinto Gendeng sambil menyeringai buruk.

"Tapi air kencing itu tidak air kencing orang sembarangan Nek," ujar Naga Kuning.

"Hanya mempan kalau air kencingnya adalah air kencing orang yang telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun tujuh bulan dan tujuh hari.... Air kencing temanmu pemuda beranting-anting ini tidak mempan dan tak bisa menolongku!"

"Ada-ada saja...!" ujar Setan Ngompol lalu tertawa terbahak-bahak dan tentu saja sambil ngompol lagi. Sementara Panji hanya bisa melongo mendengar kata-kata Naga Kuning itu.

"Kau bicara panjang lebar. Tapi belum mengatakan bagaimana caranya kami menolongmu!" kata Sinto Gendeng. "Atau mungkin tubuhmu bisa kukorek dengan tusuk konde yang ada di kepalaku!" Si nenek langsung hendak mencabut dua buah tusuk konde perak di kepalanya.

"Saya tahu tusuk konde itu sakti mandraguna. Bisa menembus batu gunung sebesar apapun. Tapi kesaktiannya tidak mungkin bisa membebaskan diri saya. Hanya ada satu cara Nek. Tubuh saya hanya bisa bebas jika diguyur dengan air larangan!"

*

* *

DUASinto gendeng pelototkan mata mendengar keterangan Naga Kuning itu. Dia berpaling pada Setan Ngompol yang saat itu memandang melongo ke arahnya. Dua kakek nenek ini lalu tertawa gelak-gelak sementara Panji diam-diam merasa tidak enak. Dia tidak melihat ada hal yang lucu. Pemuda ini maklum kalau telaga itu diselimuti berbagai macam keanehan yang terkadang mengandung keangkeran dan sekaligus bahaya maut. Karena tertawa begitu rupa Setan Ngompol dan Sinto Gendeng sama-sama terkencing-kencing. Akibatnya Telaga Gajahmungkur kembali tercemar air larangan. Suara menggemuruh terdengar lagi di dasar telaga. Gelombang kembali menggoncang. Sepasang naga meringkik panjang. Beberapa lamanya keadaan di telaga diselimuti kegelapan. Begitu keadaan tenang dan air yang keruh jernih kembali Sinto Gendeng berkata.

"Gila! Masakan air kencing lebih sakti dari senjata mustika dan lebih hebat dari kekuatan tenaga dalam!"

"Nek, kau menyaksikan sendiri setiap kau dan temanmu mengeluarkan air kencing keadaan di sini laksana mau kiamat. Sepasang naga meringkik ketakutan. Telaga ini laksana mau terjungkir balik!"

"Nek, saya rasa anak ini tidak bicara dusta..." berbisik Panji pada Sinto Gendeng.

Sinto Gendeng terdiam sejurus. "Naga Kuning, kalau memang air kencing yang bisa membebaskan dirimu dari pendaman batu itu baiklah. Mari kita lihat! Setan Ngompol cepat kau kencingi bocah itu!"

"Eh, mengapa aku?!" seru Setan Ngompol sambil memandang dengan sepasang matanya yang jereng mendelik pada si nenek.

"Apa susahnya mengencingi anak itu! Apalagi kau tukang ngompol. Punya banyak persediaan air larangan! Sudah! Ayo kau kencingi dia! Hik... hik... hik!"

"Tunggu dulu!" Naga Kuning tiba-tiba berseru. "Yang mempan dan sanggup membebaskan diri saya dari pendaman batu Liang Lahat ini hanyalah air kencing perempuan yang usianya lebih dari tujuh puluh tahun tujuh bulan tujuh hari! Lalu air larangan itu harus jatuh langsung dari atas. Tidak boleh mengucur lewat tubuh atau pakaian...."

"Nah... nah... nah!" Setan Ngompol berseru keras lalu tertawa gelak-gelak dan kencing lagi. "Sinto! Berarti hanya kau yang bisa menolongnya!"

Nenek sakti dari puncak Gunung Gede itu pen-tang wajah marah dan untuk beberapa lamanya dia tidak bisa berkata apa-apa.

"Aku tidak mau!" kata Sinto Gendeng akhirnya. "Kau cuma mau mengerjaiku!"

"Kalau tidak mau bocah itu tidak akan memberi tahu di mana tersembunyinya benda yang kau cari itu.,." kata Setan Ngompol yang membuat Sinto Gendeng tambah marah, "Perduli setan! Dulu aku sendiri yang menyembunyikan benda itu. Aku masih bisa mengira-ngira dimana letaknya! Aku pasti bisa mendapatkannya tanpa pertolongan setan kecil ini!"

"Jangan tolol Sinto. Kejadian itu puluhan tahun silam. Keadaan sudah berubah. Sampai tubuhmu bongkok lalu lempang lalu bongkok lagi belum tentu kau bisa menemukan!" ujar Setan Ngompol.

"Bocah setan! Kau benar-benar mengerjaiku!" kata Sinto Gendeng pada Naga Kuning dengan mata melotot.

"Sinto! Pertolongan itu mudah sekali melakukannya! Kau hanya menempatkan dirimu di atas kepala anak itu. Lalu menyingsingkan kain bututmu, menungging sedikit dan serrr.... Beres sudah!".

"Sialan kau Setan Ngompol! Kau bisa berkata begitu karena bukan kau yang melakukan!" Menggerendeng Sinto Gendeng.

"Nek, untuk kebaikan mungkin sekali ini kau terpaksa mengalah..." berkata Panji.

Sambil terus mengomel panjang pendek si nenek berenang berputar-putar. Akhirnya dia naik ke atas. "Aku peringatkan pada kalian semua!" kata Sinto Gendeng. "Setan Ngompol! Kau lekas mendekam di belakang dinding batu sana! Jangan berani mengintip auratku! Kau juga Panji! ikuti kakek itu ke belakang dinding batu!"

"Sinto.... Sinto! Aurat gadis saja aku tidak doyan mengintip. Apalagi kayu hitam lapuk yang sudah; dimakan rayap sepertimu!" Setan Ngompol tertawa gelak-gelak. Namun dia melakukan juga apa yang dikatakan si nenek yaitu berenang ke balik dinding Liang Lahat sambil tekap tubuhnya sebelah bawah dengan kedua tangan. Panji berenang mengikuti di belakangnya. Sinto Gendeng kembali memaki panjang pendek lalu bergerak mendekati dinding batu , tepat di atas kepala Naga Kuning.

"Bocah setan! Aku akan menolongmu! Tapi awas! Jangan kau berani melirik atau mengintip ke atas! Kalau itu kau lakukan jangan menyesal kedua matamu akan aku korek dan seumur hidup kau akan terpendam dalam batu celaka itu!"

Naga Kuning mencibir.

"Nek, sepasang mata ini memang sudah puluhan tahun tidak melihat aurat terlarang. Tapi kau tahu siapa diri saya. Lagipula mana mungkin saya berlaku tidak hormat terhadap orang yang hendak menolong?!" Seperti diketahui Naga Kuning alias Naga Cilik atau Naga Kecil ini sebenarnya adalah seorang kakek berusia jauh lebih tua dari Sinto Gendeng atau Setan Ngompol.

"Sudah! Kau bocah tua bangka pandai bicara! Aku segera menolongmu! Tutup matamu!" Sinto Gendeng lalu tempelkan tubuhnya sebelah belakang yang bungkuk ke dinding Liang Lahat tepat di atas sosok Naga Kuning yang terpendam ke dalam dinding batu itu.

Naga Kuning segera pejamkan ke dua matanya. Tapi setelah menunggu cukup lama tidak terjadi apa-apa.

"Nek, kau masih berada di atas atau bagaimana?!" Naga Kuning bertanya.

"Diam! Aku masih di dekat dinding di atas kepalamu! Tutup mulutmu! Kau hanya membuyarkan perhatianku!" Terdengar bentakan Sinto Gendeng.

Naga Kuning tak berani berkata apa-apa lagi. Tapi setelah kembali menunggu cukup lama dan tetap tak terjadi apa-apa anak ini menjadi tidak sabaran. Kedua matanya dibuka.

"Nek...."

"Tutup mulutmu! Tutup matamu! Atau kutusuk sampai kau buta!"

"Saya sudah menunggu lama! Tapi kau tidak kencing-kencing juga!" jawab Naga Kuning. Walau sesaat tapi anak ini masih sempat melihat si nenek di atasnya, menempel ke dinding batu menungging.

Dia berusaha menahan diri agar tidak tersenyum apalagi sampai tertawa cekikikan.

Dalam hati anak ini berkata, "Seumur hidup baru sekali ini aku melihat nenek-nenek. Ternyata menyerupai ikan pepes kering kejemur matahari!"

Dari sebelah atas terdengar suara Sinto Gendeng.

"Aku sudah berusaha kencing. Tapi tidak bisa-bisa! kencing sialan! Dipaksa tidak mau. Biasanya sebentar-sebentar aku kencing!"

Di balik dinding batu Liang Lahat Setan Ngompol dan Panji tertawa cekikikan mendengar ucapan Sinto Gendeng tadi. Sebaliknya Sinto Gendeng keluarkan suara menggerendeng lalu mengedan-edan sekuat tenaga agar bisa kencing hingga tubuhnya tambah bungkuk hampir terlipat. Setelah berusaha setengah mati tiba-tiba beerrrrr.... Naga Kuning merasa ada air hangat laksana mancur mengucur membasahi kepalanya. Air hangat dan bau pesing ini turun ke muka terus membasahi tubuhnya. Si bocah seperti mau muntah ketika ada air kencing membasahi mukanya mengalir ke bawah hidung, turun ke bibirnya dan hampir tertelan!

Pada saat yang sama Naga Kuning merasa dinding batu dimana dia terpendam menjadi panas. Tiba-tiba didahului suara menggemuruh seolah datang dari dasar telaga yang membuat dinding batu Liang Lahat itu bergoncang keras, tubuh Naga kuning terpental keluar. Ada hawa aneh mendera keras membuat Sinto Gendeng tersapu sampai beberapa tombak.

"Hai! Apa yang terjadi?!" Terdengar suara Setan Ngompol berseru. Kakek ini dalam keadaan terkencing-kencing keluar dari balik dinding batu bersama Panji. Wajah mereka tampak pucat. Dilihatnya

Naga Kuning melayang dalam air sedang Sinto Gendeng tengah berenang mendekati anak itu.

"Bocah setan! Kau sudah kutolongi! Sekarang katakan di mana beradanya benda yang kucari!" Tahu-tahu si nenek sudah berada di depan Naga Kuning yang saat itu tengah mengusap mukanya berulangkali berusaha membersihkan sisa-sisa air kencing Sinto Gendeng yang tadi ikut, membasahi mukanya.

"Nek, terlebih dulu saya mengucapkan terima kasih. Kalau kau tidak mengencingi diri saya akan terpendam selamanya di Liang Lahat itu.... Sebelum saya memberi keterangan saya mau bertanya dulu. Mana kakek yang dulu ikut mengobati lengan saya yang patah? Dan siapa kakek satu ini? Apa pacarmu yang baru?!"

Panji tersentak mendengar ucapan si bocah yang begitu berani. Setan Ngompol sesaat melongo lalu tertawa gelak-gelak dan kencing lagi. Sebaliknya Sinto Gendeng langsung naik darah.

"Bocah kurang ajar! Naga Kuning! Kau minta aku gebuk?!"

"Harap maafkan, bukan maksud saya mau kurang ajar. Cuma mau menanya saja, itu tanda saya suka padamu dan juga pada orang tua berjuluk Kakek Segala Tahu itu..."

"Bocah sialan! Kalau kau memang benar-benar anak kecil boleh saja kau bilang suka padaku! Apa kau tidak sadar sudah berapa umurmu?!

"Ah, maafkan saya. Saya memang tidak tahu diri!"

kata Naga Kuning pula tersipu-sipu lalu ketika si nenek tidak melihat ke arahnya dia mencibirkan bibirnya.

Setan Ngompol mendekati Sinto Gendeng dan bertanya. "Menurutku anak ini paling bantar baru berusia dua belas tahun. Aku tidak mengerti pertanyaanmu tadi. Memangnya bocah itu berapa usianya?"

"Kau tak perlu mengerti. Dibikin mengerti kau tak bakalan mengerti. Yang kau mengerti cuma beser alias ngompol!" jawab Sinto Gendeng membentak saking kesalnya. Dibentak begitu rupa dalam air Setan Ngompol melayang mundur dan unjukkan muka sedih. Dalam keadaan seperti itu tetap saja dia kembali ngompol.

"Apa kataku! Sedih saja kau masih ngompol!" kata si nenek. Dia berpaling pada Naga Kuning. "Kau tunggu apa lagi! Ayo beri tahu di mana beradanya benda yang aku cari itu!"

"Nek, di dasar telaga ini tersimpan berbagai benda rahasia. Belasan orang coba mencarinya. Mereka bukan saja tidak berjodoh dengan benda-benda itu tetapi mereka hanya mencari kematian. Tolong kau beri tahu benda apa yang tengah kau cari."

"Bocah geblek!" maki Sinto Gendeng. "Kau mau menipuku atau bagaimana?! Tadi kau bilang tahu apa yang aku cari. Sekarang malah bertanya!"

"Maafkan saya Nek. Soalnya seperti saya bilang tadi ada beberapa benda sangat berharga dicari orang di Telaga Gajahmungkur ini. Saya takut memberi keterangan keliru...."

Setelah menggerendeng lebih dulu baru si nenek memberi tahu.

"Aku mencari sebilah pedang sakti. Pedang Naga Suci 212. Senjata ini tidak bersarung. Bentuknya bergulung seperti ikat pinggang. Puluhan tahun lalu pedang itu aku sembunyikan di satu tempat di dasar telaga ini. Sekarang senjata itu harus segera kutemukan untuk mengobati muridku!"

"Maksudmu mengobati Pendekar 212 Wiro Sableng?" tanya Naga Kuning.

"Betul!" jawab Sinto Gendeng. Lalu tidak sabaran dia berkata. "Ayo lekas kau terangkan dimana pedang itu beradanya!"

"Naga Kuning," tiba-tiba Panji berkata. "Aku punya seorang sahabat, gadis bernama Puti Andini. Berpakaian serba merah.... Katanya dia ke sini mau mencari sesuatu. Sebuah batu...."

"Setan alas!" teriak Sinto Gendeng. "Gadis hantu siapa yang kau tanya! Jangan berani bicara memotong ucapan orang! Kau tahu aku tidak suka kau ikut ke tempat ini! Kalau bukan gara-gara Kakek Segala Tahu sialan itu jangan harap...."

"Sinto! Jangan membentak terus-terusan. Aku jadi kaget-kagetan dan kencing terus!" Setan Ngompol berkata.

Tadinya si nenek juga hendak mendamprat kakek satu ini. Tapi dia akhirnya berpaling pada Naga Kuning dan berkata. "Kau masih belum mau bicara mengatakan di mana pedang sakti itu?!"

Naga Kuning menghela napas dalam. Wajahnya tampak murung.

"Nek, sebenarnya kau datang terlambat...."

Mata Sinto Gendeng membeliak. Wajah tuanya membersitkan seribu kerutan. Setan Ngompol yang merasa tegang mendengar percakapan kedua prang itu diam-diam kembali terkencing di celana.

"Bocah setan! Apa kau bilang?! Aku terlambat? Memangnya pedang sakti itu sudah diambil orang lain? Siapa?!"

*

* *

TIGASenjata itu masih ada dalam telaga ini, Nek. Masih dalam keadaan tergulung. Tapi berada di perut naga kembar yang betina itu...." Menerangkan Naga Kuning seraya menunjuk pada naga kuning betina yang mendekam di kejauhan. Sinto Gendeng menatap sejurus ke arah naga betina. "Aku tidak percaya. Bagaimana pedang itu bisa berada dalam perut naga. Mana ada ular doyan pedang!"

"Kau betul Sinto," menimpali Setan Ngompol. "Bocah ini hendak menipu kita!"

"Nenek Sinto, kau tahu siapa diri saya ini. Mana mungkin hendak berlaku culas padamu. Dua kali dengan ini kau menolong diri saya. Walau cuma seorang tua bangka bertampang bocah buruk tapi saya bukan bangsa manusia yang tidak mengerti budi orang. Saya sudah memberi tahu apa yang kau ingin tahu. Walau budimu belum dapat saya balas namun saya terpaksa meninggalkanmu. Air larangan sudah terlalu banyak di tempat ini. Bukan mustahil sebentar lagi telaga ini akan amblas musnah. Lebih baik kalian cepat-cepat pergi dari sini...."

"Sebelum aku menemukan pedang itu aku tidak akan keluar dari Telaga Gajahmungkur ini!" jawab Sinto Gendeng. "Dan kau bocah jelek. Jangan buru-buru ngambek! Apa yang barusan kau bilang tidak masuk akal...."

"Nek, kau hidup sudah puluhan tahun. Kawanmu yang kau panggil dengan nama Setan Ngompol ini pasti juga sudah lebih delapan puluh tahun malang melintang di rimba persilatan. Saya jauh lebih tua dari kalian. Apa di usia kalian yang begini tua masih tidak menyadari kalau hidup di dunia ini banyak yang tidak masuk akal? Bahwa untuk menghadapi semua yang tidak masuk akal itu manusia harus punya seribu akal? Satu contoh, kita manusia-manusia biasa bisa berada di dalam air begini dalam, apa masuk akal?! Kiai Gede Tapa Pamungkas makhluk setengah manusia setengah roh. Sepasang naga kembar bukan ular besar biasa. Di luar langit masih ada langit lain. Di luar akal masih ada akal lain! Siapa berani melupakan kekuasaan Gusti Allah?!"

Walau jadi terdiam mendengar ucapan Naga Kuning tapi tak urung Sinto Gendeng tetap saja unjukkan wajah cemberut.

"Nek," kata Naga Kuning lagi. "Saya melihat dengan mata kepala sendiri. Pedang sakti bergulung itu ditelan oleh naga betina: Dan bukan cuma Pedang Naga Suci 212. Ada seorang gadis cantik bernama Puti Andini ikut ditelan naga dan kini mendekam di dalam perut binatang jejadian itu!"

Sinto Gendeng keluarkan seruan tercekat dan pandangi Naga Kuning dengan mata melotot sementara Setan Ngompol lag Magi terkencing karena kaget mendengar keterangan si bocah yang mengejutkan, sementara itu Panji menjadi pucat pasi. "Puti Andini.... Puti...." Pemuda ini menyebut nama si gadis berulang kali.

"Kalau keteranganmu betul, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pedang yang ada dalam perut naga itu...."

"Juga menolong gadis yang kau bilang cantik itu!" ujar Setan Ngompol. Lalu dia berkata pada Sinto Gendeng. "Turut ceritamu bukankah gadis itu yang kau katakan sebagai cucu Sukat Tandika, bekas kekasihmu di masa muda?"

Kembali Sinto Gendeng unjukkan muka cemberut. "Urusan utama ku mendapatkan Pedang Naga Suci 212. Soal cucu Tua Gila itu kalau memang bisa kutolong akan kulakukan. Tapi jika orang ditelan ular menurutmu apa masih bisa hidup?"

"Ah, menyedihkan sekali kalau gadis yang katanya cantik itu sampai menemui ajal ditelan ular..." kata Setan Ngompol pula. "Naga Kuning, kau pasti tahu caranya bagaimana mendapatkan pedang dan menyelamatkan gadis itu." . "Naga Kuning, kau harus menolong kami!" ujar Panji.

"Saya tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin kita terpaksa menunggu...."

"Kami tidak punya waktu lama. Selain hanya bisa bertahan sampai tengah malam nanti, juga muridku perlu cepat disembuhkan. Satu peristiwa besar yang menebar nyawa dan darah agaknya akan terjadi di Gajahmungkur ini.... Kami harus bergerak cepat sebelum orang-orang Lembah Akhirat menimbulkan bencana lebih besar...."

"Naga itu takut dengan air kencing!" berkata Panji. "Bagaimana kalau kalian berdua mengguyur-nya dengan air larangan itu. Begitu dia mampus kita bedol perutnya!"

"Kau betul Panji!" ujar Sinto Gendeng pertama kali menyetujui ucapan si pemuda.

"Setan Ngompol! Ayo lekas siapkan kencingmu yang banyak. Kita serbu ular naga betina itu!" kata Sinto Gendeng.

"Nenek Sinto dan Kakek Setan Ngompol, naga itu bukan binatang biasa. Air larangan memang bisa membunuhnya. Namun kalau dia mati setahuku tubuhnya akan lenyap berubah menjadi pasir kuning. Rohnya melesat ke angkasa. Aku khawatir bersama rohnya dia akan membawa serta Pedang Naga Suci 212 dan gadis bernama Puti Andini itu..."

Mendengar keterangan Naga Kuning itu tiga orang yang ada di hadapan Naga Kuning menjadi bingung.

ini urusan gila! Pasti ada cara untuk mendapatkan senjata itu. Apapun akan kulakukan untuk menolong muridku...."

"Seandainya pedang itu sudah kau dapat dan Pendekar 212 berhasil disembuhkan, lalu apa yang akan kau lakukan dengan Pedang Naga Suci 212 itu Nek?"

Pertanyaan Naga Kuning yang tiba-tiba itu membuat Sinto Gendeng sesaat terdiam. Tapi tiba-tiba dia membentak marah yang membuat Setan Ngompol tersembur air kencingnya.

"Bocah setan! Aku sekarang tahu apa yang ada di benakmu! Kau sengaja tidak mau menolongku. Karena kau khawatir aku akan mengambil dan menguasai pedang itu!"

"Saya memang ditugaskan oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas untuk menjaga segala sesuatu yang ada di Telaga Gajahmungkur. Setelah sang Kiai meninggalkan telaga tanggung jawab lebih besar berada di pundak saya...."

"Kau bocah tolol, tua bangka geblek! Kiai Gede Tapa Pamungkas telah menghukummu, mengapa kau masih perdulikan orang yang sudah tidak ada itu?!" Menukas Sinto Gendeng.

‘Nek, Kiai Gede menghukum saya karena memang saya bersalah. Walau dia tidak ada lagi di tempat ini tapi beban tugas yang diberikannya tetap menjadi tanggung jawab saya. Saya hanya ingin mengatakan. Jika pedang itu kau pergunakan sepenuhnya untuk menyembuhkan muridmu, siapa yang mau mencegah. Tetapi, setelah muridmu sembuh kau masih ingin menguasai senjata mustika sakti tersebut maka itu berarti menyalahi maksud dan tujuan, menyalahi adat dan aturan...."

"Bocah pintar ngomong!" semprot Sinto Gendeng. "Katamu dalam hidup ini manusia harus memakai seribu akal! Apa salahnya kalau aku mengikuti kata-katamu itu dan memiliki Pedang Naga Suci 212?! Dulu pun senjata itu sudah berada di tanganku.... Daripada jatuh ke tangan orang jahat bukankah lebih baik aku yang menguasainya?! Perduli setan dengan segala adat dan aturan. Maksud dan tujuan bisa berubah sesuai keadaan! Itu baru namanya hidup memakai akal!"

Naga Kuning tersenyum. "Manusia memang harus memakai seribu akal dalam menghadapi tantangan hidup. Tapi akal yang mana? Ada akal yang sepenuhnya datang dari otak atau alam pikiran. Ada akal yang memadu otak dengan perasaan hati. Lalu ada akal yang mempergunakan otak tapi juga dipengaruhi oleh dorongan yang datang dari bawah pusar. Saya tidak tahu kau memakai akal yang mana Nek.... Jika maksudmu mendapatkan Pedang Naga Suci bukan semata karena hendak menolong muridmu, saya khawatir kau akan menghadapi urusan besar. Karena Kiai telah menceritakan riwayat pedang itu. Senjata mustika itu hanya boleh dimiliki oleh seseorang. Terserah orang itu nanti mau memberikan kepada siapa. Saya rasa kau sudah tahu hal itu Nek, jadi tak perlu saya beberkan."

Dari wajah si nenek Naga Kuning maklum kalau Sinto Gendeng masih tidak puas.

Maka dia menunjuk ke atas ke arah dinding batu Liang Lahat. "Nek, sebelum kita meneruskan bicara, ada baiknya kau membaca dulu apa yang tertera di dinding batu itu...."

"Perlu apa aku mengikuti nasihatmu! Membaca segala tulisan bobrok di atas batu sialan!" bentak Sinto Gendeng.

Naga Kuning tidak perduli. Dia berenang ke atas. Setan Ngompol ikut berenang ke atas karena sebelumnya memang dia sudah membaca sedikit rangkaian tulisan di atas batu itu. Sesampainya di atas dan melihat Sinto Gendeng masih tetap berada di bawah sana, Naga Kuning berseru.

"Nek, jika kau tak mau membaca sendiri tulisan di batu ini, biaraku bacakan dan kau silahkan pasang kuping mendengarkan!"

Lalu Naga Kuning membaca keras-keras rangkaian tulisan yang ada di batu.

LIANG LAHAT

Sesungguhnya insan hidup terbuat dari tanah

Hidupnya terbatas dari tanah ke tanah

Namun mengapa manusia menjadi lupa

Bersikap sombong membusung dada

Bersikap angkuh besar kepala

insan hidup tak ada arti di hadapan Sang Penguasa

Tapi mengapa insan berani menantang Sang Pencipta

Berani tapi putih, lembut tapi jantan, perkasa tapi jujur

Bukankah itu lebih baik daripada berani tapi hitam, lembut tapi culas, perkasa tapi serakah! Liang lahat!

Di sini tersimpan saksi bisu dari keserakahan, saksi buta dari keculasan, saksi tuli dari ketidakjujuran

Bisakah kekuatan insan memecah kebisuan, menyalangkan kebutaan hati, mendengar desah ketidakadilan

Bisakah tongkat si buta mengetuk membuka pintu kebenaran

Yang kuasa dan Sang Pencipta adalah tempat bertanya, tempat meminta

Adakah manusia bertanya dengan segala kebersihan hati? Adakah insan meminta dengan kejujuran jiwa....

Naga kuning belum sempat mengakhiri membaca bait-bait tulisan yang ada di atas

batu. Masih tertinggal satu bait lagi. Namun Sinto Gendeng yang merasa semua yang dibacakan si bocah sengaja untuk menyindir dirinya, kembali menjadi marah dan membentak.

"Naga Kuning! Kau boleh membaca tulisan itu sampai seribu kali. Mulai dari pagi sampai pagi lagi tujuh hari tujuh malam! Jangan harap aku akan terpengaruh! Kalau saja kau. bukan orang yang dipercayakan Kiai Gede Tapa Pamungkas guruku, sudah dari taditadi kau kulabrak! Sekarang dengar ucapanku! Apa yang akan kulakukan nanti dengan Pedang Naga Suci 212 adalah urusanku sendiri! Jika kau coba menghalangi aku terpaksa akan melupakan segala macam budi...."

"Kalau memang begitu Nek, urusan lebih baik diselesaikan sekarang sebelum semuanya menjadi kapiran! Saya akan mendahuluinya mendapatkan senjata sakti itu! Kalaupun kau berhasil mendapatkan pertama kali, saya bersumpah untuk merampasnya!"

Merasa ditantang marahlah Sinto Gendeng. Dia tidak perduli lagi siapa adanya Naga Kuning. Melihat ketegangan yang terjadi Setan Ngompol sudah ter-kencing-kencing. Dia berusaha mencegah terjadinya bentrokan namun saat itu didahului satu pekikan keras nenek sakti dari Gunung Gede itu melesat ke arah si anak.

"Bocah Setan! Aku tidak meminta kau membalas segala budi pertolonganku! Tapi adalah tolol dan kurang ajar kalau kau mencoba menghalangiku!"

Tangan kanan si nenek bergerak ke arah kepala. Setan Ngompol maklum apa yang dilakukan si nenek. Cepat-cepat dia tekap perutnya sebelah bawah. Panji yang juga sudah bisa memperkirakan apa yang hendak diperbuat Sinto Gendeng segera berseru. "Nek! Jangan serang anak itu! Kita memerlukan dia!" Yang dikhawatirkan pemuda ini adalah kalau dia sampai kehilangan jejak Puti Andini.

Namun Sinto Gendeng yang sudah khilaf karena nekad dan marah gerakkan tangannya. Dua tusuk konde perak laksana sepasang anak panah lepas dari busurnya melesat berkilauan di dalam air. Tusuk konde pertama mencari sasaran tepat di mata kiri si bocah, satunya lagi mengarah dada kiri tepat di jurusan jantung. Jelas Sinto Gendeng bertekad menghabisi anak ini!

Lima tusuk konde yang selalu menancap di kepala Sinto Gendeng bukanlah tusuk konde biasa karena merupakan senjata yang sangat berbahaya dan mengandung racun mematikan. Kini dua dari lima tusuk konde itu dipakai untuk menyerang dan membunuh Naga Kuning.

Naga Kuning yang mendapat serangan itu seolah terkesiap dan tidak percaya kalau si nenek benar-benar hendak menurunkan tangan jahat terhadapnya. Dia tidak sempat bergerak mengelak atau pun menangkis.

Dalam keadaan seperti itu tiba-tiba berkiblat satu sinar putih menyilaukan yang sesaat menerangi seantero dasar telaga. Air telaga yang dingin berubah menjadi panas. Tusuk konde perak yang melesat ke arah mata kiri Naga Kuning terpental ke atas sewaktu ujung tusuk konde hanya tinggal setengah jengkal saja dari sasaran!

Seseorang telah turun tangan menolong anak itu. Namun tusuk konde kedua yang mengarah jantung tidak mungkin dihindari. Ujung tusuk konde yang lancip menghantam telak dada kiri Naga Kuning. Tapi begitu menyentuh dada si anak senjata itu tidak mampu melukai apalagi menancap tembus dan menusuk sampai ke jantung. Seolah menghantam satu permukaan licin dan atos tusuk konde itu terpental ke samping.

"Kurang ajar! Bocah itu ternyata memang benar telah memiliki ilmu lumba-lumba putih yang membuat tubuhnya licin seperti kulit ikan!" mengomel Sinto Gendeng. "Tapi siapa yang barusan menolong menangkis tusuk konde yang mengarah matanya. Padahal aku tahu betul kedua mata anak ini adalah dua titik terlemah segala kesaktian yang dimilikinya!"

Sinto Gendeng memandang berkeliling penuh marah. Sepasang matanya mendelik berapi-api. Rahangnya menggembung dan mukanya yang keriput kelam membesi. Dalam marahnya dia melihat dua sosok tubuh melayang dalam air. Begitu mengenali kedua orang itu maka meledaklah dampratannya.

*

* *

EMPATSebelum kita melanjutkan apa yang terjadi di dasar Telaga Gajahmungkur mari kita ikuti dulu apa yang berlangsung di salah satu tepian telaga. Setelah gurunya Eyang Sinto Gendeng dan Seta n Ngompol masuk ke dalam telaga bersama Panji alias Datuk Pangeran Rajo Mudo dan perginya Kakek Segala Tahu, di tepi telaga hanya tinggal Pendekar 212 Wiro Sableng berdua dengan Ratu Duyung. Untuk beberapa lama kedua orang ini hanya berdiam diri. Sesekali Wiro melirik. Gadis di sebelahnya dilihatnya memandang ke arah telaga terus-terusan. Murid Sinto Gendeng ini mendehem beberapa kali lalu membuka pembicaraan dengan bertanya.

"Menurutmu apakah guruku akan berhasil mendapatkan Pedang Naga Suci 212 itu?"

"Kau khawatir mereka gagal dan kau tidak bisa ditolong?" Ratu Duyung malah balik bertanya.

"Soal diriku sudah nasib jadi begini. Tak ada yang perlu disesalkan. Yang aku khawatirkan adalah mendadak terjadi satu hal besar di tempat ini. Dan aku tidak bisa berbuat apa. Apalagi Kapak Naga Geni 212 milikku entah di mana beradanya. Guruku pasti marah besar kalau...." Wiro tiba-tiba ingat pada cermin bulat yang dimiliki Ratu Duyung.

"Mana cermin saktimu. Mungkin kau bisa melihat melalui cermin itu di mana beradanya Kapak Naga Geni 212.

Ratu Duyung segera keluarkan cermin saktinya. Dia segera memusatkan perhatian dan pandangan mata ke permukaan cermin itu. Sesaat kemudian tampak cermin bergetar. Wiro mendekat dan coba melihat. Tapi dia tidak melihat apa-apa dalam cermin itu.

"Kau melihat sesuatu Ratu..,?" bertanya Wiro.

"Cermin bergetar...." kata Ratu Duyung perlahan. , Wiro memperhatikan. Cermin bulat itu memang tampak bergetar dalam pegangan gadis sakti bermata biru. "Ada daya tolak dari satu kekuatan sakti. Aku hanya melihat sesuatu berwarna kuning. Bergerak sangat cepat. Tidak jelas apakah sosok manusia. Sulit diterka lelaki atau perempuan...."

"Maksudmu kalau itu adalah sosok manusia maka dia mengenakan pakaian serba kuning?"

"Mungkin.... Aku tak berani memastikan. Bayangan kuning lenyap dari dalam cermin. Aku tak bisa memantau lebih jauh...."

Wiro termenung sambil garuk-garuk kepala. "Be-rat dugaanku. Bayangan kuning ya rig kau lihat dalam cermin adalah sosok orang berpakaian dan bercadar kuning. Waktu terjadi pertempuran di teluk dia muncul menolong. Jangan-jangan senjata itu ada padanya...."

"Aku menduga demikian. Kau tak usah khawatir. Senjatamu berada di tempat yang aman...."

"Aku tetap khawatir. Soalnya siapa bisa menduga sifat manusia.... Di luar bisa saja baik. Di dalam mungkin penuh maksud tertentu...."

Ratu Duyung terdiam. Pandangan matanya masih terus ke arah telaga. Sejak peristiwa di Puri Pelebur Kutuk dulu dia selalu memendam rasa bersalah tak berkeputusan. Walau sebelumnya masalah itu sempat mereka bicarakan dan Wiro telah menganggap selesai namun di lubuk hati gadis ini selalu ada perasaan penyesalan yang sulit dilupakannya. Karena itu setiap Wiro mengatakan sesuatu dia seolah merasa bahwa ucapan pemuda itu seolah merupakan sindiran yang ada hubungannya dengan peristiwa lama. Melihat sang Ratu berhening diri, diam-diam Wiro menduga mungkin gadis itu tersinggung dengan ucapannya tadi. Maka sambil memegang jari-jari tangan kiri Ratu Duyung, Wiro berkata. "Ratu, jangan kau merasa tersinggung. Segala ucapanku polos belaka. Tak ada sangkut pautnya dengan diri kita berdua atau apapun yang pernah terjadi antara kita berdua...."

"Aku tahu..." jawab Ratu Duyung dengan suara setengah berbisik. "Tapi sulit bagiku melenyapkan rasa bersalah dari lubuk hati ini. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana perasaanku terhadap diriku sendiri dan terhadap dirimu. Aku...."

Ratu Duyung tersendat. Ucapannya terhenti. Sepasang matanya yang biru tampak basah. Wiro meremas jari-jari tangan gadis itu. Malah dengan tangannya yang lain dia merangkul bahu sang Ratu seraya berbisik.

"Ratu, jangan menangis...."

"Kalau tidak menangis rasanya hati ini belum lega Wiro. Dada ini serasa sesak berkepanjangan. Tekanan batin mengikuti kemana pun aku pergi...."

"Kau gadis gagah. Kau mampu menyingkirkan semua itu...."

"Aku manusia biasa. Manusia biasa yang jalan hidupnya ditakdirkan lain...."

"Jangan menyalahi dirimu. Jangan menyalahi siapa-siapa. Kau adalah kau dan aku senang serta bangga melihat kau apa adanya...."

"Betul ucapanmu itu Wiro?" tanya Ratu Duyung seraya menatap dalam-dalam ke mata Pendekar 212. Dua pasang mata sama beradu pandang. Dua hati berpadu rasa. Dua jantung berdegup penuh cinta.

Wiro tersenyum dan anggukkan kepala.

Entah siapa yang bergerak lebih dulu tahu-tahu dua insan itu telah tenggelam dalam pelukan mesra.

"Wiro..." bisik Ratu Duyung sambil membelai kuduk pemuda itu.

"Hemmm...." Wiro bergumam.

"Seringkali rasa bahagia seperti yang kualami saat ini menipu diriku sendiri. Membuat aku lupa siapa diriku sebenarnya'...."

"Bukankah kukatakan tadi kau adalah kau. Dan aku bangga melihat kau apa adanya..." kata Pendekar 212 balas membelai punggung Ratu Duyung dengan usapan jarijari tangan yang lembut. Ratu Duyung pejamkan kedua matanya. Wajahnya disandarkan di dada kiri Wiro. "Aku suka mendengar kata-katamu itu Wiro. Tapi aku sadar hatiku tak bisa ditipu oleh jalan pikiran. Sebaiknya pikiranku tidak pula dapat ditipu oleh suara hati.

Sesuatu i di lubuk hati ini mendekam sejak lama, tak kuasa aku utarakan. Bahkan mungkin terpaksa harus ku-tanam lebih dalam dan*lebih jauh". Lebih dalam dari pusat bumi. Lebih jauh dari ujung dunia. Biarlah hanya getaran nya saja yang tetap hidup dalam alam-i ku yang serba aneh. Alamku yang tak mungkin bersatu dengan alammu...."

Wiro mendekap pipi Ratu Duyung dengan dua tangannya lalu mengangkat kepala gadis itu. Se-pasang mata biru Ratu Duyung tampak berkaca-kaca. Walau basah oleh air mata tapi di balik segala kedukaan yang ada masih terbayang cahaya bahagia dan mesra. Sudah sejak lama gadis ini membayangkan betapa indah dan mesranya jika berada dalam pelukan Wiro. Semua ini menjadi kenyataan. Mereka bermesraan. Namun sampai berapa lama kemesraan ini akan didapat dan dirasakannya?

"Tuhan.... Jangan kau pupus dan sirnakan kebahagiaan ini dari tanganku...." Suara yang muncul di lubuk hati Ratu Duyung lebih merupakan bayangan ketakutan daripada permintaan. Lehernya yang putih jenjang bergerak-gerak pertanda dia berusaha menahan gelora hatinya. Wiro merunduk. Dengan permukaan bibirnya ditelusurinya leher dan tengkuk yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu. Ratu Duyung merasakan kehangatan yang tak pernah dialaminya sebelumnya. Sesaat terbayang kembali olehnya peristiwa di Purr Pelebur Kutuk. Ketika mereka berdua-dua berada di atas ketiduran tanpa sehelai benang pun menutupi aurat.

Ratu Duyung mendesah halus. Tubuhnya menggeliat. Pelukannya tiba-tiba mengencang seolah Wiro tak akan dilepaskannya untuk selama-lamanya. Wiro merasakan dada basah keringatan berdegup kencang di wajahnya yang memanas. Hampir dia terlupa dan hendak membenamkan wajahnya di belahan dada gadis itu tiba-tiba Wiro ingat, perlahan-lahan ditariknya kepalanya. Dilihatnya wajah Ratu Duyung memerah. Sepasang matanya terpejam, bibirnya yang merah terbuka merenggang dan cuping hidungnya bergerak-gerak.

Wiro ingin sekali mengecup bibir yang bagus dan basah itu. Namun pemuda ini masih dapat menahan diri. Dalam gelora yang membakar darahnya dia masih ingat untuk tidak berbuat lebih jauh. Jangan sampai dorongan hatinya mempengaruhi jalan pikiran.

"Ratu," bisik Wiro di antara desah napasnya yang panas clan menderu. "Tadi kau mengatakan alammu masih berbeda dengan alamku. Padahal setelah peristiwa di Puri itu, bukankah kutukan yang menimpa dirimu telah sirna? Kau bukan lagi makhluk setengah manusia setengah ikan? Kau benar-benar telah menjadi seorang anak manusia, seorang gadis dengan segala kecantikan, keanggunan dan kesucian yang ada."

Sepasang mata Ratu Duyung yang basah masih terpejam. Dua tangannya masih merangkul lembut punggung dan belakang kepala pemuda itu. "Kau betul. Diriku dan juga diri semua anak buahku telah bebas dari kutukan yang menyengsarakan itu. Namun dalam kebahagiaan itu aku juga menyadari. Sekian lama hidup di dasar samudera dalam alam yang berbeda telah menjadikan diriku bersatu men-darah daging dengan alam yang serba aneh itu. Membuat diriku asing di tengah alammu walau wujud diriku tidak beda dengan manusia lainnya. Aku merasa diri ini tidak punya tempat dalam dunia ini...."

"Itu hanya perasaanmu saja Ratu. Perlahan-lahan tapi pasti kau akan terbiasa. Kau kelak akan merasakan betapa bahagianya hidup di dunia ini. Dengan segala masalahnya baik suka maupun duka..."

Ratu Duyung gelengkan kepalanya. Air mata jatuh berderai dari celah-celah barisan bulu matanya yang panjang dan lentik. Mulutnya terbuka namun tidak ada ucapan yang sanggup dikeluarkannya. Hanya suara hatinya yang berkata dan tak mungkin terdengar oleh Wiro. "Kau tidak tahu Wiro, bukan hidup di alammu itu yang menakutkan diriku. Tapi hidup tanpa dirimu di sampingku yang membuat aku seolah merasa mati dalam hidup ini.

Aku boleh tahu besarnya kasih sayang kecintaanku padamu. Tapi aku tidak tahu apakah kau memiliki dan berapa besarnya kasih sayang dan rasa cintamu terhadapku. Yang aku tahu adalah aku tak bakal dapat memiliki dirimu. Ini seperti sudah menjadi takdir. Kau tak akan pernah menjadi milikku. Hati ini tahu, perasaan ini-mengerti, ada seorang iain yang kau kasihi dan kau cintai dengan seputih hatimu. Wiro, setinggi gunung kasih sayangku, sedalam lautan cintaku padamu tapi aku sadar bahwa aku hanya akan meratap dalam kebahagiaanmu bersama gadis lain itu...."

Ratu Duyung berusaha menahan sengguk tangis hingga bahunya terguncangguncang. Wiro peluk gadis ini erat-erat. Terasa kehangatan air mata Ratu Duyung menyentuh dadanya.

"Ratu, kau harus berani menghadapi kenyataan. Hidup yang sebenarnya hidup adalah hidup di alam ini, bukan di alammu. Kita akan bersama-sama. Kita akan berjalan berdampingan dalam suka maupun susah...."

Ratu Duyung angkat kepalanya. Sepasang matanya yang biru dibuka. Menatap lembut penuh mesra. Senyum menyeruak di bibirnya yang bagus. "Semua yang kau ucapkan itu pancaran suara hatimu yang tulus. Tapi Wiro. Tidak mungkin kita bersamasama, berjalan berdampingan dalam suka maupun susah. Karena aku tahu kau bukan milikku. Ada gadis lain yang lebih baik dan cocok untuk dirimu...."

Wiro hendak menggaruk kepalanya mendengar kata-kata Ratu Duyung itu tapi si gadis tersenyum dan pegangi tangan sang pendekar.

"Kau tahu hal itu Wiro. Kau tak akan mau menipu dirimu sendiri. Yang aku pinta saat ini hanyalah izinkan diri ini sedikit lebih lama berada dalam keadaan seperti ini, bermesra berdua-dua dengan dirimu. Karena mungkin ini kesempatanku yang pertama dan yang terakhir...."

"Eh, memangnya kau mau ke mana? Mau melakukan apa?" tanya Wiro.

"Kau bukan milikku tapi milik gadis lain. Cintamu bukan milikku tapi milik seorang lain. Kau harus mengakui itu. Aku tak perlu menyebut siapa adanya gadis itu...."

"Aku...." Wiro gelengkan kepala dan usap pipi sang Ratu dengan jari-jari tangan kanannya. "Kalau kau sudah tahu.... Aku akan berterus-terang padamu. Aku memang pernah menyukai dan mencintai seorang gadis...."

Ratu Duyung pejamkan sepasang matanya yang biru. Jauh di lubuk hatinya seolah ada sembilu menyayat perih. Bibirnya bergetar.

"Tapi aku hanya bertepuk sebelah tangan," terdengar kembali suara Wiro. "Aku senang orang tak suka. Aku sayang orang tak cinta...."

Ratu Duyung perlahan-lahan buka kedua matanya. Gadis ini berusaha menguatkan hatinya untuk bisa berucap.

"Wiro, cinta tak selalu seperti apa yang kita lihat. Bagi seorang gadis cinta yang ada dalam hatinya terhadap seorang pemuda tidak ubahnya seperti gunung es yang kelihatan hanya secuil di permukaan samudera. Bagian cinta yang sangat besar disimpan dan disembunyikan di bawah permukaan laut. Di dalam laut hati sanubarinya. Dipeliharanya baik-baik...."

"Ah, aku tidak mengerti..." ujar Wiro. Kembali dia hendak menggaruk kepala tapi lagi-lagi tangannya dipegang oleh Ratu Duyung.

"Gila! Kepalaku mau pecah rasanya karena gatal! Aku tak bisa menggaruk! Lepaskan peganganmu Ratu."

Ratu Duyung tersenyum. Sambil terus pegangi tangan Wiro dia berkata.

"Sebagian dari keindahan cinta justru adalah pada ketidakmengertian itu Wiro...,"

Perlahan-lahan Ratu Duyung angsurkan wajahnya mendekati wajah Pendekar 212. Murid Eyang Sinto Gendeng ini jadi kelagapan ketika bibir gadis itu menyentuh permukaan bibirnya. Tapi kegelapan si pemuda hanya sebentar. Dilain saat dua insan ini tenggelam dalam kemesraan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

"Wiro..." suara Ratu Duyung bergumam diantara desau napas. Wajahnya disusupkan ke pundak si pemuda dan sepasang matanya melirik ke arah timur, ke balik serumpunan semak belukar. "Sudah pergi.... Dia sudah pergi.... Pasti hatinya akan tersayat perih menyaksikan aku dan pemuda yang dicintainya dalam keadaan begini rupa. Apakah dia bisa mengerti, apakah gadis itu mau memahami. Bahwa hanya ini kebahagiaan hidup yang bisa kudapatkan dan tak lebih dari ini. Aku hanya meminta secuil kebahagiaan ini. Kalau ini satu dosa semoga kau mau memaafkan dan Tuhan mau mengampuni. Sahabat, aku tidak akan menodai diriku dan diri pemuda yang kau kasihi. Kau akan mendapatkan nya sebagai seorang kekasih yang bersih. Aku berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua...."

"Ratu, aku mendengar seperti kau bicara sendirian..." kata Wiro seraya mendekap wajah Ratu Duyung dengan dua tangannya,

"Wiro, kita sudah terlalu lama di tempat ini. Kau tahu kawasan ini kurang amah. Orang-orang Lembah Akhirat bisa muncul setiap saat. Lagipula aku punya firasat ada sesuatu bakal terjadi di dasar telaga. Sebaiknya kita menyusul orang-orang itu masuk ke dalam telaga...."

"Tapi Eyang Sinto Gendeng meminta kita berjaga-jaga di sini...."

"Jika sesuatu akan terjadi pasti akan terjadi walau kita berjaga-jaga bagaimanapun. Mari...." Ratu Duyung memegang lengan Pendekar 212, siap mengajaknya terjun ke dalam air.

"Ratu, kau tahu aku tak mungkin masuk ke dalam air sepertimu, Kecuali kau mendekap dan menyirap diriku seperti yang kau lakukan terhadap orang-orang itu."

"Hemmm...." Sang Ratu meragu sejenak. Kalau dilakukannya apa yang dipinta Wiro yakni memberikan ilmu kemampuan masuk ke dalam telaga dengan cara mendekap, mungkin lain yang akan terjadi. Mungkin salah seorang dari mereka akan lupa diri.

"Guruku ada di dalam telaga. Dia pasti marah besar kalau diketahuinya aku ikut masuk. Padahal dia sudah berpesan agar kita tetap berada di sini untuk berjaga-jaga."

"Aku tahu sifat gurumu. Gampang marah gampang pula baiknya."

"Tapi Ratu mungkin bahaya lebih besar akan menghadang diriku di dalam telaga sana. Walau aku masih mengenakan jubah sakti Kencono Geni dan juga memiliki ilmu tidur yang diberikan Si Raja Penidur tapi aku khawatir...."

"Celaka bisa terjadi di mana-mana. Kalau dihadang, malapetaka malah tak datang. Kalau lengah celaka malah jatuh menimpa."

Wiro terdiam mendengar ucapan Ratu Duyung itu.

"Apa yang kau pikirkan Wiro? Kau takut mati tenggelam dalam air? ingat kejadian setelah geger besar di Pangandaran? Kau dan aku naik kereta kuda. La lu kita sama-sama masuk ke dalam samudera...."

"Ah!" Wiro gerakkan tangan kanannya yang tidak lagi dipegang Ratu Duyung lalu menggaruk kepala sepuas-puasnya. Dia tidak menolak lagi sewaktu Ratu Duyung menarik tangannya untuk kedua kali dan mencebur masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur.

*

* *

LIMAKetika Wiro dan Ratu Duyung bermesraan di tepi telaga seseorang berkelebat ke balik serumpunan semak belukar di sudut telaga tak berapa jauh dari dua muda-mudi itu berada. Orang ini mengenakan pakaian biru, berambut panjang pirang. Bau tubuh dan pakaiannya- yang harum menebar ke mana-mana. Bau harum inilah yang membuat Ratu buyung menyadari bahwa ada seseorang bersembunyi tak jauh dari tempat itu. Wiro sendiri karena telah hilang kesaktiannya tidak mampu mencium bau harum tersebut. Dari bau wangi tersebut Ratu Duyung sudah bisa memperkirakan siapa adanya orang tersebut.

Sambil terus bercakap-cakap dengan Wiro, Ratu Duyung menyelidik, Memandang berkeliling akhirnya dia mengetahui bahwa orang itu bersembunyi di baiik serumpunan semak belukar. Rasa berdosa tiba-tiba saja muncul dalam hati Ratu Duyung. Tapi sebagai manusia biasa yang tidak luput dari pengaruh perasaan, apalagi perasaan seorang perempuan yang selalu mempunyai rasa cemburu dan rasa ingin memiliki seseorang, maka Ratu Duyung tidak memberitahukan kehadiran orang itu pada Wiro. Dia juga tak mau memutus percakapan dan buru-buru pergi dari tempat itu. Apa salahnya kalau saat itu dia boleh mereguk sedikit kebahagiaan, berdua-dua bermesraan dengan orang kepada siapa dia berhutang budi dan kepada siapa cinta kasihnya tercurah.

Lain halnya dengan orang yang bersembunyi di balik semak-semak yang bukan lain Bidadari Angin Timur adanya. Gad is ini merasa sekujur tubuhnya bergeletar laksana dipanggang menyaksikan Wiro bermesraan dengan Ratu Duyung. Jari-jari tangannya terkepal dan dua matanya menyorotkan sinar marah penuh cemburu! Kalau dia tidak berpikir panjang saat itu juga mau dia melompat keluar dan melabrak kedua orang itu. Tetapi begitu pikiran jernih memasuki kepalanya maka perlahan-lahan gadis ini bisa menguasai dirinya. Malah diam-diam dia menyadari mungkin semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Selama ini dia mengambil sikap curiga dan selalu menjauhi Wiro. Apa yang harus disesalinya kalau kini pemuda itu jatuh ke tangan gadis lain? Namun bagaimanapun dia ingin berpikir jernih, rasa mementingkan diri sendiri tidak mungkin dipupusnya sama sekali.

"Ratu Duyung, ternyata kau adalah gadis gampangan. Dan kau Wiro, kau tak lebih dari seorang pemuda mata keranjang yang sanggup bercinta dengan siapa saja dan tega melukai hati setiap gadis..."

Bidadari Angin timur bersimpuh di tanah. Wajahnya ditutup dengan sepasang tangannya yang berjari-jari halus. "Apa yang harus aku lakukan? Menangis? Berteriak marah! Atau lebih baik kupukul sendiri kepala ini hingga pecah?! Aku mencarinya ke teluk. Dari kabar yang kudapat katanya dia dalam bahaya. Ternyata kini dia berada di tepi telaga. Bercinta dengan Ratu murahan itu!"

Bidadari Angin Timur turunkan kedua tangannya. Wajahnya menjadi sangat merah. Dua matanya laksana kobaran api. Cepat-cepat kepalanya dipalingkan ke jurusan lain. Tak sanggup dia menyaksikan bagaimana Ratu Duyung dan Wiro Sableng saling berkecupan.

"Mesum.... Hidup ini ternyata penuh kemesuman!" jerit Bidadari Angin Timur.

Tinjunya kiri kanan dipukul-pukulkannya ke paha. Tiba-tiba dia mendengar suara sesuatu masuk ke dalam telaga. Ketika dia menoleh Ratu Duyung dan Pendekar 212 Wiro Sableng tak ada lagi di tempat itu.

"Mereka masuk ke dalam telaga. Aku harus menyelidik apa yang mereka lakukan. Jangan-jangan Ratu itu memiliki istana di dalam telaga. Tempat mereka berdua bisa berbuat apa saja. Aku harus masuk ke dalam telaga! Harus! Tapi tak mungkin.... Walau aku bisa berenang tak mungkin mampu bertahan lama dalam telaga itu!" Kembali si gadis dibuncah perasaan marah dan cemburu. Dia melangkah mondar-mandir. Dia berpikir keras apa yang harus dilakukannya agar kedua orang itu segera keluar dari dalam telaga. "Aku tak mungkin membakar telaga ini! Aku juga tak punya racun untuk ditebar hingga mereka sesak napas dan terpaksa keluar dari dalam air. Apa yang harus kulakukan! Apa!!!"

Selagi dia melangkah mondar-mandir di tepi telaga seperti itu tiba-tiba saja sesosok tubuh berjubah hitam tegak di hadapannya. Dia melihat sepasang tangan berkuku panjang. Lalu dia mendengar suara tawa cekikikan.

"Gadis cantik berlesung pipit! Kita bertemu lagi! Hik... hik... hik!"

Bidadari Angin Timur angkat kepalanya. Dia melihat satu wajah bundar putih penuh keriput. Rambut putih yang dulu dilihatnya digulung di atas kepala kini tergerai lepas riapriapan. Orang ini semakin jauh lebih tua daripada ketika pertama kali ditemuinya.

"Nenek Sika Sure jelantik..." ujar Bidadari Angin Timur.

Si nenek tertawa panjang. "Aku senang kau masih ingat namaku. Padahal aku tak pernah tahu siapa namamu! Hik..; hik... hik!"

"Nenek Sika aku gembira bisa bertemu lagi denganmu. Apa yang membawamu ke Telaga Gajahmungkur ini?" bertanya si gadis.

"Justru aku yang ingin bertanya. Apa yang membuatmu hingga berada di tempat ini! Hik... hik... hik! Dari cahaya matamu, dari rona air mukamu aku menduga keras kau berada dalam gelombang perasaan hati yang sulit kau kendalikan! Betul kan...?! Hik... hik... hik!"

Bidadari Angin Timur tidak menjawab. Gadis ini cuma menatap dengan tersenyum pada si nenek.

"Ah, kau tersenyum. Sepasang lesung pipit itu masih ada di kedua pipimu. Anakku, kau ingat pertemuan kita pertama kali, dulu. Aku menemuimu, dalam keadaan menangis berurai air mata. Sekarang pun kulihat sepasang matamu yang bagus basah oleh air mata. Wajahmu menunjukkan adanya pukulan hati yang sangat berat. Sinar matamu seolah menyembunyikan satu dendam kesumat. Anakku, apakah ini menyangkut persoalan dulu juga? Masih ada hubungannya dengan pemuda yang kau bilang bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212 itu? (Mengenal pertemuan pertama Sika Sure jelantik dengan Bidadari Angin Timur harap lihat Episode Asmara Darah Tua Gila)

Bidadari Angin Timur mengangguk perlahan. "Kau tentu masih ingat Nek, waktu itu kukatakan terus terang padamu ada satu ganjalan yang membuat aku tak mau berterus terang pada pemuda itu bahwa aku mencintainya. Aku mengambil sikap rnenjauhinya. Aku tak mau menjadi bahan permainan cinta murahnya. Karena aku tahu banyak gadis cantik mengelilinginya. Semua menaruh hati pada pemuda itu. Dan barusan saja aku melihat dia bercinta bermesra dengan salah satu dari gadis itu. Di depan mataku. Mereka berpegangan tangan, saling berangkulan. Ma lah aku saksikan sendiri mereka...." Si gadis tidak sanggup lanjutkan ucapannya. Kepalanya digelengkan beberapa kali. Air mata menggelinding jatuh ke pipinya yang merah.

Sika Sure Jelantik usap kepala Bidadari Angin Timur. Seperti diketahui nenek satu ini adalah seorang berhati keras dan kejam. Namun bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan yang ikut merasa pilu melihat kesedihan yang diderita perempuan iain. Apalagi terhadap Bidadari Angin Timur yang sudah dianggapnya sebagai cucu atau anak sendiri.

"Anakku, seperti yang aku bilang dulu. Kau menanam pohon beracun dalam tubuhmu sendiri. Semakin jauh hari berlalu semakin tinggi pohon itu mencuat ke kepalamu dan semakin dalam akarnya menghunjam ke kakimu. Kau harus segera mengambil keputusan. Menemui pemuda itu dan mengatakan terus terang bahwa kau mencintainya...."

"Aku tak sanggup melakukan itu Nek. Tidak ada seorang gadis pun yang mau berbuat begitu bagaimanapun besar cintanya terhadap seorang pemuda..."

"Kalau begitu kau mungkin terpaksa harus meninggalkannya...."

"Itu sama saja dengan bunuh diri!"

Sika Sure Jelantik tertawa panjang. "Anakku, itulah kehebatan cinta! Bisa membunuh orang secara pelan-pelan bahkan bisa secara cepat! Nasib diriku sebagai contohnya. Sampai saat ini tanganku sudah gatal untuk membunuh bekas kekasihku yang serong dimasa muda! Tapi belum juga kesampaian!"

"Nek, kalau seandainya kau bertemu dengan dia dan dia meminta maaf dengan setulus hati, bagaimana jawabmu?!"

"Pertanyaan gila sekali!" tukas Sika Sure Jelantik. "Dia memang pernah menunjukkan sikap menyesal dan minta maaf. Tapi apakah harga diriku ini hanya sebatas penyesalan dan permintaan maaf? Aku sudah keburu berkubang dalam rasa malu setinggi langit sedalam lautan! Lalu suatu hari dia datang cengar-cengir bicara segala macam penyesalan dan minta maaf. Tidak anakku! Sika Sure Jelantik bukan perempuan berhati loyang. Tapi juga tidak memiliki hati emas! Dan sebagai perempuan hatimu dengan hatiku mungkin berbeda. Buktinya kau hanya diam saja ketika menyaksikan mereka bercinta di tepi telaga di depan mata kepalamu!"

"Nek, apa betul kadangkala cinta itu adalah pengorbanan...?"

Sika Sure Jelantik tertawa gelak-gelak. "Pengorbanan adalah istilah orang yang berada dalam keadaan dikalahkan dan lemah tak bisa berbuat apa. Apakah kau merasa orang yang dikalahkan dalam merebut hati pemuda pujaanmu itu anakku?"

Paras Bidadari Angin Timur kelihatan bersemu merah.

"Apakah kau tak bisa lagi mengalihkan cintamu pada pemuda lain?"

"Dia adalah pemuda pertama dan yang terakhir yang aku cintai Nek. Hati dan cinta kasihku hanya untuk dia seorang walau mungkin aku tidak akan mendapatkannya...."

"Lalu kau mau menjadi perawan tua yang patah hati! Sungguh tolol perbuatanmu anakku! Hidup hanya satu kali, jangan disia-siakan...."

"Tapi bagaimana dengan dirimu sendiri Nek? Setelah kekasihmu mengkhianati dirimu, apa kau sanggup berpaling pada lelaki lain?"

"Itu pertanyaan gila! Aku tak mau menjawab!" kata Sika Sure Jelantik seraya bantingkan kaki kanannya hingga tepian telaga itu terasa bergetar. "Sekarang aku mau tanya. Apa yang membuatmu berada di Telaga Gajahmungkur ini. Kau boleh punya seribu alasan cinta! Tapi pasti ada satu hal lain...."

"Tidak ada alasan lain Nek. Setelah aku menyirap kabar pemuda itu bersama serombongan para tokoh silat tengah bergerak ke telaga maka aku segera ke sini. Aku memang menemuinya. Tapi sedang...."

"Sekarang di maha beradanya pemuda itu?" tanya si nenek.

"Aku tidak tahu Nek. Mungkin sekali mereka masuk ke dalam telaga...." Menerangkan Bidadari Angin Timur.

Terkejutlah si nenek mendengar hal itu. "Dengar, aku pernah bertemu dan menolong seorang gadis tak dikenal. Tololnya aku tidak tahu namanya. Tapi ciri-cirinya berkulit putih, rambut panjang hitam dan pakaian merah. Menurut ceritanya dia tengah mencari sebuah batu hitam di Telaga Gajahmungkur ini. Batu itu berkhasiat untuk menyembuhkan ibunya yang sedang sakit. Pertanyaanku, apakah kau melihat gadis dengan ciri-ciri yang aku katakan itu?"

Bidadari Angin Timur menggeleng.

"Apa warna pakaian gadis yang bercinta dengan Pendekar 212?" tanya si nenek menyelidik lebih jauh.

"Hitam...."

Sika Sure jelantik mendongak ke langit lalu menatap tajam ke arah telaga. "Setahuku Pendekar 212 tidak memiliki ilmu menyelam dalam air. Jika dia berani masuk ke dalam telaga berarti ada seseorang yang membekalinya ilmu. Hanya ada satu orang memiliki kepandaian seperti itu. Ratu Duyung. Tapi sang Ratu tak pernah mengenakan pakaian hitam...."

"Gadis berpakaian hitam bersama Pendekar 212 itu memang Ratu Duyung Nek," menjelaskan Bidadari Angin Timur.

"Hah?!" Si nenek tersentak kaget. "Kenapa tidak kau beri tahu dari tadi! Ratu Duyung dan Pendekar 212 ada dalam telaga! Beberapa tokoh silat katamu sebelumnya telah menuju ke sini tapi tak kelihatan mata hidungnya! Jangan-jangan mereka sudah berkumpul di dasar telaga sana! Pasti ada sesuatu! Anakku, ayo kau lekas ikut bersamaku ke dalam telaga!"

"Aku tak bisa Nek...."

"Aku akan berikan ilmu menyelam seratus hari padamu!"

"Bukan itu masalahnya Nek. Aku hanya tak ingin masuk ke dalam telaga. Kuharap kau bisa memahami..."

"Hemmm.... Baik. Aku bisa memahami. Jika bertemu dengan Pendekar 212 biar aku memberi pelajaran padanya sampai nyawanya lepas dari badan!"

"Kuharap kau tidak melakukan hal itu Nek," memohon Bidadari Angin Timur.

Si nenek tersenyum. "Kau benar-benar mencintai pemuda itu. Tapi aku tak bisa menjamin apa aku akan membunuhnya atau tidak...." Tanpa menunggu jawaban Bidadari Angin Timur si nenek segera saja melompat masuk ke dalam Telaga Gajahmungkur.

*

* *

ENAMSeperti diceritakan dalam Episode sebelumnya (Rahasia Cinta Tua Gila) Puti Andini telah ditelan oleh ular naga betina. Sebelumnya gadis ini menyaksikan bagaimana naga betina itu menyedot dan menelan batu putih sebesar dua kepalan tangan yang ditemukannya di dasar telaga.

Ketika tubuhnya disedot dan siap ditelan oleh naga betina itu Puti Andini berusaha selamatkan diri dengan coba menghantamkan satu: pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Pukulan diarahkan tepat ke arah tanduk hijau yang mencuat di atas kepala naga betina. Namun belum sempat dia menghantam ular naga tiba-tiba ulurkan lidahnya yang bercabang, langsung melibat tubuh si gadis. Dalam keadaan tak berdaya, sekali lidah menyentak maka tubuh Puti Andini pun lenyap ke dalam mulut binatang itu. Si gadis menjerit keras. Namun jeritannya tidak terdengar karena tubuhnya sudah berada dalam mulut ular naga. Dilanda rasa takut yang amat sangat gadis ini akhirnya pingsan. Tubuhnya melayang masuk ke dalam tenggorokan, terus amblas ke perut ular naga.

Puti Andini, cucu Sabai Nan Rancak dan Tua Gila ini tidak tahu berapa lama dia berada dalam keadaan pingsan. Ketika dia siuman pertama sekali yang didengarnya adalah suara hentakan keras duk... duk... duk... tak berkeputusan. Tubuhnya bergetar dan tersentak-sentak setiap suara itu terdengar. Lalu ada hawa sangat dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. Demikian dinginnya hingga dia merasa kulit dan daging tubuhnya seolah disayat-sayat. Dalam keadaan seperti itu dia merasa dadanya sesak dan jalan napasnya seperti tertutup.

Perlahan-lahan Puti Andini buka kedua matanya. Dia dapatkan dirinya terbaring di dalam satu lorong redup berlantai tertutup cairan sangat licin berwarna kemerahan. Ada bau tidak enak menyengat hidungnya. Gadis ini coba berdiri. Tapi untuk sesaat dia hanya mampu duduk. Saat itulah dia merasa ada cairan hangat di bawah hidungnya, sekitar pipi sementara sepasang matanya terpaksa setengah dipejamkan karena hawa dingin aneh serta bau menusuk di tempat itu membuat matanya menjadi perih. Dirabanya bagian bawah hidungnya. Jari-jari tangannya menyentuh cairan hangat. Ketika diperhatikannya ternyata darah.

"Ada darah keluar dari hidungku...."

Put! Andini mengusap pipinya kiri kanan. "Darah lagi.... Yang ini keluar dari dua liang telinga.... Aku.... Suara duk... duk... duk yang seperti hantaman palu itu...." Dia membutuhkan waktu beberapa saat sebelum menyadari bahwa saat itu dia berada dalam tubuh ular naga betina. Dihunjam oleh rasa takut gadis ini cepat tegak berdiri. Kakinya terpeleset oleh licinnya lantai yang dipijaknya yang bukan lain adalah perut besar ular naga betina! Dia mencoba bangkit lagi sambil tangannya menggapai sesuatu di atas kepalanya untuk tempat bergayut. Saat itu terdengar suara menggemuruh. Si gadis terpelanting dan terpekik ketika tiba-tiba lorong perut ujar di mana dia berada saat itu berputar kencang dan membantingkan tubuhnya hingga jungkir balik lalu meluncur sejauh beberapa tombak. Sesaat kemudian Puti Andini dapatkan dirinya berada dalam cairan busuk setinggi betis.

"Aku meluncur. Ke arah mana...? Mungkin ke bagian ekor atau ke arah kepala? Napasku sesak.,.. Mataku perih.... Kepalaku seperti mau pecah! Agak-nya aku akan menemui ajal dalam perut binatang ini! Aku tidak mau mati di sini. Aku harus melakukan sesuatu...."

Anehnya pada saat-saat seperti itu tiba-tiba muncul bayangan wajah seorang gagah yang telinga kanannya memakai anting-anting. "Panji..." desis Puti Andini. "Pemuda itu...... ( lanjutkan membaca setelah login gratis di sini )
Auto Promo BLOGGER Auto Promo INSTAGRAM Auto Promo TWITTER Auto Promo FACEBOOK Auto Promo LINKEDIN
JUDUL
Wiro Sableng #1 : Empat Berewok Dari Goa Sanggreng
Wiro Sableng #10 : Banjir Darah Di Tambun Tulang
Wiro Sableng #100 : Dendam Dalam Titisan
Wiro Sableng #101 : Gerhana Di Gajahmungkur
Wiro Sableng #102 : Bola Bola Iblis
Wiro Sableng #103 : Hantu Bara Kaliatus
Wiro Sableng #104 : Peri Angsa Putih
Wiro Sableng #105 : Hantu Jatilandak
Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung
Wiro Sableng #107 : Hantu Tangan Empat
Wiro Sableng #108 : Hantu Muka Dua
Wiro Sableng #109 : Rahasia Kincir Hantu
Wiro Sableng #11 : Raja Rencong Dari Utara
Wiro Sableng #110 : Rahasia Patung Menangis
Wiro Sableng #111 : Hantu Langit Terjungkir
Wiro Sableng #112 : Rahasia Mawar Beracun
Wiro Sableng #113 : Hantu Santet Laknat
Wiro Sableng #114 : Badai Fitnah Latanahsilam
Wiro Sableng #115 : Rahasia Perkawinan Wiro
Wiro Sableng #116 : Hantu Selaksa Angin
Wiro Sableng #117 : Muka Tanah Liat
Wiro Sableng #118 : Batu Pembalik Waktu
Wiro Sableng #119 : Istana Kebahagiaan
Wiro Sableng #12 : Pembalasan Nyoman Dwipa
Wiro Sableng #120 : Kembali Ke Tanah Jawa
Wiro Sableng #121 : Tiga Makam Setan
Wiro Sableng #122 : Roh Dalam Keraton
Wiro Sableng #123 : Gondoruwo Patah Hati
Wiro Sableng #124 : Makam Ketiga
Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
Wiro Sableng #126 : Badik Sumpah Darah
Wiro Sableng #127 : Mayat Persembahan
Wiro Sableng #128 : Si Cantik Dalam Guci
Wiro sableng #129 : Tahta Janda Berdarah
Wiro Sableng #13 : Kutukan Empu Bharata
Wiro Sableng #130 : Meraga Sukma
Wiro Sableng #131 : Melati Tujuh Racun
Wiro Sableng #132 : Kutukan Sang Badik
Wiro Sableng #133 : 113 Lorong Kematian
Wiro Sableng #134 : Nyawa Kedua
Wiro Sableng #135 : Rumah Tanpa Dosa
Wiro Sableng #136 : Bendera Darah
Wiro Sableng #137 : Aksara Batu Bernyawa
Wiro Sableng #138 : Pernikahan Dengan Mayat
Wiro Sableng #14 : Sepasang Iblis Betina
Wiro Sableng #140 : Misteri Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #141 : Kematian Kedua
Wiro Sableng #142 : Kitab Seribu Pengobatan
Wiro Sableng #143 : Perjanjian Dengan Roh
Wiro Sableng #144 : Nyi Bodong
Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis
Wiro Sableng #146 : Azab Sang Murid
Wiro Sableng #147 : Api Di Puncak Merapi
Wiro Sableng #148 : Dadu Setan
Wiro Sableng #149 : Si Cantik Dari Tionggoan
Wiro Sableng #15 : Mawar Merah Menuntut Balas
Wiro Sableng #150 : Misteri Pedang Naga Merah
Wiro Sableng #151 : Sang Pembunuh
Wiro Sableng #152 : Petaka Patung Kamasutra
Wiro Sableng #153 : Misteri Bunga Noda
Wiro Sableng #154 : Insan Tanpa Wajah
Wiro Sableng #155 : Sang Pemikat
Wiro Sableng #156 : Topan Di Gurun Tengger
Wiro Sableng #157 : Nyawa Titipan
Wiro Sableng #158 : Si Cantik Gila Dari Gunung Gede
Wiro Sableng #159 : Bayi Satu Suro
Wiro Sableng #16 : Hancurnya Istana Darah
Wiro Sableng #160 : Dendam Mahluk Alam Roh
Wiro Sableng #161 : Perjodohan Berdarah
Wiro Sableng #162 : Badai Laut Utara
Wiro Sableng #163 : Cinta Tiga Ratu
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk
Wiro Sableng #165 : Bayi Titisan
Wiro Sableng #166 : Kupu-Kupu Giok Ngarai Sianok
Wiro Sableng #167 : Fitnah Berdarah Di Tanah Agam
Wiro Sableng #168 : Mayat Kiriman Di Rumah Gadang
Wiro Sableng #169 : Bulan Sabit Di Bukit Patah
Wiro Sableng #17 : Lima Iblis Dari Nanking
Wiro Sableng #170 : Kupu-Kupu Mata Dewa
Wiro Sableng #171 : Malam Jahanam Di Mataram
Wiro Sableng #172 : Empat Mayat Aneh
Wiro Sableng #173 : Roh Jemputan
Wiro Sableng #174 : Dua Nyawa Kembar
Wiro Sableng #175 : Sepasang Arwah Bisu
Wiro Sableng #176 : Dewi Kaki Tunggal
Wiro Sableng #177 : Jaka Pesolek Penangkap Petir
Wiro Sableng #178 : Tabir Delapan Mayat
Wiro Sableng #18 : Pendekar Pedang Akhirat
Wiro Sableng #180 : Sesajen Atap Langit
Wiro Sableng #181 : Selir Pamungkas
Wiro Sableng #182 : Delapan Pocong Menari
Wiro Sableng #183 : Bulan Biru Di Mataram
Wiro Sableng #184 : Dewi Dua Musim
Wiro Sableng #185 : Jabang Bayi Dalam Guci
Wiro Sableng #19 : Pendekar Dari Gunung Naga
Wiro Sableng #2 : Maut Bernyanyi Di Pajajaran
Wiro Sableng #20 : Hidung Belang Berkipas Sakti
Wiro Sableng #21 : Neraka Puncak Lawu
Wiro Sableng #22 : Siluman Teluk Gonggo
Wiro Sableng #23 : Cincin Warisan Setan
Wiro Sableng #24 : Penculik Mayat Hutan Roban
Wiro Sableng #25 : Cinta Orang Orang Gagah
Wiro Sableng #26 : Iblis Iblis Kota Hantu
Wiro Sableng #27 : Khianat Seorang Pendekar
Wiro Sableng #28 : Petaka Gundik Jelita
Wiro Sableng #29 : Bencana Di Kuto Gede
Wiro Sableng #3 : Dendam Orang-orang Sakti
Wiro Sableng #30 : Dosa Dosa Tak Berampun
Wiro Sableng #31 : Pangeran Matahari Dari Puncak Merapi
Wiro Sableng #32 : Bajingan Dari Susukan
Wiro Sableng #33 : Panglima Buronan
Wiro Sableng #34 : Munculnya Sinto Gendeng
Wiro Sableng #35 : Telaga Emas Berdarah
Wiro Sableng #36 : Dewi Dalam Pasungan
Wiro Sableng #37 : Maut Bermata Satu
Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
Wiro Sableng #39 : Kelelawar Hantu
Wiro Sableng #4 : Keris Tumbal Wilayuda
Wiro Sableng #40 : Setan Dari Luar Jagad
Wiro Sableng #41 : Malaikat Maut Berambut Salju
Wiro Sableng #42 : Badai Di Parang Tritis
Wiro Sableng #43 : Dewi Lembah Bangkai
Wiro Sableng #44 : Topeng Buat WIRO SABLENG
Wiro Sableng #45 : Manusia Halilintar
Wiro Sableng #46 : Serikat Setan Merah
Wiro Sableng #47 : Pembalasan Ratu Laut Utara
Wiro Sableng #48 : Memburu Si Penjagal Mayat
Wiro Sableng #49 : Srigala Iblis
Wiro Sableng #5 : Neraka Lembah Tengkorak
Wiro Sableng #50 : Mayat Hidup Gunung Klabat
Wiro Sableng #51 : Raja Sesat Penyebar Racun
Wiro Sableng #52 : Guna Guna Tombak Api
Wiro Sableng #53 : Kutukan Dari Liang Kubur
Wiro Sableng #54 : Pembalasan Pendekar Bule
Wiro Sableng #55 : Misteri Dewi Bunga Mayat
Wiro Sableng #56 : Ratu Mesum Bukit Kemukus
Wiro Sableng #57 : Nyawa Yang Terhutang
Wiro Sableng #58 : Bahala Jubah Kecono Geni
Wiro Sableng #59 : Peti Mati Dari Jepara
Wiro Sableng #6 : Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga
Wiro Sableng #60 : Serikat Candu Iblis
Wiro Sableng #61 : Makam Tanpa Nisan
Wiro Sableng #62 : Kamandaka Si Murid Murtad
Wiro Sableng #63 : Neraka Krakatau
Wiro Sableng #64 : Betina Penghisap Darah
Wiro Sableng #65 : Hari-Hari Terkutuk
Wiro Sableng #66 : Singa Gurun Bromo
Wiro Sableng #67 : Halilintar Di Singosari
Wiro Sableng #68 : Pelangi Di Majapahit
Wiro Sableng #69 : Ki Ageng Tunggul Keparat
Wiro Sableng #7 : Tiga Setan Darah & Cambuk Api Angin
Wiro Sableng #70 : Ki Ageng Tunggul Akhirat
Wiro Sableng #71 : Bujang Gila Tapak Sakti
Wiro Sableng #72 : Purnama Berdarah
Wiro Sableng #73 : Guci Setan
Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang
Wiro Sableng #75 : Harimau Singgalang
Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
Wiro Sableng #77 : Kepala Iblis Nyi Gandasuri
Wiro Sableng #78 : Pendekar Gunung Fuji
Wiro Sableng #79 : Ninja Merah
Wiro Sableng #8 : Dewi Siluman Bukit Tunggul
Wiro Sableng #80 : Sepasang Manusia Bonsai
Wiro Sableng #81 ; Dendam Manusia Paku
Wiro Sableng #82 : Dewi Ular
Wiro Sableng #83 : Wasiat Iblis
Wiro Sableng #84 : Wasiat Dewa
Wiro Sableng #85 : Wasiat Sang Ratu
Wiro Sableng #86 : Delapan Sabda Dewa
Wiro Sableng #87 : Muslihat Para Iblis
Wiro Sableng #88 : Muslihat Cinta Iblis
Wiro Sableng #89 : Geger Di Pangandaran
Wiro Sableng #9 : Rahasia Lukisan Telanjang
Wiro Sableng #90 : Kiamat Di Pangandaran
Wiro Sableng #91 : Tua Gila Dari Andalas
Wiro Sableng #92 : Asmara Darah Tua Gila
Wiro Sableng #93 : Lembah Akhirat
Wiro Sableng #94 : Pedang Naga Suci 212
Wiro Sableng #95 : Jagal Iblis Makam Setan
Wiro Sableng #96 : Utusan Dari Akhirat
Wiro Sableng #98 : Rahasia Cinta Tua Gila
Wiro Sableng #99 : Wasiat Malaikat


LOAD MORE INSPIRATIONS...

© www&mdot;nomor1&mdot;com · [email protected]&mdot;com · terms of use · privacy policy · 54.158.25.146
team developer · pt excenture indonesia · central park podomoro city · jakarta indonesia